Adharta Ongkosaputra Ketum Kill Covid sedang berbincang dengan Fajar Saputra dari Gatra TV.
Jakarta, Juni , Liputan Nusantara (LN), Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur, didirikan pada tahun 1668 oleh rombongan masyarakat Bugis Wajo yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona. Mereka menetap di tepi Sungai Mahakam dan membangun permukiman yang menjadi cikal bakal kota ini. Nama Samarinda berasal dari istilah bahasa Melayu/Banjar yaitu “Sama Rendah”. Istilah ini merujuk pada pemukiman awal berupa rumah-rumah rakit penduduk di atas air yang dibangun dengan ketinggian yang sama, mencerminkan kesetaraan derajat antar warga.

Dalam WA nya Adharta ketua umum KRIS,mengisahkan perjalanannya ke Samarin pada Selasa, 9 Juni 2026,menginap di hotel Fugo..

Desa Budaya Pampang, Samarinda(Dok. Kaltimprov.go.id)

Tugu Pesut Mahakam di Jalan Slamet Riyadi di bawah Jembatan Mahakam Kota Samarinda, Kalimantan Timur. (TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO )
Dalam WA nya Adharta ketua umum KRIS,mengisahkan perjalanannya ke Samarin pada Selasa, 9 Juni 2026,menginap di hotel Fugo..
Menurut Adharta, Menikmati keindahan Sungai Mahakam terasa belum lengkap tanpa menyelami kekayaan kulinernya. Sejarah Samarinda tak bisa dilepaskan dari peran masyarakat Bugis.

Sunset di Taman Tepian Mahakam, Kota Samarinda
Menurut Adharta, Menikmati keindahan Sungai Mahakam terasa belum lengkap tanpa menyelami kekayaan kulinernya. Sejarah Samarinda tak bisa dilepaskan dari peran masyarakat Bugis.
Maka, tak heran jika Coto Makassar menjadi salah satu pilihan utama. Namun, kelezatan Soto Banjar pun tak kalah menggoda. Pada akhirnya, keduanya layak dinikmati karena setiap rasa punya cerita. Kuliner khas Samarinda begitu beragam. Ada nasi campur, nasi kuning, hingga nasi bekepor yang kaya rempah. Jangan lupa mencicipi amplang yang renyah, teman setia di setiap hidangan. Namun, ikon kuliner yang paling berkesan Adalah Ayam Cincane. Ayam kampung yang dimasak dengan bumbu merah khas lengkuas, kemiri, dan rempah pilihan
kemudian dibakar hingga sempurna. Rasanya gurih, sedikit manis, dan begitu kaya. Sederhana, tapi berkelas. Uenak tenan kata Adharta yang juga pengusaha pelayaran ini,.
Ada pula sajian yang unik dan khas, seperti telurpenyu yang menjadi bagian dari cerita kuliner lokal, meski kini semakin terbatas keberadaannya. Setelah menikmati kekayaan rasa, barulah kita berbicara tentang peluang bisnis.
Samarinda hari ini adalah kota metropolitan yang terus bertumbuh. Potensi usaha terbuka luas
dari pertanian, perikanan, industri strategis, hingga pertambangan. Saya sendiri bergerak di bidang pelayaran, khususnya angkutan alat berat. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari para pelaku usaha di Samarinda. Salah satunya adalah penggunaan kapal LCT (Landing Craft Tank) untuk operasi di sungai. Ujarnya.
Inovasi ini membuat jenis kapal pendarat semakin dikenal luas, bahkan hingga ke berbagai belahan dunia. Usaha pelayaran masih menyimpan harapan besar untuk masa depan.
Saya menginap di Hotel Fugo, yang berada dalam satu kawasan dengan BigMall Samarinda. Sebuah pusat perbelanjaan besar dan lengkap hampir semua kebutuhan tersedia di sini
Sejarah Berdirinya Kota Samarinda : Nama Samarinda berasal dari istilah bahasa Melayu/Banjar yaitu “Sama Rendah”. Istilah ini merujuk pada pemukiman awal berupa rumah-rumah rakit penduduk di atas air yang dibangun dengan ketinggian yang sama, mencerminkan kesetaraan derajat antar warga.(dilansir dari:https://samarindakota.go.id )
Tahun 1668: Titik Awal Berdirinya Kota
Sejarah modern Samarinda dimulai pada tahun 1668 ketika rombongan masyarakat Bugis Wajo yang dipimpin oleh La Maddukelleng (Daeng Mangkona) berlayar meninggalkan Sulawesi pasca Perjanjian Bungaya.
Atas izin Sultan Kutai Kartanegara, mereka diberikan wilayah untuk menetap di daerah yang kini dikenal sebagai Samarinda Seberang. Wilayah ini dipilih karena lokasinya yang strategis untuk pertahanan dan perdagangan.
Masa Kolonial dan Perkembangan Administrasi
Pada abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda mulai menanamkan pengaruhnya karena potensi ekonomi di sepanjang Sungai Mahakam. Berikut adalah garis waktu penting:
1942: Pendudukan Jepang di Samarinda.
1959: Penetapan Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur.
1960: Pembentukan Kotamadya Samarinda.
Melanjutkan kisah perjalanan Adharta, : Esok pagi, saya akan melanjutkan perjalanan dinas di kota ini. Samarinda yang konon berasal dari kata “sama rendah” mengandung makna kebersamaan dalam rasa dan cita.
Semoga kota Samarinda ini semakin maju, semakin Berjaya Tutup Adharta (Ring-o)














