Para pengunjung British Museum melihat Batu Rosetta pada tahun 1985

Jakarta, Juni, Liputan Nusantara (LN), Arti sebuah tulisan merujuk pada definisi harfiah dari kata atau kalimat yang tertulis, sedangkan maknanya adalah maksud, pesan, atau gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembacanya
Bicara tentang Arti Sebuah Tulisan : Sebagian menganggap bahwa di dalam menulis dan membaca, arti dan makna yang terkandung di dalamnya tertuang jelas di dalam teks yang ditulis. Sebagian lagi menilai bahwa tidak selalu harus demikian, karena arti dan makna sebuah tulisan justru terkandung di balik teks yang ditulis itu sendiri. Yang mana yang benar?! Yang mana yang lebih berarti dan bermanfaat?!

Kerumunan pengunjung melihat Batu Rosetta di British Museum
Yah, kita semua memang selalu saja bertanya dan ingin tahu kebenaran arti dan makna dari apa yang tertulis itu. Namun demikian, kita juga memiliki keterbatasan atas pola pikir, cara pandang, dan juga struktur dalam pola kehidupan yang telah terbukti selama peradaban ini berlangsung sangat berpengaruh terhadap pemikiran itu sendiri yang membatasi dan juga meluaskan kemampuan seseorang di dalam menulis dan membaca.
Demikian cerita pendek (cerpen) yang disajikan oleh Adharta Ketua Umum Kill Covid-19 Relief Internasional Service ( KRIS ) sebagai edukasi kepada para pemirsa. Petikannya :
“Hujan di Ujung Senja. Langit sore di kota kecil Brebes itu tampak kelabu”
Awan menggantung rendah seolah menyimpan ribuan cerita yang belum sempat diucapkan. Di sebuah halte tua dekat taman kota, seorang pemuda bernama Surya duduk sendirian sambil memandangi jalanan yang mulai basah oleh gerimis. Tas lusuh tergantung di bahunya.
Di tangannya terdapat buku catatan yang sudut-sudutnya sudah mulai robek. Setiap hari, sepulang bekerja di toko fotokopi, Surya selalu datang ke halte itu.
Bukan karena ia menunggu bus, melainkan karena tempat itu memberinya ketenangan.
Surya memiliki mimpi sederhana. Ia ingin menjadi penulis. Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ayahnya telah lama meninggal, sedangkan ibunya bekerja menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Surya memilih bekerja setelah lulus sekolah demi membantu keluarganya.
Meski begitu, ia tidak pernah berhenti menulis. Gerimis berubah menjadi hujan. Orang-orang mulai berlari mencari tempat berteduh.
Di tengah suasana itu, seorang gadis datang sambil membawa payung biru muda. Rambutnya sedikit basah terkena hujan.
“Boleh duduk di sini kata si gadis itu?” tanyanya ramah.yang ternyata kemudian bernama Esther. Surya mengangguk pelan. “Silahkan.”
“Suatu hari nanti, tulisanku pasti akan dibaca banyak orang,” gumamnya dalam hati, pelan. Gadis itu duduk di sampingnya. Ia meletakkan beberapa buku di pangkuannya lalu menghela napas panjang.

Ir.Adharta,SE, Ketum KRIS
“Hujannya tiba-tiba sekali,” katanya. “Iya,” jawab Surya singkat. Beberapa detik suasana menjadi hening. Surya kembali membuka buku catatannya, sementara gadis itu memperhatikannya diam-diam. “Kamu suka menulis?” tanya Esther kemudian. Surya sedikit terkejut. “Lumayan.” “Boleh lihat?” Surya ragu sesaat, tetapi akhirnya menyerahkan buku itu. Gadis tersebut membacanya perlahan. Matanya tampak serius menelusuri setiap kalimat yang tertulis dengan tinta hitam. “Bagus,” katanya setelah beberapa menit. Surya tersenyum kecil. “Cuma tulisan biasa.”
“Tidak,” balas gadis itu. “Tulisan yang bagus selalu lahir dari perasaan yang jujur.”
Surya menatapnya sejenak. Baru kali itu ada orang asing yang memuji tulisannya dengan sungguh-sungguh.
“Oh ya, aku Esther,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Surya.” Sejak hari itu, mereka sering bertemu di halte yang sama. Esther ternyata bekerja di perpustakaan kecil dekat pusat kota.
Ia sangat menyukai buku dan sering menghabiskan waktunya membaca novel lama.
Kadang mereka berbicara tentang mimpi, kadang tentang kehidupan yang tidak selalu ramah.
“Aku iri sama orang yang tahu tujuan hidupnya,” kata Esther suatu malam “Kenapa?” “Karena aku sendiri masih bingung.” Surya tertawa kecil. “Aku juga bingung.” “Tapi kamu punya mimpi jadi penulis.” “Mimpi belum tentu jadi kenyataan.” Esther menatap langit malam yang dipenuhi lampu kota. “Kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu.”
Kata-kata itu terus teringat di kepala Surya. Beberapa minggu kemudian, Esther membawa sebuah amplop cokelat. “Apa ini?” tanya Surya. “Lomba cerpen nasional. Aku lihat pengumumannya di perpustakaan.” Surya langsung menggeleng. “Aku tidak mungkin ikut. “Kenapa?” “Aku bukan siapa-siapa.” Esther tersenyum tipis. “Semua orang besar juga mulai dari bukan siapa-siapa.” Surya terdiam.
“Aku percaya tulisanmu bagus,” lanjut Esther. “Kamu cuma kurang percaya pada dirimu sendiri.”
Malam itu Surya pulang dengan pikiran penuh kebimbangan. Ia duduk di meja kecil kamarnya lalu menatap lembar kosong di depan mata. Suara mesin jahit ibunya terdengar dari ruang depan.
“Ada apa?” tanya ibunya. “Tidak apa-apa.” Ibunya menghampiri sambil membawa teh hangat.
“Kalau ada masalah, cerita saja.” Surya tersenyum lemah. “Bu… menurut Ibu, orang seperti aku bisa jadi penulis?” ibunya menatapnya lama sebelum menjawab, “Kalau kamu sungguh-sungguh, kenapa tidak?”
Jawaban sederhana itu membuat dada Surya terasa hangat.
Malam itu ia mulai menulis.
Ia menulis tentang kehidupan, tentang hujan, tentang kesepian, dan tentang harapan yang diam-diam tumbuh di hati manusia. Ia menulis sampai larut malam tanpa menyadari waktu.
Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan. Sepulang kerja, Surya langsung menulis. Esther sering menemaninya di perpustakaan sambil memberi masukan“ Kamu harus lebih berani memainkan emosi tokohnya,” kata Esther suatu sore“Seperti ini? “Ya, lebih hidup. Surya tersenyum. “Kamu cocok jadi editor.”“Kalau begitu nanti kamu jadi penulis terkenal, aku editornya.”
Mereka tertawa bersama.Di tengah perjuangannya, Surya bertemu dengan Fanny, pemilik toko buku bekas dekat pasar lama. Usianya sekitar lima puluh tahun, tetapi sifatnya hangat dan penuh semangat. Fanny suka membaca tulisan Surya setiap kali ia datang ke toko. “Kamu punya bakat,” katanya suatu hari. Surya tertawa kecil. “Semua orang bilang begitu, tapi belum tentu nyata.”
Fanny menggeleng pelan. “Masalah terbesar anak muda sekarang bukan kurang bakat, tapi terlalu cepat menyerah.”Kalimat itu menancap kuat di hati Surya. Fanny kemudian mengambil sebuah buku tua dari rak paling atas.“Dulu ada penulis terkenal yang sering datang ke sini,” katanya. “Naskahnya ditolak berkali-kali sebelum akhirnya terkenal.”“Benarkah?”
“Iya. Jadi jangan takut gagal.” Sejak saat itu Surya semakin bersemangat. Akhirnya hari pengumpulan lomba tiba. Dengan tangan gemetar, Surya mengirim cerpennya melalui email perpustakaan.“Selesai,” katanya lega. Esther tersenyum lebar. “Aku bangga sama kamu.”
“Belum tentu menang.“Yang penting kamu sudah mencoba.”Hari-hari setelah itu terasa panjang. Surya kembali bekerja seperti biasa, tetapi pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran.
Sampai suatu pagi, Esther datang ke toko fotokopi dengan wajah panik. “Surya!“Ada apa?”
“Kamu menang!”Surya terdiam. “Apa?“Kamu juara dua lomba cerpen nasional!”
Beberapa pelanggan menoleh ke arah mereka. Surya bahkan merasa sulit bernapas.“Jangan bercanda.” “Aku serius!Esther menunjukkan layar ponselnya. Nama Surya benar-benar tercantum di sana.Tangannya gemetar saat membaca pengumuman itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa mimpinya benar-benar mungkin tercapai.Malam harinya, Surya pergi ke toko buku bekas milik Fanny“Aku menang,” katanya pelan.Fanny tersenyum bangga. “Nah, kan? Aku bilang apa.”“Terima kasih.” “Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri karena tidak menyerah.”Surya mengangguk pelan. Beberapa bulan berlalu. Tulisan Surya mulai dimuat di beberapa majalah kecil. Meski penghasilannya belum besar, ia merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Namun di tengah kebahagiaan itu, Esther tiba-tiba menghilang. Ia tidak datang ke halte, tidak muncul di perpustakaan, bahkan nomor teleponnya tidak aktif.
Surya mulai khawatir. Suatu hari ia akhirnya bertemu penjaga perpustakaan. “Esther pindah kota,” kata pria itu.“Pindah? “Iya. Katanya ikut keluarganya.”Surya terdiam lama. “Dia titip ini buat kamu.”Pria itu menyerahkan sebuah amplop putih. Dengan tangan gemetar, Surya membukanya.
Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan. “Surya, Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Maaf karena tidak sempat berpamitan langsung. Aku harus ikut keluargaku pindah ke luar kota. Aku cuma ingin bilang satu hal. Jangan berhenti menulis. Dulu kamu pernah bilang takut bermimpi terlalu tinggi.Tapi sekarang kamu sudah membuktikan bahwa mimpi itu bisa dikejarSuatu hari nanti, saat bukumu terbit, aku yakin banyak orang akan merasa ditemani oleh tulisanmu.Tetaplah jadi Surya yang percaya pada harapan. Tutup Esther.” (Ring-o)














