Menu

Mode Gelap
Artificial Intelligence”Oleh: Adharta ketua umum KRIS PN Tangerang bersama Tim Kuasa Hukum Herman Darma Gelar Constatering Jelang Eksekusi, 4 Titik Lahan Diukur Pemerintah Desa Tanggunggunung Gelar Musdes Sosialisasi & Pembentukan Panitia Pengisian BPD Tahun 2026 Pemerintah Desa Ngrejo Gelar Musdes Sosialisasi & Pembentukan Panitia Pengisian BPD Tahun 2026 Pembentukan Panitia Pengisian BPD Tahun 2026 Oleh Pemdes Pakisrejo Pemerintah Desa Tenggarejo Gelar Musdes Sosialisasi & Pembentukan Panitia Pengisian BPD Tahun 2026

Jakarta

Artificial Intelligence”Oleh: Adharta ketua umum KRIS

badge-check


					Artificial Intelligence”Oleh: Adharta ketua umum KRIS Perbesar

Ir Adharta ketum KRIS menjadi Cover majalah dan merek media olahraga paling popular dan berpengaruh di dunia

Jakarta, Juni , Liputan Nusantara (LN), Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan semua tempat penelitian, instruksi, dan aplikasi yang berkaitan dengan pemrograman komputer. Tujuannya untuk melakukan suatu hal yang dianggap cerdas oleh manusia. ( menurut H.A.Simon). Sementara menurut Kristianto mendefinisikan sebagai salah satu bagian dari ilmu pengetahuan komputer yang dibuat secara khusus untuk perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam suatu sistem kecerdasan di perangkat komputer.sementara pendapat Rich & Knight Mereka berpendapat kecerdasan buatan merupakan sebuah studi tentang cara komputer dapat melakukan hal-hal yang dapat dilakukan lebih baik oleh manusia. (dikutip dari tiro.id)

Lapangan golf dg background nunjukin konteks olah raga golf,lengan robot analisis ayunan

Masa depan periksa dokter sekali cek langsung ketahuan tensi, kondisi darah sampai Risiko kanker.semua data medis pasien dalam satudashboard, jadi dokter bisa ambil Keputusan dengan cepat dan tepat.

Dalam WAG Adharta, mengisahkan Seharian bermain golf bersama sahabat karib di Sentul Highland Sabtu 20 Juni 2026, menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuka wawasan. Di sela-sela ayunan stik golf, dari backswing hingga follow-through, percakapan kami mengalir ke satu topik yang kini hampir tidak pernah absen dalam setiap diskusi: yaitu tentang “Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Memang benar, ke mana pun kita pergi ujar Adharta yang ketua umum KRIS ini , pembicaraan tentang AI selalu terasa menarik. Teknologi ini bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan telah menjadi bagian nyata dari kehidupan sehari-hari. Dari bisnis hingga kesehatan, dari pendidikan hingga hiburan, AI telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Salah satu topik yang kami bahas adalah bagaimana kemajuan teknologi saat ini berjalan beriringan dengan lonjakan peran AI. Perkembangan nya begitu cepat, bahkan sering kali melampaui ekspektasi kita. Negara-negara besar pun berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dalam pengembangan teknologi ini.
Salah satunya adalah Tiongkok, yang dikenal sangat serius dalam mengembangkan dan mengimplementasikan AI. Jika Anda berkunjung ke Shanghai kata Adharta, Anda akan langsung merasakan bagaimana AI hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari sistem pembayaran tanpa kasir di toko, layanan Mal besar pelanggan berbasis robot, hingga informasi pariwisata yang sepenuhnya terintegrasi dengan kecerdasan buatan. Semua terasa efisien, cepat, dan hampir tanpa hambatan.Pagi ini, saya menerima telepon dari bapak Dwi Helly.
Beliau menyampaikan bahwa akan mengikuti sebuah seminar tentang AI. Hal ini semakin menguatkan pemikiran saya bahwa KRIS ke depan juga perlu mengadakan seminar serupa. Kita perlu menghadirkan para ahli sambung Adharta lagi, membuka wawasan anggota, dan mempersiapkan diri menghadapi era baru ini. Bayangkan jika kita bisa menghadirkan tokoh seperti Profesor Pitoyo yang sekarang berdomisili di Tokyo Jepang, dan yang dikenal sebagai pelopor robot Gundam dunia dan guru besar AI Beliau adalah, putra dari Profesor Ping Hartono sahabat saya yang juga merupakan anggota KRIS Beliau bisa dapat menjadi jembatan untuk kolaborasi internasional. Ini bukan sekadar gagasan, tetapi peluang nyata yang harus kita tangkap. Pembicaraan kami kemudian berkembang ke arah yang lebih dalam, khususnya tentang dampak AI di bidang Kesehatan
Saya sempat bertanya, bukankah selama ini jika kita sakit, kita perlu datang ke dokter, melakukan konsultasi, diperiksa secara langsung, lalu menjalani tes seperti darah, tekanan darah, atau suhu tubuh sebelum mendapatkan diagnosis dan pengobatan? Namun kini, bayangkan sebuah sistem di mana seseorang cukup datang, melakukan scan kornea mata, dan seluruh pemeriksaan dapat dilakukan secara lengkap. Dari analisis darah, deteksi kondisi jantung melalui EKG, pemeriksaan otak melalui ECG, hingga deteksi dini kanker semuanya bisa dilakukan dalam waktu singkat.
Apakah itu benar-benar mungkin?Saat pertanyaan itu saya lontarkan, partner golf saya hanya tersenyum dan memberikan komentar ringan. Kami pun tertawa bersama. Namun di balik tawa itu, tersimpan kesadaran bahwa hal-hal yang dulu terasa mustahil kini perlahan menjadi kenyataan. Bahkan dalam olahraga seperti golf, AI mulai digunakan untuk menganalisis teknik permainan. Dari posisi tubuh, sudut ayunan, hingga ritme Gerakan semuanya dapat dipelajari dan diperbaiki secara instan.
Apakah suatu hari nanti sekolah sampai universitas akan kehilangan relevansinya?tanya Adharta.
Menurut saya sambungnya lagi, masa depan bukanlah tentang manusia melawan AI, tetapi tentang bagaimana manusia dan AI dapat berjalan bersama. AI tidak akan menggantikan manusia sepenuhnya, tetapi manusia yang mampu memanfaatkan AI dengan baik akan menggantikan mereka yang tidak Kita tidak perlu takut pada perubahan, tetapi kita harus siap menghadapinya.
Dalam WAG romo Martin Harun mengatakan dalam suatu zoominar oleh Catholic Climate Covenant minggu lalu mengenai pandangan Gereja Katolik tentang AI ( berdasarkan dokumen Antiqua et Nova) berakhir dengan anjuran untuk mendorong detoksifikasi AI sebagai pantangan Masa Prapaskah Antara lain dengan cara ini: Sebagaimana penulis (Ringo) publikasikan di media ini edisi Maret 25 dibawah judul “Pandangan Gereja Katolik tentang Artificial Intelligence (AI)”
1. Menonaktifkan aplikasi-aplikasi yang didukung AI di ponsel Anda.
2. Menulis sendiri.
3. Menghindari gamba-gambar konyol yang bisa dihasilkan oleh AI (jutaan setiap hari).
4. Time-out dalam main game yang didukung AI.
5. Tidak menggunakan aplikasi AI untuk searching di internet. Searching biasa bisa sampai 10x lebih ringan ongkos ekologis dan sosialnya.
Mengapa perlu melakukannya? Tanya romo Martin
Selain banyak manfaat yang diakui dan disyukuri oleh Gereja dalam Antiqua et Nova, tidak boleh kita lupakan bahwa AI tidak datang tanpa ongkosnya : membawa kerugian dan ketidakadilan ekologis dan sosial yang tak bisa diremehkan.
Karena itu, kita diajak memakai AI dengan bijaksana dan sejauh perlu saja; dan tidak membiarkan diri diracuni olehnya, sambil membawa kerugian pada bumi dan masyarakat lemah.
Pantangan masa Prapaskah mengikuti perkembangan zaman: kali ini mendorong detoksifikasi AI, Artificial Intelligence, Akal Imitasi (bagus betul kepanjangan AI dalam bahasa Indonesia ini).
Dilansir dari Hidup Katolik.com, Romo Benny, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sedang tren saat ini. Bahkan sebuah stasiun televisi swasta pernah menggunakan AI sebagai presenter. Bagaimana pandangan Gereja Katolik soal AI yang mampu meniru fungsi kognitif manusia?
Manusia merupakan citra Allah (Bdk. Kej. 1:27). Dia memiliki kemampuan yang melebihi makhluk lain di dunia sehingga diminta untuk merawat dan mengelola dunia (Bdk. Kej. 1:28-30). Sebagai ciptaan, manusia memiliki kecerdasan yang dapat berkreasi bagi kemajuan peradaban umat manusia. Dan sejak dahulu, manusia mengembangkan teknologi untuk membantu karyanya yang dipercayakan oleh Allah kepada mereka.
Berdasarkan pemahaman tersebut di atas, jikalau ada TV swasta menggunakan AI sebagai presenter bukan berarti kemudian TV swasta itu bisa menggantikan seorang presenter manusia dengan AI. Mungkin AI dapat melakukan lebih dari presenter tetapi AI tidak pernah bisa menggantikan manusia. Sebagai manusia karena AI bagaimanapun adalah “benda,” bukan manusia yang bisa berkreasi.
Oleh sebab itu, Gereja tidak bersikap menolak begitu saja terhadap kehadiran AI bagi peradaban manusia. Apalagi Gereja tahu persis bahwa AI adalah sebuah produk, sebuah karya manusia sehingga AI memiliki nilai dan manfaat bagi hidup manusia jikalau itu digunakan dengan baik. Dengan kata lain, Gereja menempatkan diri untuk memberikan dukungan kepada perkembangan teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia. Gereja bersyukur bahwa manusia memiliki kemampuan yang istimewa sehingga masyarakat manusia semakin hari semakin berkembang dari masa ke masa.
Namun, Gereja menyadari bahwa segala yang ditemukan dan dibuat oleh manusia terkadang tidak dimanfaatkan dengan benar atau menempatkan perkembangan teknologi secara tidak tepat, misalnya penemuan senjata api yang tidak dimanfaatkan dengan benar ketika peredarannya tidak diatur sebagaimana mestinya sehingga berulang kali ada pemanfaatan yang tidak tepat terhadap teknologi tersebut yang menyebabkan korban jiwa di kalangan anak sekolah.
Apa pendapat Gereja Katolik tentang AI?
Paus juga memperingatkan agar alat tersebut tidak bekerja secara otonom, dengan menekankan bahwa AI “adalah, dan harus tetap menjadi alat” di tangan manusia. Selain itu, Bapa Suci memperingatkan agar kecerdasan buatan tidak melakukan ‘budaya membuang-buang’, mendukung ketidaksetaraan, dan membuat keputusan di luar lingkupnya.(22 Jun 2024)
Paus tentang AI : Sambut manfaatnya bagi kemanusiaan, namun kurangi risikonya(Vatican Media)
Paus Fransiskus menegaskan kembali bahwa kecerdasan buatan hanya boleh digunakan untuk memberi manfaat bagi umat manusia, saat ia berterima kasih kepada para peserta konvensi internasional tentang ‘Kecerdasan Buatan Generatif dan Paradigma Teknokratis,’ yang diselenggarakan oleh Yayasan Vatikan Centesimus Annus Pro Pontifice
Seminggu setelah Paus Fransiskus menyampaikan pidato pada Sidang G7 di Bari, Italia, tentang kecerdasan buatan, Bapa Suci menegaskan kembali bahwa kemajuan teknologi yang dahsyat harus digunakan secara etis, untuk melayani kemanusiaan, dan bahwa risiko yang melekat padanya harus dikurangi.
Pernyataan terbaru Bapa Suci tentang AI disampaikan saat audiensinya pada Sabtu pagi di Vatikan dengan para peserta konvensi internasional tentang ‘Kecerdasan Buatan Generatif dan Paradigma Teknokratis,’ yang diselenggarakan oleh Centesimus Annus Pro Pontifice
Lebih jauh, Bapa Suci memperingatkan terhadap kecerdasan buatan yang memicu ‘budaya membuang,’ mendukung ketidaksetaraan, dan membuat keputusan di luar lingkupnya.
Aliansi Strategis Universitas Riset Katolik (SACRU), dan menegaskan: “Mohon terus informasikan saya tentang hal ini!” ujar Paus Fransiskus.
Paus Fransiskus mengakhiri pidatonya dengan menyampaikan apa yang ia gambarkan sebagai “sebuah provokasi.”
“Apakah kita yakin ingin terus menyebut ‘intelijen’ sebagai sesuatu yang bukan intelijen?” katanya. Sambil menegaskan bahwa kita harus memikirkan hal ini, ia mendesak mereka untuk bertanya pada diri sendiri “apakah penyalahgunaan kata ini, yang sangat penting dan sangat manusiawi, bukan merupakan penyerahan diri kepada kekuasaan teknokratik.”
Paus Fransiskus bersama peserta konvensi internasional tentang AI yang diselenggarakan oleh Yayasan Vatikan Centesimus Annus Pro Pontifice.
Kembali ke pernyataan Adharta diatas bahwa Menurut saya kata dia, masa depan bukanlah tentang manusia melawan AI, tetapi tentang bagaimana manusia dan AI dapat berjalan bersama.
Pendidikan mungkin akan berubah bentuk, profesi mungkin akan berevolusi, tetapi nilai-nilai dasar seperti integritas, empati, dan semangat untuk membantu sesama akan tetap menjadi fondasi utama. KRIS sebagai organisasi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan anggotanya menghadapi era ini. Seminar, diskusi, dan kolaborasi harus terus didorong agar kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dalam perubahan besar ini. Pada akhirnya, AI bukan hanya tentang teknologi. AI adalah tentang masa depan manusia. Dan masa depan itu sedang kita bentuk hari ini, melalui pilihan-pilihan yang kita ambil. Ya ampun… dunia ini berubah begitu cepat. Namun di tengah perubahan itu, satu hal yang tidak boleh hilang adalah hati nurani kita sebagai manusia Kata Pastor Berty Terima kasih Romo sudah bersama kita selalu
Tulisan ini sebagai hadiah Ulang tahun buat istri tercinta Magdalena Santoso tutup Adharta Ongkosaputra.(Ring-o)
[22.09, 23/6/2026] Ringo: Dokumen AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ohh Surabaya” oleh Adharta ketum KRIS (habis).

18 Juni 2026 - 14:21 WIB

Terindikasi Korupsi, Proyek Drainase dan Pagar TPA Rawa Kucing Dilaporkan Ke Kejaksaan

18 Juni 2026 - 14:12 WIB

Wahyudi: Disdik Kota Tangerang Memastikan Setiap pelanggaran Selama Proses SPMB Akan Di Tindak Tegas Sesuai Hukum

17 Juni 2026 - 13:02 WIB

 “Oh my Surabaya”

16 Juni 2026 - 03:32 WIB

Periksa Dua Truk, Bea Cukai Banten bersama Beq Cukai Merak Gagalkan 8,2 Juta Batang Rokok Ilegal

13 Juni 2026 - 00:38 WIB

Trending di Banten