Menu

Mode Gelap
 “Mendesain Kurikulum Laudato Si’ Sekolah di Indonesia “  “JADWAL TENTATIF AUDIENSI YONGE SIHOMBING, S.E., M.B.A. 27 April s/d 21 Mei 2026” Komisi II Pastikan Program Job Fair bagi Penyandang Disabilitas Berdampak Nyata. Bapas Jakarta Barat Dinobatkan Sebagai yang Terbaik di Indonesia pada HBP ke-62 Cek Kesehatan Aparatur, Kecamatan Neglasari Perkuat Budaya Kerja Sehat Perayaan Paskah komuntas Lansia gereja Kampung sawah Paroki Servatius, Jumat ,24 April ’26 di ruang Bernadus Gereja Serva

News

 “Mendesain Kurikulum Laudato Si’ Sekolah di Indonesia “

badge-check


					 “Mendesain Kurikulum Laudato Si’ Sekolah di Indonesia “ Perbesar

Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik Konferensi Waligereja Indonesia (MNPK KWI), Romo Vinsesius Darmin Mbula, OFM dalam Webinar Laudato Si’ Action Plan (LSAP), 6 Juni 2022,

Jakarta, April, Liputan Nusantara (LN),N), Memaknai 10 Tahun Ensiklik Laudato Si Indonesia” yang telah saya (Ringo)jelaskan bahwa, Laudato si’ (bahasa Italia Tengah yang berarti “Puji Bagi-Mu”) adalah ensiklik kedua dari Paus Fransiskus. Ensiklik ini memiliki subjudul “On the care for our common home” (Dalam kepedulian untuk rumah kita bersama).Ensiklik tersebut, tertanggal 24 Mei 2015, dipublikasikan secara resmi pada siang hari (waktu setempat) tanggal 18 Juni 2015 dan disertai dengan konferensi pers. Sebagaimana saya (Ringo) publikasikan di media ini (LN) edisi 4 April 2024 dibawah judul “Gerakan Laudato Si Indonesia itu, Apa sih “?

Peluncuran dilakukan oleh Uskup Bogor sekaligus Sekretaris KWI, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, bersama Uskup Tanjung Karang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.
Gerakan Laudato Si’ Indonesia dan Lembaga Pendidikan Katolik Luncurkan Modul Pendidikan Laudato Si’

Iramdan (duduk bertiga paling kiri) rekan satu kelas dan Prof Dr Ing Soewarto Hardhienata (pakai peci) Dosen S3 program Doktor Manajemen Pendidikan

Telah saya jelaskan bahwa, Laudato si’ (bahasa Italia Tengah yang berarti “Puji Bagi-Mu”) adalah ensiklik kedua dari Paus Fransiskus. Ensiklik ini memiliki subjudul “On the care for our common home” (Dalam kepedulian untuk rumah kita bersama). Ensiklik tersebut, tertanggal 24 Mei 2015, dipublikasikan secara resmi pada siang hari (waktu setempat) tanggal 18 Juni 2015 dan disertai dengan konferensi pers.

Dr.(cand).Iramdan M.Pd,(pegang mig) memberikan pembekalan Implementasi Kurikulum Merdeka kpd guru-gusu SD se Jakpus

Laudato Si Action Platform (LSAP) adalah platform aksi Laudato Si’ yang diluncurkan oleh Dicasteri untuk Promosi Pembangunan Manusia yang Integral dan Laudato Si’ Movement. LSAP memperkenalkan kita tujuh tujuan LS yang diwujudkan melalui 7 sektor dalam 7 tahun ke depan.
Dilansir dari hidupkatolik.com, Komitmen merawat Ibu bumi adalah panggilan mendesak bagi seluruh umat Katolik dan masyarakat pada umumnya. Di tengah melemahnya komitmen ekologis dunia akibat terkooptasinya isu lingkungan oleh kepentingan modal dan politik dalang diplomasi international, bayang-bayang Perang Dingin Baru dan menguatnya mereka yang skeptis pada isu lingkungan, panggilan penguatan gerakan ekologis mutlak dilakukan.
Gerakan Laudato Si’ Indonesia sebagai gerakan akar rumput bersama merawat kehidupan yang lahir 10 April 2021 sejak mula berusaha mencari terobosan dalam mengembangkan kesadaran dan aksi ekologis di tengah umat beriman dan masyarakat umum. Sebagai gerakan yang bermisi menyebarluaskan pertobatan ekologis dan memperjuangkan keadilan iklim, Gerakan Laudato Si’ Indonesia perlahan tumbuh di berbagai daerah dan beragam karya.
Ajaran Paus Fransiskus, “Laudato Si”; Memelihara Bumi Sebagai Rumah Kita Bersama.
Pada saat ini (30 November s.d. 11 Desember 2015) sedang diselenggarakan Konferensi Perubahan Iklim ke-21 yang berlangsung di Paris, Ada sekitar 150 pemimpin negara , berikut dengan 40.000 delegasi dari 195 negara, menghadiri konferensi Conference Of the Parties (COP 21), tingkat politik global. Para pemimpin ini memiliki satu misi: Menyepakati upaya yang mengikat secara hukum mengenai pengurangan emisi gas rumah kaca, untuk mempertahankan kenaikan suhu global kurang dari 2 derajat Celsius dibandingkan suhu global pra-industri.
Dalam rangka memperingati hari guru Nasional pada 25 november 2024 Dr.(C),Iramdan,M.Pd membahas kurikulum dan menelaah dampak positif dan negative kurikulum merdeka yg diwawancarai oleh seorang sahabat Jurnalis Liputan Nusantara rekan sesama di Pasca Sarjana Unindra saat kuliah bernama Drs.M Siringo ringo M.Pd pada suatu pertemuan diacara TOT Lemhanas di Jakarta Selatan. Dalam perbincangan kedua alumni tersebut Iramdan yang sebentar lagi akan dikukuhkan menjadi Doktor adalah : Kurikulum Merdeka merupakan salah satu Dalam desain kurikulum, menurutnya, yang mau disasar adalah perubahan cara berpikir atau konseptualisasi. “Memang dalam proses pendidikan itu seringkali juga pedagogi itu sangat penting, tetapi konten juga. Nah, Laudato Si’ ini memberikan peringatan yang sangat keras kepada kita bahwa meskipun kita memperhatikan proses tetapi juga konten. Nah, konten baru itulah yang diberikan oleh Laudato Si’ ini,” katanya.
Menurut data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sekitar 60% guru merasa kurang siap untuk menerapkan Kurikulum Merdeka (Kemdikbud, 2021).
Permasalahan ini semakin kompleks ketika kita mempertimbangkan perbedaan kondisi geografis dan
sosial ekonomi di berbagai daerah. Di daerah terpencil, misalnya lanjutnya lagi, akses terhadap sumber daya pendidikan yang memadai sangat terbatas. Hal ini berdampak pada kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa. Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa siswa di daerah perkotaan memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan siswa di daerah pedesaan dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka (Rizal, 2022). Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi apakah Kurikulum Merdeka benar-benar berhasil diterapkan secara merata di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, lanjut Ramdan pangilan akrabnya, Kurikulum Merdeka menawarkan beberapa keuntungan yang signifikan. Dengan memberikan otonomi kepada sekolah, diharapkan proses belajar mengajar dapat lebih relevan dengan kebutuhan dan konteks lokal. Misalnya, beberapa sekolah di Bali telah berhasil mengintegrasikan budaya lokal ke dalam kurikulum mereka, yang membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa (Sukmawati, 2023). Namun, keberhasilan ini tidak dapat digeneralisasi untuk semua daerah, dan masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai permasalahan yang dihadapi dalam penerapan Kurikulum Merdeka, serta dampak positif dan negatif yang ditimbulkan. Dengan memahami masalah ini secara mendalam, diharapkan akan ada solusi yang lebih efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Usaha untuk menanamkan cinta lingkungan hidup pada anak-anak didik di sekolah-sekolah terus dilakukan meski menemui banyak tantangan. Romo Vincentius Darmin Mbula, OFM dalam Webinar LSAP Sektor Pendidikan, 23 Maret 2022 menyampaikan berbagai upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut. Sekolah-sekolah Fransiskan secara terorganisir sejak tahun 2017 telah membentuk Fransiscan Forum Culture Education Center. Melalui forum tersebut, desain kurikulum pendidikan lingkungan yang terintegrasi ke sekolah-sekolah dibuat sedemikian rupa. Sekurangnya ada 23 yayasan pendidikan dengan 600 sekolah lebih di bawah reksa pastoral para Fransiskan dan Fransiskanes.
Tapi sayangnya bahwa justru kehadiran sekolah-sekolah yang berspiritualitas Fransiskan-Fransiskanes ini tidak cukup untuk menghentikan apa yang terjadi sesuai dengan krisis ekologi yang juga ditampilkan di dalam Laudato Si’,” kata Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) itu.

Namun, ia mengutip pesan Santo Fransiskus Assisi, “Mari kita mulai lagi karena sampai sekarang belum kita buat apa-apa!” Usaha untuk menanamkan pendidikan lingkungan hidup tetap dilakukan.
Menurut Romo Darmin, dokumen Laudato Si’ sebagai inspirasi pendidikan lingkungan perlu dikontekstualisasikan di bumi Nusantara. “Dalam mendesain kurikulum ini, pertama adalah saya mulai dengan memikirkannya begini, dokumen Laudato Si’ ini mengundang dan memanggil kita semua untuk membumikannya di bumi Nusantara,” katanya. Maka, menurutnya, desain kurikulum ini dikontekstualisasi dengan filosofi Pancasila. Kerangka dasar kurikulumnya menjadi seperti urutan sila dalam Pancasila yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan-persaudaraan, kerakyatan atau demokrasi sosial kosmopolitan, dan keadilan sosial.
Dalam desain kurikulum, menurutnya, yang mau disasar adalah perubahan cara berpikir atau konseptualisasi. “Memang dalam proses pendidikan itu seringkali juga pedagogi itu sangat penting, tetapi konten juga. Nah, Laudato Si’ ini memberikan peringatan yang sangat keras kepada kita bahwa meskipun kita memperhatikan proses tetapi juga konten. Nah, konten baru itulah yang diberikan oleh Laudato Si’ ini,” katanya. ( Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

 “JADWAL TENTATIF AUDIENSI YONGE SIHOMBING, S.E., M.B.A. 27 April s/d 21 Mei 2026”

29 April 2026 - 02:23 WIB

Cek Kesehatan Aparatur, Kecamatan Neglasari Perkuat Budaya Kerja Sehat

27 April 2026 - 10:03 WIB

Perayaan Paskah komuntas Lansia gereja Kampung sawah Paroki Servatius, Jumat ,24 April ’26 di ruang Bernadus Gereja Serva

26 April 2026 - 03:46 WIB

Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting

23 April 2026 - 12:36 WIB

Pemerintah Tak berdaya Hadapi Broker Tambang Ilegal

23 April 2026 - 12:26 WIB

Trending di News