Kesehatan anak adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa kata Adharta,ketum Kris (rompi biru,diapit anak-anak )
Jakarta, April, Liputan Nusantara (LN), Stunting sebagaimana yang penulis jelaskan di media ini ialah “ kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Sederhananya, stunting merupakan sebutan bagi gangguan pertumbuhan pada anak. Penyebab utama dari stunting adalah malnutrisi pada ibu hamil dan kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak” (LN edisi 15 Juni 2024.dibawah judul “Stop Stunting Pogram Nasional; Pilot Project Percepatan penanganan stunting anak Timor Tengah Uyara (TTU), NTT”
Menurut definisi WHO,Stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai.

Dalam Rakernas Bangga Kencana, Wapres KH.Ma’ruf Amin, Minta Faktor Penghambat Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting Diidentifikasi.

Foto bersama tim Stunting KRIS
suatu negara dikatakan memiliki masalah stunting bila kasusnya mencapai angka di atas 20%. Sementara, di Indonesia, berdasarkan data Kemenkes pada tahun 2021, kasus balita stunting di Indonesia sebanyak 24,4% sehingga termasuk dalam masalah yang perlu ditangani.
Penyebab Stunting : Stunting merupakan masalah kesehatan yang sudah ada sejak lama. Kondisi ini disebabkan oleh gizi buruk, terserang infeksi berkali-kali, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Namun, penyebab stunting yang paling banyak adalah karena kekurangan gizi.( LN edisi yang “sama 15 Juni 2024-red).
Itu sebabnya Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratifyang menjelaskan bahwa Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif adalah upaya pengembangan anak usia dini yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 60 tahun 2013 juga menyebutkan ada delapan kementerian dan lembaga yang masuk ke dalam gugus tugas Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif. Pentingnya Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif semakin diperkuat dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Peraturan Presiden tersebut mengamanatkan perlunya Rencana Aksi Nasional Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif untuk meningkatkan jumlah satuan PAUD yang mampu menyelenggarakan pembelajaran berkualitas dan layanan holistik integratif, dengan target 70% satuan PAUD menyelenggarakan layanan PAUD HI di tahun 2024 , maka diharapkan pencegahan dan penanganan stunting dapat lebih terarah dan tercapai sesuai harapan. Pencegahan dan penanganan stunting sebagai salah satu tujuan bersama dalam meningkatkan status kesehatan dan tingkat kecerdasan anak di masa yang akan datang memerlukan stimulasi psikososial atau pengasuhan positif, gizi dan kesehatan yang tepat di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak atau dengan intervensi gizi, kesehatan, pengasuhan positif jika diketahui setelah anak berusia 2 tahun. Upaya ini dapat terpenuhi melalui layanan Pendidikan anak usia dini berkualitas yang memberikan stimulasi holistik (gizi, kesehatan, psikososial) dan mendukung tercapainya kesejahteraan anak usia dini di Indonesia.
Dikutip melalui situs National Today, Pekan Air Susu Ibu (ASI) sedunia merupakan salah satu kampanye terbesar yang dilakukan oleh organisasi internasional, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF. (United Nation International Chilren Emergency Fund) atau Dana Darurat Anak Internasional PBB
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sebagaimana yang disiarkan Liputaan Nusantara edisi 2 September 2024 dibawah judul “ ASI Sebagai Benteng Stunting” Oleh : Adharta Ketua Umum KRIS, Minggu ,25 Agustus 2024 di Bogor. Persiapan menyusui dimulai sejak awal kehamilan. Pemahaman yang baik tentang nutrisi dan konsumsi makanan yang tepat di awal kehamilan dapat membantu Bunda memberikan ASI yang lebih baik.
Itu sebabnya, Waktu Wakil Presiden RI, Hadir dalam Rakernas Bangga Kencana, beliau minta Faktor Penghambat Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting Diidentifikasi.
“Stop Stunting”, merupakan pilot Proyek Percepatan penanganan stunting anak Timor Tengah Utara (TTU), NTT Kesehatan anak adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa. Program KRIS(Killcovid-19 Relief International Services) hadir dengan misi mulia untuk mengatasi masalah stunting yang mengancam masa depan generasi muda kita. Program KRIS hadir dengan misi mulia untuk mengatasi masalah stunting yang mengancam masa depan generasi muda kita. Kami percaya bahwa setiap anak berhak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat, tanpa terkendala oleh kurangnya gizi dan perawatan yang memadai. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi gizi dan perawatan kesehatan rutin kepada para remaja putri, pasangan yang baru menikah, para ibu hamil dan kaum ibu yang memiliki balita, khususnya di wilayah terdampak. Program ini sekaligus menanggapi surat Wakil Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara TImur, Bapak Eusabius Binsasi, yang berisi Permintaan Bantuan Penanganan Kasus Stunting kepada KRIS. Selaku Ketua TPP Stunting Kab. TTU, beliau merasa perlu menggandeng berbagai pihak untuk menurunkan angka stunting di wilayahnya yang masih cukup tinggi. Untuk mewujudkan misi ini, KRIS mengajak semua pihak, khususnya perusahaan yang memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR), untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting. Bersama, kita dapat memberikan harapan dan masa depan. Demikian J. Dwi Helly Purnomo Ketua Panitia Pelaksana Satuan Tugas Penanganan STUNTING mengakhiri penjelasannya. Karena itu, kami mengajak Anda untuk menjadi bagian dari Gerakan STOP STUNTING. Mari kita bersama-sama membantu anak-anak dan keluarga tidak mampu agar mereka bisa bertumbuh kembang lebih sehat dan lebih layak, sehingga memiliki masa depan yang lebih cerah untuk mewujudkan.
Mengawali sambutannya, ketua Umum KRIS, Ir.Adharta Ongkosaputra ,SE, mengatakan , sebuah lagu daerah Rote NTT, berjudul “Mai Faliye Mama Ala Ita Faliye” (Mama Panggil Kita Pulang)
Sungguh sebuah seruan yang sangat indah diperuntukkan bagi Putra dan Putri Nusa Tenggara Timur
yang ada di mana saja, baik yang merantau ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau lain di sepanjang garis katulistiwa Nusantara, atau bahkan yang tersebar sampai ke ujung dunia: Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika yang bisa mendengar suara saya ujar Adharta, Mama panggil pulang bukan berarti pulang atau pindah kembali ke tanah tumpah darah NTT kata dia, melainkan pulang buah pemikiran Kebangkitan Tanah NTT, dengan memberikan bantuan baik materiel,maupun moriel. Seyakin-yakinnya saya beserta Anda semua, jika kita bersatu, maka tanah NTT yang diciptakan sangat indah akan menjadi propinsi paling unggul di tanah Nusantara. Ini seperti kata almarhum Bapak Frans Seda dan Bapak Dr.Ben Mboi. Sejak meninggalkan kota Kalabahi Alor merantau ke Jawa sampai selesai sekolah 66 tahun lalu, saya selalu terbayang bahwa NTT bukan lagi singkatan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong, tetapi menjadi ikon Nusantara Teramat Tangguh. Salah satu langkah kecil lanjut Adharta, yang kita mulai adalah Proyek Percontohan Percepatan Penanganan Stunting Anak di Kefamenanu TTU (Timor Tengah Utara).
Mengapa dipilih TTU?
Karena kita akan menempuh jalur strategis dan olah potensi yang praktis dan itu akan menyebar ke seluruh Propinsi NTT dan kelak akan ke seluruh Nusantara. Seperi bola salju yang KRIS gulirkan dan efek domino yang kami gelar diharapkan proyek percontohan ini akan berjalan dengan baik dan terus menggelinding dan menggelinding dan membesar. Namun demikian, semua itu tidak akan berhasil tanpa uluran tangan Anda sahabatku semua
Dalam menjalankan misinya, Ketum KRIS menggunakan pendekatan holistik kepada masyarakat, yang disebut sebagai pengembangan manusia utuh untuk membantu semua orang mencapai potensi penuh mereka dalam suasana aman, damai, berkeadilan sosial, dan memiliki martabat manusia yang tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, KRIS tidak bisa berjalan sendiri. KRIS akan mengajak dan
melibatkan semua orang/pihak, termasuk pemerintah dan perusahaan swasta, pada setiap tingkatan individu, keluarga, komunitas, regional, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) secara nasional dan internasional untuk mempromosikan perubahan transformatif KILLCOVID-19 menjadi KRIS sehingga dapat mencapai misi kemanusiaan yang berguna bagi bangsa dan negara tercinta Indonesia. Sekarang dan nanti, secara berkelanjutan, kita bersama-sama membangun kesehatan, pendidikan, kebudayaan dan kekuatan ekonomi bangsa Indonesia untuk Menyambut Indonesia Emas 2045. Mayoritas anggota KRIS sepakat untuk tetap berjuang membantu pemerintah dalam bidang kesehatan. Karena itu, Pemerintah dalam hal ini Kemenkes RI, seyogayna dapat mengelontorkan sebagian kecil APBN untuk melaksanakan program ini karena ini merupakan program Nasional . saya dan Anda, berhutang nyawa kepada Pemerintah yang mengerahkan segala daya upaya selama pandemi untuk menjaga nyawa kita, walaupun tidak sedikit korban yang meninggal dunia. Keikhlasan itu membuahkan pemikiran agar KRIS berperan aktif membantu pemerintah dalam melawan stunting,( berkolaborasilah-red)). suatu bentuk degradasi yang merongrong kehidupan bangsa dan negara yang dimulai dari anak-anak kita.(Ring-o)















