Menu

Mode Gelap
PROVINSI TAPANULI: DARI JEJAK SEJARAH MENUJU PUSAT PERTUMBUHAN BARU SUMATERA Bukan Sekadar Pemekaran Wilayah, Tetapi Strategi Membangun Masa Depan Bona Pasogit Subarjo Marbun Tingkatkan Kualitas Pelayanan: Bapas Jakarta Barat Beri Penghargaan Kepada Pegawai Berprestasi Kesbangpol Kota Tangerang Verifikasi InSC, Siap Kawal Program Pemerintah Tonny Silaban Mengenal penyakit Pembulu Darah oleh : Dr. Melita, M.K.M Kepala Puskesmas Jatimelati di Sekolah Lansia ,Jumat 19 Juni 26 ruang Bernadus,Gereja Servatius Bekasi”

Jakarta

PROVINSI TAPANULI: DARI JEJAK SEJARAH MENUJU PUSAT PERTUMBUHAN BARU SUMATERA Bukan Sekadar Pemekaran Wilayah, Tetapi Strategi Membangun Masa Depan Bona Pasogit

badge-check


					PROVINSI TAPANULI: DARI JEJAK SEJARAH MENUJU PUSAT PERTUMBUHAN BARU SUMATERA Bukan Sekadar Pemekaran Wilayah, Tetapi Strategi Membangun Masa Depan Bona Pasogit Perbesar

Yonge Sihombing SE, M.B.A. ketum PPPT (kiri)Bersama Brigjen (purn)MJP Hutagaol,Wakil ketua PPPT
Oleh : Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86’

Jakarta,Jui, Liputan Nusantara (LN), “Pemekaran bukan tujuan melainkan Kesejahteraan rakyat” kata Brigjen (purn)MJP Hutagaol,Wakil ketua Panitia Percepatan ProvinsinTapanuli (PPPT), Dimana Ringo salah seorang Wakil Sekjen ke XVI PPPT mempublikasikan tulisan Brigjen (purn) MJP Hutagaol,di Liputan Nusantara (LN), petikannya :
Ketika berbicara mengenai Provinsi Tapanulikata Hutagaol mengawali tulisanny, sebagian orang masih memandangnya hanya dari sudut pembentukan daerah administratif ujar Hutagaol, Ada yang bertanya, apa untungnya? Ada yang khawatir pemekaran hanya akan menambah jabatan dan birokrasi. Ada pula yang menganggap bahwa kabupaten-kabupaten yang ada saat ini telah cukup.

Yonge Sihombing, SE,M.B.A ketua The Print, penulis buku Prabowonomisc dan juga Ketua PPPT, berjabat tangan dengan Jenderal (purn)Luhut Binsar panjatan ketua DEN dan juga dewan penasehat PPPT.

Penulis buku Prabowonomics, Yonge, mengucapkanUltah ke-67 dan menyerahkan undangan peluncuran buku kepada Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) di Ruang Rapat Komisi IV DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Padahal pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah Provinsi Tapanuli perlu atau tidak. Tetapi apakah kawasan yang memiliki sejarah panjang, sumber daya alam yang besar, kualitas sumber daya manusia yang tinggi, dan posisi geografis yang strategis tidak memerlukan percepatan pembangunan yang lebih fokus dan lebih terarah jelas Hutagaol.
Tapanuli bukanlah nama yang lahir kemarin lanjutnya, Sejak masa Hindia Belanda, Karesidenan Tapanuli telah dikenal dengan Sibolga sebagai pusat pemerintahannya. Kawasan ini mempunyai sejarah, budaya, dan karakter yang khas. Karena itu, gagasan Provinsi Tapanuli sesungguhnya bukanlah menciptakan sejarah baru, melainkan melanjutkan perjalanan sejarah yang telah hidup selama lebih dari satu setengah abad.
Berdasarkan aspirasi yang berkembang saat ini sambung Hutagaol lagi, wilayah yang diproyeksikan menjadi Provinsi Tapanuli terdiri atas: 1. Kabupaten Tapanuli Utara,2 Kabupaten Humbang Hasundutan,3. Kabupaten Toba, 4. Kabupaten Samosir, 5. Kabupaten Tapanuli Tengah,dan 6. Kota Sibolga.

Kombinasi wilayah ini menghadirkan kawasan Danau Toba, pegunungan, dataran tinggi, serta akses langsung ke Samudera Hindia melalui Sibolga dan Tapanuli Tengah.
Tuhan memberikan hampir seluruh karunia alam kepada kawasan Tapanuli. Danau Toba sebagai destinasi super prioritas nasional, Kopi Arabika yang telah dikenal dunia, Kemenyan yang sejak berabad-abad diperdagangkan hingga Timur Tengah dan Eropa, Pertanian, hortikultura, peternakan, serta perikanan Pantai Barat.
Belum lagi kekayaan budaya dan sejarah yang merupakan modal pariwisata kelas dunia. Kata dia.
KAWASAN ENERGI MASA DEPAN INDONESIA
Sedikit daerah di Indonesia yang dianugerahi potensi energi sebesar kawasan Tapanuli.
PLTP Sarulla merupakan salah satu pembangkit panas bumi terbesar di dunia, Kawasan Batang Toru memiliki potensi energi hidro yang besar. Dengan semakin berkembangnya ekonomi hijau dan transisi energi dunia, kawasan ini mempunyai peluang menjadi salah satu pusat energi bersih Indonesia pada abad ke-21.
Bandara Internasional Silangit membuka akses langsung menuju kawasan Danau Toba.
Pelabuhan Sibolga dan Teluk Tapian Nauli menghadap Samudera Hindia dan memiliki posisi strategis bagi perdagangan dan jasa maritim. Jalur lintas Sumatera memperkuat konektivitas antarwilayah. Dengan posisi geografis tersebut, Tapanuli memiliki peluang berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru di Pulau Sumatera.

MODAL TERBESAR ADALAH MANUSIANYA
Namun sesungguhnya sambung Hutagaol, kekayaan terbesar Tapanuli bukanlah tanahnya.
Bukan hutannya. Bukan pula danau dan energinya. Tetapi manusianya.Ribuan professor, Ribuan dokter, Ribuan pendeta, Ribuan pengusaha, Ribuan perwira TNI dan Polri. Serta diaspora Batak yang tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai belahan dunia. Tidak banyak daerah yang memiliki modal sosial sebesar itu.
MENGAPA PROVINSI TAPANULI DIPERLUKAN ?
Menurut Hutagaol, “Pemekaran bukan tujuan. Kesejahteraan rakyat adalah tujuan.”
Setelah melihat sejarah panjang, potensi sumber daya alam, posisi strategis, dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki kawasan Tapanuli, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: Apakah tidak cukup tetap berada dalam struktur pemerintahan yang ada saat ini?
Pertanyaan tersebut wajar diajukan. Karena pembentukan sebuah provinsi harus dilihat secara objektif dan rasional, bukan semata-mata berdasarkan romantisme sejarah atau semangat emosional.
Provinsi Sumatera Utara saat ini memiliki luas wilayah sekitar 72.460 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa. Sementara wilayah yang diproyeksikan menjadi Provinsi Tapanuli terdiri atas lima kabupaten dan satu kota, yaitu:Kabupaten Tapanuli Utara,Kabupaten Humbang Hasundutan,Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Tengah,dan Kota Sibolga. Secara keseluruhan, wilayah ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 1,2 juta jiwa dan luas wilayah mendekati 19 ribu kilometer persegi. Dengan skala tersebut, kawasan Tapanuli sesungguhnya memiliki kapasitas yang cukup untuk berkembang menjadi sebuah provinsi.

Belajar Dari Provinsi Lain, Indonesia memulai kemerdekaannya dengan delapan provinsi.
Kini Indonesia telah memiliki tiga puluh delapan provinsi.
Papua yang dahulu hanya satu provinsi kini telah berkembang menjadi enam provinsi.

Gorontalo yang dahulu bagian dari Sulawesi Utara kini menjadi provinsi tersendiri. Banten yang dahulu bagian dari Jawa Barat kini berkembang menjadi salah satu pusat industri nasional.
Kalimantan Utara yang dibentuk pada tahun 2012 kini menjadi beranda strategis Indonesia di kawasan perbatasan. Tujuan pembentukan provinsi-provinsi tersebut bukan sekadar menghadirkan gubernur baru, tetapi memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat pembangunan, serta mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan adalah:

Mengapa Tapanuli yang memiliki sejarah panjang, sumber daya alam yang besar, kualitas sumber daya manusia yang tinggi, serta posisi strategis di Pulau Sumatera tidak memperoleh kesempatan yang sama?tanya Hutagaol,
Selama ini pembangunan Sumatera Utara secara alami lebih terkonsentrasi di Medan dan sekitarnya. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari luas wilayah dan kebutuhan pembangunan yang sangat besar. Akibatnya, sebagian potensi kawasan Tapanuli belum berkembang secara optimal. Padahal kawasan ini memiliki Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional. Memiliki Bandara Internasional Silangit. Memiliki Pelabuhan Sibolga yang menghadap langsung Samudera Hindia, Memiliki PLTP Sarulla sebagai salah satu pembangkit panas bumi terbesar dunia, Memiliki potensi energi hidro Batang Toru, Memiliki kopi Arabika kelas dunia, Memiliki kemenyan yang telah diperdagangkan selama berabad-abad, Dan memiliki budaya Batak yang dikenal hingga mancanegara.

Seluruh potensi tersebut memerlukan perencanaan, pembiayaan, dan pengelolaan yang lebih fokus agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumatera. Karena sesungguhnya perjuangan Provinsi Tapanuli bukanlah soal menghadirkan seorang gubernur baru.
Bukan pula soal kekuasaan. Tetapi menghadirkan kesempatan yang lebih besar agar kawasan Tapanuli dapat berkembang secara optimal, sejajar dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Dan agar anak-anak Batak tidak hanya pulang ke Bona Pasogit ketika pensiun atau ketika meninggal dunia. Tetapi dapat hidup, berkarya, membangun, dan mewariskan masa depan yang lebih sejahtera di tanah leluhurnya sendiri. Sebab pada akhirnya, Marsipature Hutanabe bukan sekadar slogan.Ia adalah panggilan sejarah. Dan sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani mempersiapkan masa depan. Sebagaimana Ucapan bung Karno, Jangan sekali kali melupakan Sejarah ( Jas Merah) (Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengenal penyakit Pembulu Darah oleh : Dr. Melita, M.K.M Kepala Puskesmas Jatimelati di Sekolah Lansia ,Jumat 19 Juni 26 ruang Bernadus,Gereja Servatius Bekasi”

24 Juni 2026 - 13:33 WIB

Artificial Intelligence”Oleh: Adharta ketua umum KRIS

23 Juni 2026 - 23:53 WIB

Ohh Surabaya” oleh Adharta ketum KRIS (habis).

18 Juni 2026 - 14:21 WIB

Terindikasi Korupsi, Proyek Drainase dan Pagar TPA Rawa Kucing Dilaporkan Ke Kejaksaan

18 Juni 2026 - 14:12 WIB

Wahyudi: Disdik Kota Tangerang Memastikan Setiap pelanggaran Selama Proses SPMB Akan Di Tindak Tegas Sesuai Hukum

17 Juni 2026 - 13:02 WIB

Trending di Advertorial