Menu ✖

Mode Gelap
Pelantikan Pengurus DPC dan DPRt PSI Kecamatan Setu Periode 2025–2030, Targetkan Dua Kursi pada Pemilu 2031 Camat Tanggunggunung Apel HSN 2026 Sesuai Edaran Menteri Agama SD AMPUH Gelar Fashion Show Peringatan Hari Santri Nasional 2026 Silaturahmi dengan PWI se-Tangerang Raya, Tardi Paparkan Inovasi Digital Kantah Kota Tangerang RESPON CEPAT PAK DEWAN PSI STEVEN JANSEN SINAGA, PANTAU LANGSUNG PELAYANAN PASIEN BPJS DI RSU SERPONG UTARA HUT ke-62 Golkar, Bappilu Kota Tangerang di Bawah Asep Sugara Terima SK

Jakarta

“AI sebagai mitra pedagogis: Karakter, etika, dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama, bukan AI”.

badge-check


					“AI sebagai mitra pedagogis: Karakter, etika, dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama, bukan AI”. Perbesar

Kata-kata “Kecerdasan buatan AI” digambarkan dengan miniatur lengan robot dan tangan mainan dalam ilustrasi tanggal 14 Desember 2023 ini. (Foto OSV News/Dado Ruvic, Reuters)

Jakarta, April , Liputan Nusantara (LN),Artificial Inteligents (AI), atau biasa disebut Kecerdasan buatan adalah teknologi yang memiliki kemampuan pemecahan masalah layaknya manusia. Dalam praktiknya, AI akan menyimulasikan kecerdasan manusia – teknologi ini dapat mengenali gambar, menulis puisi, dan membuat prediksi berbasis data.

Data Center ,sebuah fasilitas yang digunakan utk memusatkan dan menyimpan sistim operasi TI dan peralatan yang dimiliki sebuah Perusahaan.

 

Pandangan Gereja tentang Kecerdasan Buatan

ANTIQUA ET NOVA DIKASTERI UNTUK KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN

Menurut H.A.Simon menyebutkan AI merupakan semua tempat penelitian, instruksi, dan aplikasi yang berkaitan dengan pemrograman komputer. Tujuannya untuk melakukan suatu hal yang dianggap cerdas oleh manusia. Menurut Kristianto mendefinisikan sebagai salah satu bagian dari ilmu pengetahuan komputer yang dibuat secara khusus untuk perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam suatu sistem kecerdasan di perangkat komputer.sementara pendapat Rich & Knight Mereka berpendapat kecerdasan buatan merupakan sebuah studi tentang cara komputer dapat melakukan hal-hal yang dapat dilakukan lebih baik oleh manusia. (Sebagaimana saya (Ringo )mengangkat artikel di media ini, edisi 3 aret 2025 dibawah judul “Pandangan Gereja Katolik tentang Artificial Intelligence (AI)”. Dalam artikel tersebut saya jelaskan bahwa romo Martin Harun mengatakan dalam suatu zoominar oleh Catholic Climate Covenant minggu lalu( Maret 2025) mengenai pandangan Gereja Katolik tentang AI (antara lain berdasarkan dokumen Antiqua et Nova) berakhir dengan anjuran untuk mendorong detoksifikasi AI sebagai pantangan Masa Prapaskah Antara lain dengan cara ini:
1. Menonaktifkan aplikasi-aplikasi yang didukung AI di ponsel Anda.
2. Menulis sendiri.
3. Menghindari gamba-gambar konyol yang bisa dihasilkan oleh AI (jutaan setiap hari).
4. Time-out dalam main game yang didukung AI.
5. Tidak menggunakan aplikasi AI untuk searching di internet. Searching biasa bisa sampai 10x
6. lebih ringan ongkos ekologis dan sosialnya.
Dalam WAG * Siprianus Laudato SI menuliskan AI sebagai mitra pedagogis:*
Karakter, etika, dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama, bukan AI.serta ada SKB 7 menteri Menteri Dalam negeri,, Menteri Agama, Menteri Pendidikan Dasar Dan Menengah, Menteri Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi, Menteri Komunukasi dan Digital, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Berencana Nasional, dan Menteri dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

 

Ilustrasi: AI dan Vatikan

 

Kecerdasan buatan, bantu umat Katolik Filipina memupuk iman

TENTANG

Pedoman dan Pembelajaran eknologi Digital dan Kecerdasan di Jalur Pendidikan Formal, Non Formaldan INformal.

Sejalan dengan Pandangan gereja Katolik tentang AI Selain banyak manfaat yang diakui dan disyukuri oleh Gereja dalam Antiqua et Nova, tidak boleh kita lupakan bahwa AI tidak datang tanpa ongkosnya : membawa kerugian dan ketidakadilan ekologis dan sosial yang tak bisa diremehkan.
Karena itu ujar romo Martin Harun , kita diajak memakai AI dengan bijaksana dan sejauh perlu saja; dan tidak membiarkan diri diracuni olehnya, sambil membawa kerugian pada bumi dan masyarakat lemah.
Pantangan masa Prapaskah mengikuti perkembangan zaman: kali ini mendorong detoksifikasi AI, Artificial Intelligence, Akal Imitasi (bagus betul kepanjangan AI dalam bahasa Indonesia ini).
Dilansir dari Hidup Katolik.com, Romo Benny, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sedang tren saat ini. Bahkan sebuah stasiun televisi swasta pernah menggunakan AI sebagai presenter. Bagaimana pandangan Gereja Katolik soal AI yang mampu meniru fungsi kognitif manusia?
Manusia merupakan citra Allah (Bdk. Kej. 1:27). Dia memiliki kemampuan yang melebihi makhluk lain di dunia sehingga diminta untuk merawat dan mengelola dunia (Bdk. Kej. 1:28-30). Sebagai ciptaan, manusia memiliki kecerdasan yang dapat berkreasi bagi kemajuan peradaban umat manusia. Dan sejak dahulu, manusia mengembangkan teknologi untuk membantu karyanya yang dipercayakan oleh Allah kepada mereka.
Berdasarkan pemahaman tersebut di atas, jikalau ada TV swasta menggunakan AI sebagai presenter bukan berarti kemudian TV swasta itu bisa menggantikan seorang presenter manusia dengan AI. Mungkin AI dapat melakukan lebih dari presenter tetapi AI tidak pernah bisa menggantikan manusia. Sebagai manusia karena AI bagaimanapun adalah “benda,” bukan manusia yang bisa berkreasi.
Oleh sebab itu, Gereja tidak bersikap menolak begitu saja terhadap kehadiran AI bagi peradaban manusia. Apalagi Gereja tahu persis bahwa AI adalah sebuah produk, sebuah karya manusia sehingga AI memiliki nilai dan manfaat bagi hidup manusia jikalau itu digunakan dengan baik. Dengan kata lain, Gereja menempatkan diri untuk memberikan dukungan kepada perkembangan teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia. Gereja bersyukur bahwa manusia memiliki kemampuan yang istimewa sehingga masyarakat manusia semakin hari semakin berkembang dari masa ke masa.
Namun, Gereja menyadari bahwa segala yang ditemukan dan dibuat oleh manusia terkadang tidak dimanfaatkan dengan benar atau menempatkan perkembangan teknologi secara tidak tepat, misalnya penemuan senjata api yang tidak dimanfaatkan dengan benar ketika peredarannya tidak diatur sebagaimana mestinya sehingga berulang kali ada pemanfaatan yang tidak tepat terhadap teknologi tersebut yang menyebabkan korban jiwa di kalangan anak sekolah. (Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Hukum Waris Dalam Praktek di Masyarakat”Oleh Ir. Agustinus Manihuruk, SH,MH,MM,16 Oktober, diruang Bernadus Gereja Servatiua KAMPUNG SAWAH.

20 Oktober 2026 - 23:23 WIB

Sektretaris Desa Dr Taufik Hidayat meresmikan Gedung Posyandu Bunga Rampai Rw 015 Desa Mangunjaya Kecamatan Tambun Selatan Mempermudah  Akses Pelayanan Kesehatan

19 Oktober 2026 - 02:19 WIB

 “Yonge Sihombing, S.E., M.B.A., menginisiasi pembentukan organisasi kemasyarakatan bernama Prabowonomics 2 Periode (P2P)”

18 Oktober 2026 - 23:28 WIB

Hendardi: Putusan MK Soal Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas TNI*

17 Oktober 2026 - 03:49 WIB

Brimob Polda Metro Jaya Kawal Penindakan dan Pemulihan Kampung Ambon*

16 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Trending di Jakarta