Menu

Mode Gelap
Jambore Ormas Kota Tangerang tahun 2026 Resmi ditutup oleh Bakesbangpol Bpk Wawan Fauzy “”Air Mata untuk Tanah Tumpah Darah” Pemdes Tanggunggunung Gelar Musrenbangdes Menyepakati Rancangan RKPDes Tahun 2027 Independen Sosial Control ISC Kota Tangerang Hadiri Jambore Ormas se-Kota Tangerang”Wali kota Tangerang ! Drs.H Sachrudin Tekankan pentingnya bersinergi antara Pemerintah dengan Ormas” Latihan Dalmas Rutin, Polres Humbahas Pastikan Personel Siap Hadapi Situasi Lapangan Pemdes Jenglungharjo Gelar Musrenbangdes Menyepakati Rancangan RKPDes Tahun 2027

News

“”Air Mata untuk Tanah Tumpah Darah”

badge-check


					“”Air Mata untuk Tanah Tumpah Darah” Perbesar

Oleh : Adharta Ongkosaputra ketum KRIS,

Sebuah bangunan yang runtuh di Kabupaten Manggarai Timur

Dipublikasikan Ringo di Liputan Nusantara
akarta, Agustus Liputan Nusantara (LN), Pada tanggal 15 Agustus 2026, pukul 05:58 WITA, gempa bumi berkekuatan Mw 7.7 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Gempa bumi tersebut juga memicu tsunami dengan ketinggian mencapai 1,61 m (5 ft 3 in). Gempa bumi tersebut merupakan yang terkuat di wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak tahun 1992.

Gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 yang menguncantg Mbay-Nagekco,NTT, Sabtu 15/8/2026 subuh.

Madrasah rusak di Reok, Kabupaten Manggarai

Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Senin (24/8/2026).

Adharta Ongkosaputra Ketum KRIS brsama istri

Gempa bumi tersebut memicu peringatan tsunami untuk wilayah Flores dan Sulawesi. Sekitar 2.000 orang kemudian mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir akan terjadinya tsunami. Setidaknya 103 orang tewas akibat gempa bumi ini, sementara 1.666 orang lainnya mengalami luka-luka. Sekitar 73.818 rumah mengalami kerusakan, termasuk lebih dari 23.200 rumah yang rusak berat. Banyak rumah sakit di wilayah tersebut rusak atau hancur, sehingga pasien terpaksa dirawat di luar ruangan. Lebih dari 185.131 orang mengungsi, dengan 20.000 di antaranya tercatat berada di Manggarai. Keadaan darurat selama 14 hari ditetapkan di Nusa Tenggara Timur seiring dimulainya upaya penyelamatan untuk mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan. Dilansir (dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

H+9 PASKA GEMPA FLORES NTT dalam ingatan saya kata Adharta,melalui pesan singkatnya di WAG Seninm 24 Agustus 26, dari persahabatan saya dengan almarhum Bapak Bob Sadino. Kami pernah berbicara mengenai kehidupan yang terus bergerak, berubah, jatuh, lalu mencari keseimbangannya Kembali Dynamic Equilibrium. Saya sering membayangkannya seperti orang menapis beras. Beras itu digoyang. Ditapis. Naik turun. Bergeser ke kiri dan ke kanan. Bukan supaya beras itu rusak, tetapi supaya akhirnya kita mendapatkan yang baik dan bersih. Begitulah kadang-kadang kehidupan. Tetapi pagi ini saya kembali bertanya dalam hati Tuhan, sampai kapan tanah Flores ini harus terus “ditapis”? Pukul 04.30 Bumi Kembali Bergoyang Pagi tadi, sekitar pukul 04.30, bumi kembali bergoyang. Gempa sekitar magnitudo 5 terasa cukup keras. Padahal tim KRIS kami baru kembali menjelang subuh dari Mbay, setelah menjalankan tugas kemanusiaan. Mereka kelelahan. Seharian melayani masyarakat, melakukan pelayanan kesehatan, membagikan makanan, air minum, telur, susu, serta berbagai bahan kebutuhan lainnya. Tubuh baru ingin direbahkan. Mata baru ingin terpejam.

Tiba-tiba bumi berguncang ujar Adharta. Semua terpaksa keluar dan beristirahat di luar. Tidak ada lagi pikiran tentang kasur yang nyaman. Yang penting selamat. Sampai agak siang komunikasi pun sulit.
Ketika akhirnya saya dapat berbicara dengan Bapak Alfons dan kawan-kawan, saya mencoba mencairkan suasana kenangnya. Saya berkata sambung dia lagi, “Berbahagialah orang yang susah dan sedih, karena kepadanya akan mendapat hiburan.” Mereka tertawa. Lalu ada yang menjawab: “Hiburan apa, Pak? Ini goyangnya sudah cukup keras!” Kami tertawa bersama.Saya tahu, orang yang sedang sangat lelah kalau diajak bercanda salah-salah malah bisa marah. Maka saya bilang: “Sudahlah ” Kita cari makan yang enak saja. Kalian harus makan. “Kalian harus sehat.” Di balik tawa itu, hati saya sebenarnya menangis. Karena saya tahu mereka lelah. Saya tahu mereka takut. Tetapi saya juga tahu mereka tidak meninggalkan masyarakat yang membutuhkan mereka. Kalau keadaan memungkinkan, kalau penerbangan sudah kembali normal dan lapangan terbang sudah dibuka, dalam waktu dekat saya sendiri ingin menuju Flores. Saya ingin berada bersama mereka. Obat su Habis, tetapi Pelayanan Tidak Boleh Berhenti Kerja keras tim dimulai dari pemeriksaan kesehatan, pembagian obat-obatan, pemeriksaan ibu-ibu hamil, sampai mendatangi masyarakat yang masih membutuhkan pertolongan. Lalu saya menerima kabar “Pak, obat-obatan mulai habis.”Kalimat sederhana itu membuat saya terdiam. Di Jakarta kita mungkin mudah pergi ke apotek.

Tetapi di daerah bencana, ketika jalan tertutup longsor, komunikasi terputus, transportasi terganggu, dan banyak orang berada di pengungsian, satu tablet obat pun menjadi sangat berharga. Saya menghubungi dr. Fanny. Kalau memungkinkan, untuk sementara obat yang mendesak dibeli di sana. Besok akan saya usahakan agar obat-obatan yang lebih lengkap dapat segera dikirim dari Jakarta. Karena orang sakit tidak bisa menunggu. Ibu hamil tidak bisa menunggu. Anak yang demam pilek selesma batuk tidak bisa disuruh menunggu sampai jalan terbuka. Inilah pelayanan ujar Adharta yang ketua umum KRIS ini. Kadang kadang bukan soal melakukan sesuatu yang besar. Kadang pelayanan berarti memastikan satu orang memperoleh obat pada saat ia benar-benar membutuhkannya. Vest KRIS yang Sudah Lusuh Ada satu cerita kecil yang sangat menyentuh hati saya. Pastor Patris, SVD, di kemah Tabor, hampir tidak pernah melepaskan Vest KRIS. Beliau berkata kepada saya “Saya bangga sekali memakai Vest KRIS.” Luar biasa Saya terharu mendengarnya. Vest itu mungkin sudah lama dipakai. Sudah lusuh, sudah lecek, mungkinwarnanya tidak seperti ketika pertama kali diberikan. Tetapi justru di situlah nilainya.
Vest itu menjadi saksi perjalanan pelayanan. Saya lalu bilang kepada Ibu Sekjen: “Tolong ganti Vest para Romo dan para relawan yang sudah lusuh. Nanti kirim bersama obat-obatan. Para dokter juga tolong disiapkan.” Di Flores, terutama malam dan dini hari, udara dapat terasa dingin.
Vest KRIS yang hangat setidaknya dapat membantu mereka yang harus terus berada di lapangan.
Bagi saya, Vest atau Rompi KRIS bukan sekadar pakaian. Di tengah bencana, ia membawa satu pesan Saya hadir. Saya melayani Saya tidak meninggalkan saudara saya sendirian. Mereka Masih Tidur di Tenda Sampai hari ini masih ada korban bencana yang tinggal di tenda-tenda. Malam datang dengan dingin. Anak-anak tidur berdekatan dengan orangtuanya. Para ibu menjaga anak-anaknya. Para lansia mencoba beristirahat dalam keadaan yang jauh dari nyaman. Karena itu kebutuhan selimut dan kasur lipat masih sangat besar. Mungkin bagi kita sebuah selimut adalah barang biasa. Tetapi bagi seorang mama yang malam-malam memeluk anaknya di dalam tenda, selimut adalah kehangatan. Kasur lipat mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi seorang opa atau oma yang sudah berhari-hari tidur dengan fasilitas seadanya, kasur itu adalah kemewahan.
Begitu Banyak Tangan yang Datang Membantu Di tengah semua kesedihan ini, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya kembali kuat. Begitu banyak orang datang membantu. Begitu banyak komunitas bergerak. Saya berkomunikasi dengan dr. Irene Setiadi, Sp.KK, melalui KBKK.
Keuskupan keuskupan, paroki-paroki dan berbagai kelompok ikut bergerak. Puji syukur kepada Tuhan. Ibu Lusi Liando, Ketua John Paul the Second Foundation, juga mengirimkan berbagai macam bantuan. Saya sungguh berterima kasih. Demikian juga JPIC Kapusin Sibolga.

Dari tempat yang jauh mereka ikut memberikan bantuan. Saya sampai berkata “Orang susah membantu orang yang lebih susah.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi itulah Indonesia yang saya cintai. Orang tidak bertanya “Kamu dari kelompok mana?” “Kamu suku apa?”

“Kamu kenal saya atau tidak?” Yang mereka lihat hanya satu Di sana ada saudara kita yang sedang membutuhkan pertolongan. Untuk semua Keuskupan, Paroki, komunitas, dokter, tenaga kesehatan, relawan, donatur, Romo, Bruder, Suster, Frater Para Pendeta Biksu Bante Para Ustad Ustadzah Pemuka agama Mana saja Terima kasih Juga masyarakat, pengemudi, petugas lapangan, mereka yang mengangkat barang, memasak makanan, mengirim air, mengantar obat, membuka jalan, menjaga tenda, dan semua orang yang bekerja dalam diam dalam Doa Terima kasih. Jangan sampai ada satu orang pun yang merasa dilupakan. Beta Pung Tanah Tumpah Darah
Saya ingin mengatakan dengan bahasa dari hati Terima kasih semua pihak yang su bantu beta pung tanah tumpah darah. Ketika melihat Flores terluka, hati orang NTT di mana pun berada pasti ikut terluka. Tetes air mata mengalir ketika teringat lagu “Bolelebo”. Tanah Timor lebe bae… Lalu hati kembali tersayat ketika mendengar “Mai Fali E”, lagu dari Rote, seakan terdengar suara Mama dari kejauhan “Pulanglah, Nak…” Mama memanggil pulang.
Dan bagi semua orang NTT di perantauan, mungkin hari-hari ini panggilan itu bukan berarti kita semua harus pulang secara fisik. Tetapi hati kita harus pulang. Pulang untuk mengingat kampung.
Pulang untuk mengingat Mama. Pulang untuk mengingat saudara-saudara kita yang sedang tidur di tenda. Pulang untuk mengingat tanah tempat leluhur kita berjalan Mari kita satu hati, satu jiwa, satu tujuan: BANTU NTT. Sapa lagi yang mau bantu ketong pung tanah kalau bukan katong sendiri yang pertama-tama wajib bantu? Dan sesudah itu, kita bergandengan tangan dengan semua saudara dari mana pun yang datang dengan cinta. Pesan Mama Di ujung malam ini saya teringat suara seorang Mama. Suara sederhana. Tidak pandai membuat pidato. Tidak memakai kata-kata tinggi. Mama bilang: “Son mau son apa? Yang mau ju son apa? Beta pung mata masih ada air. Kalau sampai kering, beta son tau mau omong apa…” Anak anaku Mau datang boleh
Tidak datang juga boleh Mama masih punya airmata Tapi kalau airmata sudah kering Mama tidak tau mau bilang apa Saya terdiam. Air mata seorang Mama mungkin suatu hari bisa kering.
Tetapi jangan sampai kasih kita ikut mengering. Jangan sampai kepedulian kita habis. Jangan sampai kita lelah untuk berbuat baik. Flores boleh bergoyang. Tanah boleh longsor. Jalan boleh terputus. Komunikasi boleh hilang. Tetapi persaudaraan jangan pernah terputus.

DOA UNTUK PARA LASKAR KEMANUSIAAN

Tuhan Yang Maha Pengasih,
Malam ini kami menyerahkan Flores, NTT, dan seluruh korban bencana ke dalam tangan-Mu.
Peluklah mereka yang masih tinggal di tenda. Hangatkan mereka yang kedinginan. Hibur mereka yang kehilangan. Sembuhkan mereka yang sakit Kuatkan ibu-ibu hamil, anak-anak, para lansia, dan semua keluarga yang sedang takut menghadapi hari esok.
Tuhan, kami juga menitipkan seluruh laskar kemanusiaan yang sedang bekerja di lapangan.
Para dokter dan tenaga kesehatan. Para Romo, Bruder dan Suster. Pendeta Biksu dan Bante Para Ustad dan Ustadzah Para relawan. Para donatur. Para pengemudi. Para petugas. Semua komunitas dan siapa pun yangdatang membawa pertolongan. Jangan lupa satu orang pun, Tuhan. Jaga mereka satu per satu. Jangan biarkan mereka sakit. Jangan biarkan mereka jatuh. Jangan biarkan mereka terluka. Ketika tubuh mereka lelah, berikan kekuatan. Ketika hati mereka takut, berikan keberanian. Ketika mereka hampir menyerah, ingatkan bahwa di balik setiap obat yang diberikan, setiap botol air yang dibagikan, setiap selimut yang diselimutkan, dan setiap tangan yang digenggam, ada kasih-Mu yang sedang bekerja. Kuatkan mereka lahir dan batin. Dan semoga dari tanah yang hari ini berguncang dan dari air mata yang hari ini mengalir, kelak tumbuh kembali harapan.Tuhan, jaga Flores. Tuhan, jaga NTT. Tuhan, jaga Indonesia. Amin.tutup Adharta. (Ring-o)
Adharta Ketua Umum KRIS
24 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

 Mata Sehat,Lansia Hebat,Tetap Mandiri dan Aktif.

26 Agustus 2026 - 01:06 WIB

Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju dalam AcaraHUT RI ke 81 di Istana Negara 17 Agustus 2026″

20 Agustus 2026 - 06:40 WIB

Rupiah Berdaulat, Indonesia Bermartabat”Dalam Festival FERBI 14 s.d 16 Agustus di Istora Senayan”

18 Agustus 2026 - 23:45 WIB

Momentum HUT-RI Ke-81, DPP AWII Tegaskan Komitmen Pengawalan Pers yang Independen dan Merdeka

18 Agustus 2026 - 15:13 WIB

THE PRABOWONOMICS INSTITUTE / THE PRINT “PASAL VS PASAR: KAMI PILIH KONSTITUSI”

15 Agustus 2026 - 01:24 WIB

Trending di Jakarta