Menu

Mode Gelap
Tingkatkan Kolaborasi, Kalapas Jember Lakukan Audiensi dengan Kodim 0824/JBR  “Idul Fitri, Imlek dan Paskah dalam satu Keluarga”? (Cerpen 0061 0leh Adharta ketum KRIS ) Pangdam Jaya Pimpin Groundbreaking Jembatan Garuda Dan Gentengisasi, Wujud Nyata Negara Hadir Untuk Rakyat Kalapas Jember Hadiri “Kupatan” di Pendopo Wahyawibawagraha Bersama Bupati Halal Bihalal PT JEMBO Cable Company Pererat Silaturahmi Karyawan dan Manajemen Wujud Pelayanan Terbaik, Lapas Jember Buka Kesempatan Bertemu Keluarga Hari Ketiga Lebaran

Jakarta

 “Idul Fitri, Imlek dan Paskah dalam satu Keluarga”? (Cerpen 0061 0leh Adharta ketum KRIS )

badge-check


					 “Idul Fitri, Imlek dan Paskah dalam satu Keluarga”? (Cerpen 0061 0leh Adharta ketum KRIS ) Perbesar

Adharta Ongkosaputra, (menulis)Ketua Umum Kill Covid -19 Relief International Services (KRIS)

Jakarta, Maret, Liputan Nusantara (LN), MaknaIdul Fitri adalah kembali suci (fitrah) dan hari kemenangan spiritual bagi umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan Sedangkan Imlek bagi masyarakat Tionghoa yang di Indonesia secara resmi diakui sebagai hari raya agama Khonghucu,
memperkuat ikatan keluarga dan mempromosikan nilai-nilai solidaritas, saling mendukung, dan persatuan antaranggota keluarga. sedankan Paskah bagi umat Katolik adalah perayaan kebangkitan Yesus Kristus yang mengalahkan maut, menjadi puncak iman atas penebusan dosa’.


Demikian sebuah ceritra yang dikisahkan oleh Adharta, bahwa di sebuah rumah sederhana di Jakarta, di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah sebuah keluarga yang tak biasa namun justru di situlah letak keindahannya. Redi, seorang pria Muslim berawak tinggi besar yang bekerja sebagai manajer stasiun di Gambir, adalah sosok yang tegas namun hangat. setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, memastikan kereta-kereta berjalan tepat waktu, seperti ritme hidupnya yang teratur. Istrinya, Maria, seorang Katolik yang bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta adalah perempuan Cantik penuh kasih, dengan senyum yang menenangkan siapa pun yang sedang sakit baik tubuh maupun hati.

merayakan Paskah 2026

Mereka memiliki tiga anak perempuan yang semuanya sudah kuliah: Pertama Nita, si sulung yang memilih Katolik seperti ibunya; Kedua Mira, anak kedua yang mengikuti keyakinan ayahnya sebagai Muslim; dan ketiga Susana, si bungsu yang memilih jalan Buddha dengan ketenangan yang khas.
Perbedaan itu tak pernah menjadi jurang. Justru menjadi taman bunga dengan warna-warni yang memperindah kehidupan mereka. Suatu sore menjelang bulan Ramadan, suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya. “Ayah, nanti sahur pertama aku bantu ya,” kata Mira sambil membawa segelas teh hangat ke meja makan. Redi tersenyum, “Wah, anak ayah makin rajin. Tapi jangan sampai kesiangan kuliah ya.” Nita yang duduk di sebelahnya ikut menyela, “Aku juga bangun kok. Sekalian temani Mama doa pagi.” Susana tertawa kecil, “Aku sih ikut bangun juga… tapi mungkin cuma duduk sambil minum air dan meditasi sebentar.” Maria yang baru saja pulang dari rumah sakit meletakkan tasnya dan memandang mereka satu per satu. Matanya berbinar. “Beginilah rumah yang Mama suka,” katanya lembut. “Ramai, beda-beda, tapi tetap satu meja.” Ramadan pun tiba. Setiap dini hari, dapur rumah itu hidup. Mira membantu menyiapkan sahur bersama Maria, sementara Nita dan Susana kadang masih mengantuk di kursi makan, namun tetap menemani. “Doanya masing-masing ya,” ujar Maria setiap kali mereka akan makan. Redi mengangkat tangan, membaca doa dengan khusyuk.
Mira mengikutinya. Di sisi lain, Nita membuat tanda salib, dan Susana menundukkan kepala dalam diam. Tidak ada yang merasa asing. Hanya ada rasa hormat. Namun, seperti keluarga pada umumnya, mereka pun tak luput dari perdebatan kecil. Suatu malam, saat berbuka puasa, terjadi sedikit ketegangan “Aku rasa kita harus lebih tegas soal jadwal rumah,” kata Nita. “Semua sibuk, tapi rumah juga harus rapi.” Mira langsung menjawab, “Aku juga sibuk, Kak. Jangan seolah-olah aku yang paling santai.” “Bukan begitu maksudku—” “Sudah, sudah,” potong Susana sambil tersenyum, “kita ini beda agama saja bisa akur, masa beda jadwal piket ribut?” Redi menatap mereka dengan sedikit serius, tapi kemudian tersenyum.
“Perdebatan itu biasa,” katanya. “Yang penting, jangan sampai kita lupa kenapa kita bisa duduk di sini bersama.” Maria menambahkan pelan, “Karena kita saling mencintai, bukan karena kita sama.”
Suasana pun mencair. Tawa kembali terdengar, mengisi ruang makan yang sederhana itu.
Tak lama setelah Ramadan berjalan, suasana Imlek yang baru saja lewat masih terasa. Beberapa lampion kecil masih tergantung di sudut rumah kenangan dari perayaan yang juga mereka rayakan bersama kerabat. Kini, mereka mulai membicarakan dua momen besar yang akan datang: Idul Fitri dan Paskah. “Lebaran tahun ini kita buat lebih ramai ya,” kata Mira penuh semangat.
kue sendiri!” Nita langsung menyahut, “Kalau begitu aku bantu dekorasi rumah. Sekalian nanti untuk Paskah juga.” Tak lama setelah Ramadan berjalan, suasana Imlek yang baru saja lewat masih terasa. Beberapa lampion kecil masih tergantung di sudut rumah kenangan dari perayaan yang juga mereka rayakan bersama kerabat. Kini, mereka mulai membicarakan dua momen besar yang akan datang: Idul Fitri dan Paskah. “Lebaran tahun ini kita buat lebih ramai ya,” kata Mira penuh semangat. “Aku mau bikin kue sendiri!” Nita langsung menyahut, “Kalau begitu aku bantu dekorasi rumah. Sekalian nanti untuk Paskah juga.”
Susana mengangguk, “Aku bagian bersih-bersih saja deh. Biar semua nyaman.” Maria tersenyum melihat anak-anaknya, lalu memandang Redi. “Kita beruntung ya,” katanya pelan. Redi mengangguk, “Sangat.” Hari-hari berlalu dengan damai. Redi tetap sibuk di stasiun, Maria dengan pasien-pasiennya, dan ketiga anak mereka dengan dunia kampus masing-masing. Namun setiap malam, mereka selalu berusaha makan bersama. Meja makan itu menjadi pusat kehidupan mereka Tempat diskusi.
Tempat bercanda. Tempat berdebat. Dan tempat saling menguatkan. “Menurut kalian,” tanya Susana suatu malam, “kenapa kita bisa seperti ini?” Mira berpikir sejenak, lalu menjawab, “Karena kita tidak pernah dipaksa.”
Saat waktu salat Id tiba, Mira menemani ayahnya ke masjid. Nita dan Susana tinggal di rumah bersama Maria, menyiapkan segalanya untuk menyambut. Ketika Redi dan Mira kembali, suasana penuh haru menyelimuti rumah. “Mohon maaf lahir dan batin,” kata Mira sambil mencium tangan ibunya. Maria memeluknya erat, “Mama juga, Nak.” Nita dan Susana ikut bergabung. Mereka saling berpelukan, tertawa, bahkan sedikit menitikkan air mata. Hari itu, tidak ada perbedaan Yang ada hanya keluarga.
Beberapa hari kemudian, mereka mulai mempersiapkan Paskah. Kali ini, Nita yang lebih sibuk. Ia menyiapkan lilin, bunga, dan dekorasi sederhana. “Ayah bantu ya,” katanya pada Redi Redi tersenyum, “Tentu. Ini rumah kita bersama. Mira membantu tanpa ragu, sementara Susana kembali dengan perannya menjaga suasana tetap damai. Saat malam Paskah tiba, mereka kembali duduk di meja yang sama. Doa kembali dipanjatkan masing-masing dengan cara mereka sendiri. Namun satu hal yang sama: rasa syukur. Di rumah itu, perbedaan bukanlah batas Ia adalah jembatan. Yang menghubungkan hati-hati yang tulus. Dan di tengah dunia yang sering kali terpecah karena perbedaan, keluarga kecil itu menjadi bukti bahwa cinta, rasa hormat, dan kebersamaan… selalu lebih kuat Selama mereka masih duduk di meja yang sama, mereka tahu mereka akan selalu menjadi satu Selamat hari raya idul fitri H 1447 Minal aidin Walfa Izin Mohon maaf lahir dan batin( Ring-o )
Cerpen ini hanya bersifat edukasi pemirsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelatihan Kaderisasi di Gereja Kampung Sawah Digelar Minggu, 15 Maret 2026 di Ruang Ignatius, Bekasi

24 Maret 2026 - 01:47 WIB

“Gerakan Laudato Si’ Indonesia Terkait Pelatihan Laudato Si’ Generation untuk orang muda Katolik 13-15 Maret lalu (Press Release )

17 Maret 2026 - 11:48 WIB

“Suster FRransiska Imakulata ., SSpS Dari Maumere Selamatkan 13 Warga Jawa Barat Dari Hiburan Malam”.

14 Maret 2026 - 23:54 WIB

“Yonge Sihombing SE, M.B.A ketua PPPT sekaligus penulis buku “Prabowonomics” mendirikan :The Pint: di Jakarta: 10 /3/’26”

12 Maret 2026 - 07:06 WIB

Propam Polda Maluku Gelar Gaktibplin, Temuan Pelanggaran Administrasi Personel Langsung Ditindak

12 Maret 2026 - 05:42 WIB

Trending di News