Koordinator LaudatoSi sektor Pendidikan Sr.Vincentia HK (pakai kaca mata),bersama remaja/kaum muda Papua.
Jakarta, Maret, Liputan Nusantara (LN), Pesisir adalah wilayah peralihan dinamis antara daratan dan lautan yang saling memengaruhi. Ke arah darat, wilayah ini mencakup bagian yang terpengaruh pasang surut, angin laut, dan intrusi air asin. Ke arah laut, mencakup bagian perairan yang dipengaruhi proses alami darat (sedimentasi) dan aktivitas manusia.
Pelindung pesisir adalah struktur atau ekosistem alami yang berfungsi untuk melindungi kawasan daratan di bibir pantai dari erosi (abrasi), banjir rob, badai, serta kenaikan permukaan air laut. Tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas garis pantai, melindungi infrastruktur, dan keamanan masyarakat pesisir.

Secara umum, pelindung pesisir dibagi menjadi dua pendekatan: alami (berbasis ekosistem) dan buatan (rekayasa keras)
1. Pelindung Pesisir Alami (Nature-Based Solutions)
Ini adalah pertahanan terbaik dan berkelanjutan karena dapat memulihkan diri, seperti:
Hutan Mangrove (Bakau): Berfungsi sebagai benteng hidup. Akar mangrove yang kokoh menahan sedimen, mengurangi energi hantaman gelombang, dan mencegah erosi.
Terumbu Karang: Berperan sebagai pemecah gelombang alami di lepas pantai, mengurangi energi ombak sebelum mencapai pantai.


Gumuk Pasir & Vegetasi Pantai: Menahan laju angin dan terjangan ombak.
Rawa Garam & Padang Lamun: Membantu menstabilkan tanah dan menyerap karbon.
2. Pelindung Pesisir Buatan (Hard Engineering)
Struktur fisik yang dibangun untuk menahan langsung energi laut:
Tembok Laut (Seawall): Dinding beton sejajar pantai untuk mencegah erosi dan kerusakan akibat banjir.
Pemecah Gelombang (Breakwater): Struktur yang dibangun di laut, sejajar pantai, untuk memecah gelombang sebelum mencapai pantai.
Menteri Lingkungan Hidup: “Dengan Dukungan Wakil Presiden, Indonesia Tegaskan Komitmen Perlindungan Ekosistem Mangrove untuk Masa Depan Bumi”
dalam rangka memperkuat komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar kegiatan penanaman mangrove bersama masyarakat pesisir yang dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi penguatan Gerakan Nasional Perlindungan Ekosistem Mangrove, sekaligus sebagai langkah konkret implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Sebagai negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia, Indonesia memegang peran penting dalam upaya global perlindungan lingkungan. Dengan luas 3,44 juta hektare mangrove yang mencakup lebih dari 20 persen ekosistem mangrove global, Indonesia berkomitmen untuk mengelola sumber daya alam ini dengan bijak dan berkelanjutan. Mangrove bukan hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir dari ancaman abrasi, gelombang tinggi, dan tsunami, tetapi juga sebagai penyerap karbon biru yang dapat menyimpan karbon empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan.
Berbicara tentang Mangrove , sangat erat hubungannya dengan lahan basah. Sebagaimana penulis (Ringo) publikasikan di media ini edisi Februari 2025 dibawah judul “Lindungi lahan Basah Demi Masa Depan Kita Bersama “. Penulis menjelaskan bahwa Lahan basah merupakan ekosistem yang terdiri dari air, baik secara permanen maupun musiman. Contoh lahan basah meliputi rawa laguna, rawa asin, dan terumbu karang. Keunikan ekosistem ini terletak pada vegetasi tumbuhan air yang membedakannya dari bentang alam atau badan air lainnya. Selain itu, lahan basah juga menjadi habitat bagi berbagai spesies hewan air dan darat.
Lahan basah ini memiliki berbagai jenis berdasarkan letak dan karakteristiknya, antara lain:
1. Lahan Basah Pesisir: Berada di sepanjang garis pantai dan meliputi mangrove, rawa serta laguna.
2. Lahan Basah Daratan: Berada di pedalaman seperti rawa, danau dangkal, serta tanah gambut.
3. Lahan Basah Buatan: Dibangun oleh manusia untuk keperluan konservasi, pertanian, atau
pengendalian air, seperti sawah dan waduk buatan.
Dan lahan basah ini pun diperingati Februari Setiap tahunnya. Berawal dari Konvensi Ramsar yang diinisiasi pada tahun 1971 oleh sekelompok pemerhati lingkungan di Iran. Konvensi ini merupakan perjanjian internasional yang bertujuan untuk melindungi lahan basah di seluruh dunia. Hingga kini, lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia, turut memperingati Hari Lahan Basah Sedunia sebagai bentuk komitmen dalam menjaga ekosistem lahan basah.
Di Indonesia, berbagai kawasan lahan basah memiliki status perlindungan, seperti Taman Nasional Berbak di Jambi, Taman Nasional Sembilang di Sumatra Selatan, serta berbagai ekosistem mangrove yang tersebar di pesisir pantai Indonesia. Namun, lahan basah di Indonesia juga menghadapi ancaman seperti konversi lahan untuk pembangunan, pencemaran, serta eksploitasi sumber daya yang tidak berkelanjutan.
Kembali ke topik diatas,
Dalam rangka menyambut Hari Mangrove sedunia pada tgl 26 Juli 2026 dalam semangat sinodalitas bersama Gerakan LaudatoSi Indonesia Sektor Pendidikan yang diketuai S.Vincensia HK, mengajak Seluruh Peserta Didik, setiap individu di semua jenjang unit Sekolah melakukan gerakan menabung Receh Hari ini, Pelindung Pesisir Esok. Gerakan menabung Receh ini akan kita mulai pada Periode 1 Maret sampai 1 Juli 2026, Ujar Sr.Vincentia. Tabungan yg terkumpul lanjutanya lagi dapat dikirim ke rekening Gerakan LaudatoSi Indonesia. Pada tanggal 26 Juli 2026
Hari Mangrove sedunia. Akan dilakukan gerakan bersama secara serentak Tanam Mangrove untuk Dunia ujar Sr.Vincentius. Anda bisa melakukan penanaman di kawasan di mana lokasi atau wilayah sekolah berada bekerja sama dengan komunitas, lintas sektoral dan semua yg berkehendak baik. Jika wilayah jauh dari kawasan mangrove Gerakan Laudatosi Indonesia Sektor Pendidikan akan membantu untuk menanam Mangrove atas nama sekolah anda di Pesisir Jakarta dan Lampung, dan memberikan dokumentasi dan laporan lengkap perolehan dan distribusi tabungan sebagai bentuk ucapan terimakasih. Kami menyertakan Google Form untuk kesediaan Sekolah mendukung Gerakan ini. Kami mengucapkan terima kasih.tutup Sr. Vicentia ( Ring-o)
Link google form : https://bit.ly/gerakanmenabungreceh
Salam. LaudatoSi, Fate Chiasso
No yg dapat di hubungi :
Sr. Vincentia HK, Koordinator Sektor Pendidikan Gerakan LaudatoSi Indonesia ( 082112075704 )
Ibu Ruly ( 081315418254 )














