Menu ✖

Mode Gelap
Apresiasi untuk Kapolri Baru, Hendardi Setara: Langkah Berani Kembalikan Marwah Polri* JPB Law Firm Apresiasi Polres Jakpus, Desak Penyidik Telusuri Aliran Dana Faridha Wagea Muscab I DPC PBNI Kabupaten Tangerang Sukses, H. Soleh Terpilih Aklamasi Pimpin Periode 2026-2030 Dukung Proyek Strategis Nasional, Kantor Pertanahan Kota Tangerang Serahkan 18 Sertipikat BMN Jalan Tol Senilai Rp729 Miliar* “HUT ke 130 gereja Kampung Sawah St.Servatius “Hari Pangan sedunia 16 Oktober 2026”

Jakarta

“HUT ke 130 gereja Kampung Sawah St.Servatius

badge-check


					“HUT ke 130 gereja Kampung Sawah St.Servatius Perbesar

Ket.gambar : Pengurus Gereja Servatius mengenakan pakaian khas Betawi (Foto: Dok.Richardus Jacobus Napiun) #end

 

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-130 Gereja Katolik Santo Servatius Paroki Kampung Sawah di Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi,dimana penulis merupakan salah seorang anggota gererja dan berdomisili diwilayah gereja tersebut, dirayakan sebagai tonggak sejarah panjang perziarahan iman dan simbol kuat kerukunan
Gereja Katolik Santo Servatius, Paroki Kampung Sawah, merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-130 pada tanggal 6 Oktober 2026.( Gereja Katolik Santo Servatius, Paroki Kampung Sawah, merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-130 pada tanggal 6 Oktober 2026.(hidupkatolik.com)
Perayaan 130 tahun perjalanan iman ini memperingati peristiwa bersejarah pembaptisan 18 orang pribumi Kampung Sawah oleh Pastor Bernardus Schweitz, SJ pada tanggal 6 Oktober 1896. Gereja Santo Servatius dikenal sebagai salah satu paroki bersejarah di Bekasi, Jawa Barat, yang kental dengan pelestarian budaya Betawi serta semangat toleransi beragama yang kuat.

Natal Bernuansa Betawi di Gereja Paroki Santo Servatius, Kota Bekasi, Jawa Barat (Foto: Dok. Richardus Jacobus Napiun)

 

Informasi Singkat HUT ke-130

* Sejarah & Makna: Perayaan 130 tahun ini menandai perjalanan panjang iman umat sejak 6 Oktober 1896 (ketika Pastor Schweitz membaptis 18 anak pertama di Kampung Sawah).
* Rencana/Perkembangan Khusus: Pada momentum HUT ke-130 ini, Paroki Kampung Sawah juga bersiap untuk rencana pembentukan calon stasi baru, yaitu Stasi Jatisari.
* Karakteristik Gereja: Dikenal luas sebagai oase rohani bernuansa khas Budaya Betawi yang menjunjung tinggi semangat toleransi, serta menyimpan berbagai relikui suci (termasuk relikui St. Servatius dan Salib Sejati).

Natal Bernuansa Betawi di Gereja Paroki Santo Servatius, Kota Bekasi, Jawa Barat (Foto: Dok. Richardus Jacobus Napiun)


Informasi lebih lanjut dan pembaruan kegiatan paroki dapat dilihat langsung melalui situs resmi Gereja Santo Servatius atau akun Instagram Gereja Santo Servatius.
Gereja Santo Servatius, Kampung Sawah adalah sebuah gereja paroki Katolik yang sebagian besar beranggotakan warga Katolik Betawi di wilayah Kampung Sawah, Bekasi, Jawa Barat Budaya Betawi masih ditunjukkan oleh para anggota gereja tersebut melalui penggunaan bahasa dan kosakata Betawi yang merupakan turunan dari bahasa MelayuDi Kampung Sawah sendiri budaya Betawi tetap bertahan sekalipun beberapa bagian di antaranya telah punahSalah satu ritual budaya Betawi yang masih bertahan, walaupun mengalami perubahan, adalah bebaritan atau yang saat ini dikenal dengan nama sedekah bumiUniknya, ritual tersebut pada masa kini dilakukan di Paroki Santo Servatius Kampung Sawah. Gereja ini berada dalam reksa pastoral tarekat Serikat Yesus (S.J).

Terbentuknya umat pertama

Dilansir dari Wikipedia Bahasa Indonesia Ensikopledia bebas Pada akhir abad ke-19, sebagian besar warga Kampung Sawah telah menganut agama Islam. Walaupun demikian ritual-ritual animisme masih sering mereka lakukan, terutama bila mereka memasuki tempat-tempat yang dianggap angker. Wilayah Kampung Sawah saat itu masih seperti hutan belantara yang gelap. Mayoritas penghuninya adalah orang-orang Betawi yang berbahasa Melayu dan terdiri dari percampuran berbagai macam kebudayaan dan keturunan.

Perpaduan antara budaya Betawi dengan kekristenan sebenarnya sudah terjadi sebelum masuknya Katolik ke Kampung Sawah. Meester Anthing adalah orang Protestan pertama yang berhasil masuk ke dalam budaya Betawi. Ia berhasil mendirikan jemaat di Kampung Sawah dan berhasil memadukan ritus-ritus budaya dengan kekristenan yang menitikberatkan pada ngelmu dan hal-hal mistik lainnya. Sayangnya hal tersebut dianggap sinkretisme dan semakin lama praktik-praktik tersebut mulai memudar. Saat ini masih tersisa beberapa anggota jemaat yang menggunakan Doa Bapa Kami dalam bahasa Betawi untuk melindungi mereka di tem
pat-tempat angker.
Paroki Santo Servatius Kampung Sawah sendiri merupakan sempalan dari Gereja Protestan Kampung Sawah yang dirintis oleh Meester Anthing. Pada tahun 1895 jemaat Protestan Kampung Sawah terpecah menjadi tiga fraksi yang saling bermusuhan. Fraksi pertama adalah kelompok guru Laban yang bermarkas di Kampung Sawah barat, fraksi kedua adalah kelompok Yoseh yang mengadakan kebaktian di Kampung Sawah timur dan fraksi ketiga adalah kelompok guru Nathanael yang memilih Katolik Roma untuk masuk ke Kampung Sawah. Guru Nathanael sendiri melakukan hal tersebut setelah ia dipecat dari jabatan guru pembantu di Gereja Protestan Kampung Sawah. Ia kemudian mencari bantuan ke Gereja Katedral Jakarta yang berada di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Pada 22 Juni 1896 Guru Nathanael dibaptis. Pada 6 Oktober 1896 Pastor Bernardus Schweitz, seorang imam Yesuit, membaptis 18 anak, yang dianggap sebagai hari lahir umat Katolik Kampung Sawah.
Paroki Santo Servatius Kampung Sawah sendiri merupakan sempalan dari Gereja Protestan Kampung Sawah yang dirintis oleh Meester Anthing. Pada tahun 1895 jemaat Protestan Kampung Sawah terpecah menjadi tiga fraksi yang saling bermusuhan. Fraksi pertama adalah kelompok guru Laban yang bermarkas di Kampung Sawah barat, fraksi kedua adalah kelompok Yoseh yang mengadakan kebaktian di Kampung Sawah timur dan fraksi ketiga adalah kelompok guru Nathanael yang memilih Katolik Roma untuk masuk ke Kampung Sawah. Guru Nathanael sendiri melakukan hal tersebut setelah ia dipecat dari jabatan guru pembantu di Gereja Protestan Kampung Sawah. Ia kemudian mencari bantuan ke Gereja Katedral Jakarta yang berada di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.Pada 22 Juni 1896 Guru Nathanael dibaptis. Pada 6 Oktober 1896 Pastor Bernardus Schweitz, seorang imam Yesuit, membaptis 18 anak, yang dianggap sebagai hari lahir umat Katolik Kampung Sawah.

Pendirian bangunan gereja pertama

Pastor Bernardus Schweitz, S.J., berinisiatif mendirikan gereja di Kampung Sawah dengan membeli sebuah rumah desa dari tuan tanah keturunan Tionghoa di Pondok Gede, yang sebagian ditata untuk keperluan ibadat. Pada tahun 1897 berdirilah sebuah gereja sederhana yang mampu menampung sekitar 50 umat, dengan Engku Nathanael sebagai ketua stasi sekaligus guru agama. Pastor Schweitz yang jatuh sakit dan kembali ke Belanda pada tahun 1898, digantikan oleh Pastor A. Kortenhorst, S.J.

Pada awal abad ke-20, perkembangan umat Katolik di Kampung Sawah sempat terhambat akibat penolakan pemerintah kolonial, termasuk larangan pelayanan antara tahun 1902–1904. Situasi ini diperburuk dengan berpindahnya banyak umat ke Gereja Metodis pada 1906, termasuk Engku Nathanael. Pada 1917, hanya tersisa satu keluarga Katolik, sementara bangunan gereja telah dibongkar. Pastor A. Mathijsen, S.J., yang ditugaskan untuk menghidupkan kembali misi, melaporkan hampir tidak ada umat yang dapat dilayani.

Kebangkitan kembali dimulai pada 1920, ketika Pastor Yoanes van der Loo, S.J., mengambil alih pembinaan umat dan mengorganisasi petisi berisi 150 tanda tangan agar pelayanan dilanjutkan. Pada 1921, umat yang sebelumnya beribadah dalam Gereja Metodis kembali ke Gereja Katolik Roma, sehingga jumlah umat meningkat dari 20 menjadi 150 orang. Setahun kemudian, Pastor van der Loo memimpin pembangunan gereja kedua yang dilengkapi sebuah menara di atas tanah persawahan di lokasi gereja saat ini. Engku Benyamin Kadiman, tokoh Protestan yang kemudian dibaptis pada 1923, diangkat menjadi pemimpin umat.

Pastor Y. van Driel, S.J., menggantikan Pastor van der Loo dan dikenal dengan pelayanannya ke Kampung Sawah menggunakan sepeda. Pada tahun 1930, tanggung jawab pengelolaan dan pelayanan di Kampung Sawah diserahkan dari Serikat Yesus kepada Ordo Fransiskan. ‘

Pembentukan paroki

Pastor Oscar Cremers, O.F.M., menjadi imam pertama yang menetap di Kampung Sawah pada Mei 1935. Ia memimpin pembangunan gereja permanen yang diberkati pada 23 September 1937. Ia juga mengembangkan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah misi. Pada tahun yang sama, Klinik Melania didirikan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Inkulturasi budaya Betawi mulai diterapkan dalam liturgi, termasuk melalui tradisi Sedekah Bumi. Pada tahun 1936 Kampung Sawah resmi diangkat menjadi paroki dengan nama Santo Antonius dari Padua, dan pengesahan formal diberikan melalui surat tanggal 12 Maret 1941, sehinga menjadikannya salah satu paroki tertua di Vikariat Apostolik Batavia.
Lukisan Peristiwa Gedoran Oktober 1945.

Selama pendudukan Jepang (1942–1945), banyak imam Belanda ditahan di kamp interniran, dan pelayanan paroki dijalankan oleh awam seperti Poesposoepadma dan Benyamin Kadiman. Setelah proklamasi kemerdekaan, pada Oktober 1945 gereja mengalami penjarahan dan pembakaran oleh kelompok bersenjata, yang dikenal sebagai gedoran. Peristiwa ini memaksa umat mengungsi ke Jakarta dan beberapa wilayah sekitar. Bangunan gereja sebagian rusak, tetapi dapat dipulihkan. Pastor H. Voogdt memimpin upaya pemulihan pascaperang dengan membuka kembali sekolah pertama pada 1946. Pastor Fransiscus Soerjomoerdjito, Pr, yang menjabat sejak 1949, merenovasi pastoran, membentuk Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) pertama pada 1950, dan memimpin misa pertama di Bekasi pada 20 Juni 1950, yang menandai awal perkembangan Katolik di wilayah tersebut.

Pada 1950-an hingga awal 1960-an, pelayanan paroki dipegang para imam Serikat Yesus, termasuk Pastor Leonardus Daroewenda, S.J., Pastor Suitbertus Bratasoeganda, S.J., dan Pastor Robertus Bakker, S.J. Pastor Bakker mengembangkan karya sosial dengan membangun kembali Klinik Melania, memperluas jaringan sekolah Strada, serta merintis koperasi bebek untuk meningkatkan taraf hidup umat. SMP Strada Kampung Sawah dibuka resmi pada 1 Agustus 1965, yang diikuti dengan pendirian SMP Strada Nawar dan sekolah di Cakung Payangan. Program sosial-ekonomi diperluas dengan koperasi kredit dan proyek peketan lintas agama.

Katekis Marius Mariatmadja, yang telah berkarya sejak awal 1950-an, ditahbiskan menjadi imam diosesan pada 12 September 1971 pada usia 60 tahun, sehingga menjadikannya sebagai imam pertama asli Kampung Sawah. Pastor Mario dikenal luas karena keberanian dan dedikasinya melayani umat dalam situasi sulit. Pastor Mario meninggal dunia pada tahun 1972. Pelayanan paroki kemudian diambil alih para imam Yesuit dari Cililitan. Pastor C. Looymans, S.J., memimpin perluasan gereja pada tahun 1974–1977, diikuti oleh Pastor Martinus Oei Goan Tjiang, S.J. yang mengembangkan kegiatan pemuda, memperkuat pendidikan, dan membentuk program P3K (Pertanian, Perikanan, Peternakan).

Perkembangan gereja
Detail salib gereja di atas altar panti imam
Tampak belakang Gereja Santo Servatius dan lonceng gereja.

Pada tahun 1988, R.D. Aloysius Yus Noron, putra asli Kampung Sawah, ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta. Pastor Alex Dirdjasusanta, S.J., mulai menetap di Kampung Sawah pada awal 1990-an dan memimpin renovasi besar dengan membangun berbagai fasilitas, termasuk pendopo, Saung Maria, dan sakristi. Pastor Rudolf Kurris, S.J., diangkat sebagai pastor kepala pada 1 Juni 1993. Ia dikenal dengan kunjungan rutin ke seluruh lingkungan umat dan memimpin proses revitalisasi pastoral paroki. Pada tahun 1995, pelindung paroki diganti dari Santo Antonius Padua menjadi Santo Servatius. Adapun Santo Antonius Padua telah menjadi pelindung paroki di Bidara Cina, Jakarta Timur.

Pembangunan gereja baru dimulai dengan rancangan arsitek Gregorius Sidharta bergaya Romanesque. Peletakan batu pertama gereja berlangsung pada 12 Agustus 1995. Adapun tiga tokoh yang meletakkan batu-batu awal gedung gereja ini adalah Nuncio Apostolik untuk Indonesia Pietro Sambi, Pastor Paroki Kampung Sawah R.P. Rudolphus Kurris, S.J., dan oleh Ketua Panitia Pembangunan Yos Mutis. Gereja tersebut diberkati pada tahun 1996 dengan menara tujuh lantai, kaca patri yang menggambarkan riwayat Santo Servatius, serta ornamen liturgis karya seniman nasional. Pada tahun 1996, Gereja Santo Servatius menjadi lokasi penyelenggaraan Misa Penutupan Sidang Konferensi Waligereja Indonesia yang dihadiri para uskup yang ada di Indonesia. Sejak saat itu, misa dengan gaya Betawi mulai diperkenalkan, sehingga menjadikan Paroki Kampung Sawah sebagai pusat inkulturasi budaya Betawi dalam liturgi Gereja Katolik.
Pada 4 Januari 2026, Gereja Santo Servatius meresmikan sebuah ruang adorasi yang terletak di dekat Saung Maria. Adapun ruang adorasi ini menempati lahan yang dahulu digunakan sebagai paseban. Pada 1 Mei 2026, hujan dan tiupan angin di sekitar Kota Bekasi membuat kerusakan pada sejumlah titik di Gereja Santo Servatius.

Ritual Bebaritan dan Sedekah Bumi
Rumah Betawi di halaman depan gereja

Bebaritan adalah ritual animisme yang dilakukan oleh warga Kampung Sawah untuk memohon keselamatan kepada denghaeng, dedemit, ataupun penunggu dari suatu daerah yang dianggap angker. Seluruh warga membawa makanan yang diolah dari hasil bumi mereka masing-masing dan berkumpul di tempat angker tersebut. Semua makanan yang telah dibawa oleh tiap-tiap warga dicampur dan disusun di atas daun pisang yang lebar sebagai alasnya. Warga kemudian mengambil tempat dan berbaris sejajar dengan makanan yang sudah disusunnya. Kemudian pemimpin ritual membacakan rapal-rapal (mantra-mantra) dari ujung barisan. Setelah pembacaan rapal, seluruh warga menyantap makanan yang telah mereka susun di atas daun pisang tadi. Ungkapan syukur warga melalui pembacaan rapalan dan acara makan bersama biasanya diisi pula dengan tari-tarian dan musik tradisional Betawi.

Saat ini ritual bebaritan dalam bentuk yang asli sudah tidak ada lagi. Ritual bebaritan terakhir kali dilakukan pada tahun 1963/1964 dan dilangsungkan dalam bentuk yang lebih modern, yaitu dengan dangdutan. Pada tahun 1936, untuk pertama kalinya diadakan upacara sedekah bumi di antara anggota Paroki Santo Servatius Kampung Sawah. Ketika itu Pastor Oscar Cremers, O.F.M. memberkati panen padi sebagai bentuk pengucapan syukur dari warga Kampung Sawah. Peristiwa tersebut menjadi cikal-bakal ritual sedekah bumi di Paroki Santo Servatius. Ritual sedekah bumi hingga kini dilaksanakan setiap tanggal 13 Mei.

Saat itu ritual tersebut dilakukan secara sederhana, yaitu pemberkatan panen dan pembagian sebagian hasil panen tersebut kepada penderep. Penderep adalah orang-orang yang membantu pemilik sawah untuk memetik hasil panennya.[5] Ritual tersebut kemudian juga dilakukan dalam bentuk penyerahan persembahan dari warga gereja yang hadir ketika ekaristi dilaksanakan. Para anggota Gereja Santo Servatius menyerahkan hasil bumi berupa kelapa, durian, nangka, rambutan, singkong, padi, dan sebagainya, secara langsung dalam misa di gereja.

Inkulturasi Budaya Betawi
Keseluruhan kompleks gereja, menunjukkan aksen-aksen budaya Betawi di bangunannya.

Pada tanggal 13 Mei 1996, yaitu hari peringatan Santo Servatius, sebanyak enam laki-laki dan enam perempuan asli Betawi dilantik sebagai anggota perkerabatan Santo Servatius. Perkerabatan Santo Servatius merupakan bentuk penghidupan kembali tradisi kuno dalam gereja Katolik yang mengungkapkan iman para anggotanya melalui bentuk-bentuk lahiriah untuk nilai-nilai spiritual (seperti fraternity atau conferia). Perkerabatan tersebut bertujuan untuk melayani dan memperkenalkan devosi terhadap Santo Servatius yang relikwinya akan ditempatkan di dalam gereja tersebut. Berbagai atribut pakaian khas Betawi pun digunakan oleh mereka, seperti peci hitam, celana komprang hitam, baju sadaria putih, sarung merah dan golok bagi para bapak, sedangkan bagi para ibu menggunakan kerudung putih, sarung batik dan kebaya putih. Korps musik tanjidor untuk pertama kalinya tampil di tengah anggota jemaat. Nyanyian jemaat pun digubah sesuai dengan nada lagu Betawi yang sebagian besar digubah oleh Marsianus Balita. Upacara tersebut ditutup dengan makan bersama di halaman gereja dan di Warung Servas (singkatan dari Servatius) yang terletak di seberang gereja. Pelantikan tersebut dilakukan bersamaan dengan ritual sedekah bumi yang menjadi ciri khas paroki Santo Servatius.
Kondisi paseban di halaman belakang gereja sebelum alih fungsi

Saat ini setiap tanggal 13 Mei, Saat ini setiap tanggal 13 Mei, Gereja Santo Servatius selalu mengadakan ritual sedekah bumi dan pesta rakyat yang berlangsung selama misa dan setelah misa. Selain berbagi hasil bumi berupa makanan khas Kampung Sawah seperti kue abug, singkong rebus, kacang rebus, dan lain-lain. Acara ini juga dimeriahkan dengan lagu-lagu Benyamin S. Selain acara-acara tersebut, di dalam ritual sedekah bumi juga dilakukan pembuatan dodol (ngaduk dodol). Dodol ini diolah sejak dini hari dan dilakukan selama tujuh jam. Makna dari kegiatan ngaduk dodol ini tidak terlepas dari syarat-syarat dalam proses pembuatannya. Syarat pertama adalah syarat kultural yang dibagi menjadi dua macam yaitu sugesti dan pengendalian. Bentuk sugesti yang dilakukan adalah dengan menepuk kuali sebanyak tiga kali sambil mengajukan permintaan agar dodol jadi dalam waktu yang telah ditentukan, tetapi apabila tidak jadi sesuai dengan waktu yang ditentukan maka dodol tersebut akan dihanyutkan ke sungai yang mengalir.

Bentuk pengendalian yang dilakukan selama pembuatan dodol adalah menjaga agar adonan tidak terlalu encer. Orang yang boleh mencicipi kole (dodol setengah jadi) adalah orang yang dianggap paling tua. Kayu yang digunakan untuk bahan bakar adalah kayu rambutan atau pelepah kelapa sebab tidak menimbulkan banyak abu. Selain itu, api yang digunakan untuk memasak adonan dodol harus dijaga agar tetap kecil dan tidak padam.(Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Hari Pangan sedunia 16 Oktober 2026”

8 Oktober 2026 - 04:51 WIB

“HUT Lansia Sedunia 1 Oktober 2026 di GOR Candrabaga -Bekasi

2 Oktober 2026 - 13:12 WIB

 Outing Class KUN Pondok Melati dirumah Perubahan / Jakarta Escape(rumah Victoria) Jumat 18 Sept 2026

24 September 2026 - 09:47 WIB

 Praktek Pendidikan di era Artivicial Inteligent (AI )

24 September 2026 - 01:02 WIB

“PPPT Siapkan Naskah Akademik RUU Provinsi Tapanuli untuk Diserahkan ke Presiden”

22 September 2026 - 15:16 WIB

Trending di Jakarta