Menu

Mode Gelap
Sepak Bola dan Dongeng Kebaikan Bapas Jakarta Barat Komitmen Perkuat Sinergi dengan FORKOPIMKO demi Keamanan dan Ketertiban Pemkab Humbahas Terima Kunjungan Kerja DPRD Provinsi Sumatera Utara.  “Acara Peluncuran Buku Prabowonomics 6 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center ( JICC)” PWI–Tirta Benteng Perkuat Sinergi, Publikasi Layanan Air Kini Lebih Masif” Tampak Janggal !!! Juru Sita Eksekusi Pengadilan Negeri Jakarta Barat Laksanakan Eksekusi Lahan Tanah Kosong dengan Konstatering (pencocokan batas objek tanah yang tidak jelas).

News

Sepak Bola dan Dongeng Kebaikan

badge-check


					Sepak Bola dan Dongeng Kebaikan Perbesar

Oleh: Adharta Ketua Umum KRIS 6 Juli 2026,Di publikasikan oleh : Ringo di Liputan Nusantara

Foto: Timnas Indonesia U-23 lolos ke Piala Asia U-23 2024 di Qatar. (Dok. PSSI)

 

Jakarta, Juli, Liputan Nusantara (LN), Sejarah sepak bola dunia berawal dari permainan kuno di China pada abad ke-2 hingga ke-3 SM yang disebut Cuju. Olahraga ini kemudian berevolusi menjadi sepak bola modern yang distandarisasi di London, Inggris, pada tahun 1863 melalui pembentukan badan resmi Football Association (FA)dilansir dari (detik.com)
Sepak bola menjadi salah satu cabang olahraga populer di dunia termasuk di Indonesia. Sepak bola merupakan jenis olahraga permainan seni mengolah bola yang dilakukan secara tim yang beranggotakan 11 orang pemain.
Sepak bola diketahui sudah ada dan dikenal sejak lama bahkan dari masa sebelum masehi. Hingga kini sepakbola masih terus berkembang di berbagai belahan dunia.

 


Meski kini permainan sepak bola identik dengan digemari oleh para kaum laki-laki, namun tidak sedikit juga perempuan yang menyukai dan turut bermain.
Dalam permainan sepak bola, tujuan utamanya adalah mencetak gol sebanyak-banyaknya dengan memasukan bola ke gawang lawan. Selain itu, permainan juga mengharuskan sikap menjunjung tinggi sportifitas antar pemain baik kawan maupun lawan.
Sejarah Sepak Bola Dunia
Dikutip dari dari laman Kemdikbud, sejarah olahraga sepak bola dimulai sejak abad ke-2 dan ke-3 sebelum Masehi di Ch

Adharta Ongkosaputra Ketum Kill Covid (kiri)sedang berbincang dengan Fajar Saputra (kanan) dari Gatra TV

Pada masa Dinasti Han, masyarakat China diketahui sudah mengenal permainan menggiring bola kulit dengan menendangnya ke gawang berbentuk jaring kecil. Permainan bola itu disebut dengan Tsu chu. Namun, olahraga yang di kemudian hari disebut sebagai sepak bola itu, dulunya tak dimainkan oleh masyarakat biasa. Pada saat itu, sepak bola dimainkan oleh tentara Tiongkok untuk menjaga fisiknya. Di sisi lain, mereka juga bermain sebagai sarana hiburan ketika ada perayaan ulang tahun kaisar.
Berdasarkan catatan sejarah, tidak hanya di China dan Jepang, tapi permainan sepak bola kuno juga ditemukan di negara-negara lain seperti Romawi, Inggris, Meksiko, Amerika Tengah sampai ke Mesir kuno yang sudah memainkan sepak bola dengan memakai bola yang terbuat dari karet.
Seiring berkembangnya zaman, sepak bola kemudian tak hanya dikenal di wilayah kecil saja melainkan dikenal di lingkungan universitas dan sekolah. Perkembangan ini mulai terlihat pada tahun 1815 dan terus berkembang hingga menjelang tahun 1900.

Saat itu, sepak bola modern mulai berkembang di Inggris setelah diadakan pertemuan oleh 11 wakil dari perkumpulan sepak bola yang ada di Football Association Freemasons Tavern di London pada 1863.
Kembali ke kisah sepak bola versi Adharta, Ketum KRIS & Dongen kebaikannya:
Malam itu, langit di atas Singapura tampak tenangkata Adharta memulai kisahnya,. Pesawat Citilink QG 527 yang saya tumpangi perlahan meninggalkan landasan, Changi membelah gelap menuju Jakarta. Di dalam kabin, lampu redup, sebagian penumpang terlelap, sebagian lagi masih terjaga dan seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini, percakapan kami tak jauh dari satu hal sepak bola piala Dunia.
Demam sepak bola sedang melanda dunia. Dari warung kopi kecil di sudut kampung hingga ruang tunggu bandara internasional sambungnya , semua orang membicarakan Sepak bola bukan lagi sekadar permainan. Ia telah menjadi bahasa universal, menyatukan perbedaan, bahkan menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia. Saya tersenyum sendiri. Kecintaan saya pada sepak bola bukan hal baru. Sejak muda, saya pernah terlibat di organisasi PSS Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia Walau kemampuan bermain saya terbatas,kenang Adharta yang sering berwisata ke berbagai negara ini, terutama Singapura, kecintaan itu tak pernah padam. Kini, gairah itu menurun kepada anak kedua saya, Dirga, di Melbourne yang bahkan pernah memenangkan tiket pertandingan Piala Duni. Dan beberapa kali ke Amerika hanya untuk nonton bola sebuah kebanggaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Di dalam pesawat, obrolan semakin hangat. Beberapa teman lama menghubungi saya, mengajak ikut “tarohan ringan” bukan judi, kata mereka, hanya seru-seruan menebak skor. Saya tertawa kecil. “Saya tidak ikut,” jawab saya. “Kenapa?” mereka bertanya. “Karena saya pasti menang.”
Mereka semakin penasaran. “Kalau begitu, berapa skornya?” Saya menjawab santai, “0–0.”
Untuk Argentina dan Cape Verde Tawa mereka pecah. Tidak ada yang percaya.
Mereka yakin pertandingan itu akan berakhir dengan skor besar—3–0, atau lebih untuk Argentina.
Namun kenyataan berkata lain. Skor akhir benar-benar 2–2. Melalui perpanjangan waktu setelah 90 menit Argentina menang 3:2. Di situlah saya mulai berpikir: sepak bola sering kali bukan soal kekuatan, bukan soal statistik, tapi tentang sesuatu yang lebih dalam tentang keseimbangan, kerendahan hati, dan kadang tentang dongeng ujar Adharta dalam analisisnya. Saya lalu teringat sebuah cerita sederhana yang sering saya ceritakan kepada cucu saya, Fayola. Di dunia dongeng, hiduplah seekor kelinci yang sombong. Ia merasa dirinya paling cepat, paling hebat.
Suatu hari, ia menantang kura-kura untuk berlomba. Semua makhluk di hutan tertawa. Bagaimana mungkin kura-kura yang berjalan pelan bisa mengalahkan kelinci? Namun lomba itu tetap berlangsung. Kelinci melesat seperti kilat, meninggalkan kura-kura jauh di belakang. Dengan penuh percaya diri, ia berhenti di tengah jalan untuk beristirahat dan tidur “Kura-kura itu terlalu lambat,” pikirnya. “Aku masih punya banyak waktu.” Ia pun tertidur lelap.
Sementara itu, kura-kura terus berjalan. Pelan, konsisten, tanpa berhenti. Hingga akhirnya, ia melewati kelinci yang tertidur dan mencapai garis akhir. Skor pun tercipta: 1–0 untuk kura-kura.
Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa kesombongan adalah awal dari kekalahan, dan ketekunan adalah jalan menuju kemenangan. Seperti dalam sepak bola. Seperti dalam hidup.(Meskipun ini adalah cerita dongeng,tetapi penuh makna, memberi pelajaran bagi manusia)
Namun malam itu lanjut Adharta, di antara gemuruh mesin pesawat dan bisikan percakapan, imajinasi saya melayang lebih jauh ke sebuah dongeng yang lebih besar. Konon, jauh sebelum manusia mengenal sepak bola, permainan ini sudah dimainkan oleh para dewa. Di langit yang tak terbatas, terdapat dua kelompok dewa yang gemar bermain bola. Mereka mengenakan jubah berwarna merah dan biru. Lapangan mereka bukan stadion biasa melainkan seluruh jagad raya.
Bola yang mereka gunakan bukan bola kulit, melainkan bola cahaya, berkilau seperti bintang. Setiap dewa memiliki perannya masing-masing Dewa hujan menjadi penjaga gawang. Dewa angin dan dewa laut menjaga sisi kiri dan kanan pertahanan. Dewa tanah dan dewa gunung menguasai lini tengah. Sementara di lini depan, dewa makanan, dewa binatang, dan dewa tambang menjadi penyerang. Pertandingan mereka selalu spektakuler. Disaksikan oleh dewa-dewa lain yang menjadi suporter, sorak sorai mereka menggema hingga ke bumi. Namun ada satu masalah.
Ketika para dewa terlalu asyik bermain bola, mereka lupa akan tugasnya. Dewa hujan lupa menurunkan hujan. Dewa angin berhenti berhembus. Dewa makanan tidak lagi menumbuhkan buah-buahan. Di bumi, manusia mulai merasakan dampaknya. Kekeringan melanda. Tanaman mati. Laut menjadi tenang tanpa angin. Dunia perlahan kehilangan keseimbangan.
Manusia pun berdoa. Doa itu naik ke langit, menembus awan, hingga sampai ke telinga para dewa. Pertandingan pun terhenti. Skor saat itu? 0–0. Tidak ada pemenang. Para dewa akhirnya menyadari kesalahan mereka. Mereka sepakat untuk menunda pertandingan dan kembali menjalankan tugasnya. Mereka berjanji akan melanjutkan pertandingan di akhir pekan setelah memastikan dunia kembali seimbang. Sejak saat itu, sepak bola bukan hanya permainan. Ia menjadi simbol keseimbangan antara kesenangan dan tanggung jawab. Pesawat mulai sedikit bergetar, menandakan kami telah memasuki wilayah udara Indonesia. Saya menarik napas panjang, membiarkan kenangan mengalir. Saya teringat masa-masa di era 80-an, saat saya aktif di PSSI. Bersama tokoh-tokoh seperti sekjen Nugraha Besoes. Bendahara Gasfan Ali, serta kepemimpinan Kardono dan Azwar Anas, kami membangun mimpi besar untuk sepak bola Indonesia Saya sendiri pernah dipercaya sebagai ketua pengembangan, sekaligus memimpin redaksi Majalah Sepak Bola. Itu adalah masa penuh semangat, masa di mana sepak bola bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga tentang membangun karakter, persatuan, dan harapan.
Semalam, saya menyaksikan pertandingan Brasil melawan Norwegia lanjutnya lagi. Hati saya tentu mendukung Brasil. Banyak kenangan, banyak teman di sana. Namun seperti dongeng dongeng yang saya ceritakan, hasil pertandingan tidak selalu mengikuti harapan. Sepak bola selalu punya cara sendiri.
untuk mengajarkan kita tentang kehidupan. Tentang bagaimana yang kuat bisa terhenti. Tentang bagaimana yang lemah bisa bangkit. Tentang bagaimana skor 2 – 1 pun bisa menyimpan makna yang dalam. Brasil kalah
Pesawat mulai bersiap untuk mendarat. Lampu kabin kembali terang. Saya menatap keluar jendela lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Saya tersenyum.
Mungkin benar, sepak bola adalah dongeng. Namun bukan dongeng kosong. Ia adalah dongeng tentang kebaikan. Tentang kerendahan hati. Tentang keseimbangan. Tentang harapan. Dan seperti semua dongeng yang indah, ia selalu meninggalkan satu pesan sederhana: Bahwa dalam hidup, bukan siapa yang paling kuat yang akan menang tetapi siapa yang tetap berjalan, tetap percaya, dan tidak pernah lupa akan kebaikan Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menang atau kalah. Melainkan tentang bagaimana kita bermain dengan hati. Hayo tebak siapa juara dunia Saya pilih Argentina tutup Adharta ( Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

 “Acara Peluncuran Buku Prabowonomics 6 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center ( JICC)”

8 Juli 2026 - 13:55 WIB

Tampak Janggal !!! Juru Sita Eksekusi Pengadilan Negeri Jakarta Barat Laksanakan Eksekusi Lahan Tanah Kosong dengan Konstatering (pencocokan batas objek tanah yang tidak jelas).

8 Juli 2026 - 04:16 WIB

I love Singapra”oleh Adharta, dipublikasikan RIngo di Liputan Nusantara.

8 Juli 2026 - 00:55 WIB

 “Peluncuran Buku Prabowonomics”

5 Juli 2026 - 00:20 WIB

 80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”.Merupakan tema HUT Bayangkara ke 80 “) 1 JULI 2026 Di gelar di Cikeas Bogor

3 Juli 2026 - 03:00 WIB

Trending di Jakarta