Hotel JW .Mariott Surabaya

Oleh : Adharta Ongkosaputra ketum KRIS Dipublikasikan oleh Ringo di Media Liputan NUsantara
Jakarta, Juli , Liputan Nusantara (LN), Suasana malam di Kota Pahlawan (Surabaya) sangat indah dengan gemerlap lampu kota, jalanan yang rapi, serta tempat nongkrong yang ramai. Tiga tempat favorit untuk menikmati malam di kota ini Adalah Jalan Tunjungan, Wisata Perahu Kalimas, dan Alun-Alun Surabaya.
1. Keindahan dan Tempat Wisata Malam : Jalan Tunjungan: Menampilkan lampu hias gantung yang cantik, trotoar yang nyaman untuk pejalan kaki, serta paduan bangunan tua dan kafe modern.

Hotel JW .Mariott Surabaya

Food- gbr lobby lounge at JW. Mariott

Tang Oalace Chinese Restaurant

Ametur Indonesia : Dikasihilah Hati kudus Yesus dimana-mana ; Perayaan Syukur 150 tahun Kongregasi PBHK dihadiri bapak Adharta dan istri ( ibu Magdalena) bersama suster PBHK
2. Wisata Perahu Kalimas: Menawarkan pengalaman naik perahu menyusuri sungai sambil melihat lampu lampion warna-warni yang indah.
3. Alun-Alun Surabaya: Memiliki area bawah tanah (basement) dan alun-alun terbuka yang sering dipakai anak muda berkumpul atau menikmati seni.
Dalam WAG Keluarga Alkitab Sabtu 25 Juli 26,mengisahkan perjalanananya Bersama ibu Lena (istrinya) ke Surabaya menghadiri pernikahan Vira dan Nico Putri Bapak AM Mulyono Sahabat Saya Di Ball Room Hotel JW Mariott depannya Rawon Setan.
JW Marriott Hotel Surabaya adalah hotel mewah bintang lima di pusat kota Surabaya, tepatnya di Jalan Embong Malang No. 85–89, dekat dengan Tunjungan Plaza. Hotel ini memiliki 407 kamar, pilihan restoran terkenal seperti Pavilion Restaurant, dan fasilitas lengkap seperti kolam renang luar ruangan.
Kisahku Ada sebuah magis ujar Adharta yang hanya bisa dirasakan ketika matahari tenggelam, di ufuk barat Surabaya. Bukan sekadar pergantian waktu dari siang ke malam, melainkan sebuah transisi jiwa. Di sinilah Surabaya membuka sisi lain dari dirinya bukan lagi sebagai kota metropolitan yang hiruk-pikuk oleh deru mesin dan ambisi bisnis, melainkan sebagai seorang ibu tua yang hangat, memeluk anak-anaknya dalam dekapan sejarah dan aroma rempah Setetes embun pagi episode 154.
Kita pasti kesulitan menyenangkan seseorang jika kita tidak tahu apa yang ia sukai.
Akan lebih mudah jika kita tahu apa hobinya, makanan favoritnya, warna kesukaannya, atau jenis musik yang suka didengarkannya. Tentunya informasi ini dapat kita peroleh jika kita memiliki hubungan yang akrab dengannya atau melalui seseorang yang sangat karib kepadanya.
Dengan demikian, kita pun lebih mudah memilih tindakan apa yang akan kita lakukan untuk menyenangkan hatinya.Prinsip yang sama juga berlaku dalam relasi kita dengan Tuhan.
Bagaimanakah kita bisa mengetahui apa yang disukai-Nya
Di sinilah Surabaya membuka sisi lain dari dirinya
bukan lagi sebagai kota metropolitan yang hiruk-pikuk oleh deru mesin dan ambisi bisnis, melainkan sebagai seorang ibu tua yang hangat, memeluk anak-anaknya dalam dekapan sejarah dan aroma rempah yang tak lekang oleh zaman dan Wanita
Bagi kami keluarga besar anggota di KRIS, Teman teman SD, SMP,dan SMA di Surabaya, dan bagi setiap jiwa yang pernah menapaki aspal jalanan kota ini, “Surabaya no yoru” atau Malam di Surabaya,
adalah sebuah puisi yang hidup. Malam di Surabaya tidak pernah benar-benar gelap.
Surabaya diterangi oleh cahaya lampu jalan yang temaram, pancaran neon warung-warung tua, dan yang terpenting, cahaya nostalgia yang menyala di ingatan kita.
Hidup di malam hari memiliki ritme tersendiri. Kata adik ku perempuan Monalisa.
Saat kami menginjakkan kaki di Surabaya tahun 1966 Dia bilang aneh ya Kota Surabaya kok terang bulan terus Karen’s kami di pulau Alor terang bulan hanya sebulan sekali itupun kalau cuaca bagus
Jika siang adalah tentang perjuangan dan keringat, maka malam adalah tentang refleksi dan kebersamaan.
Di bawah langit yang sesekali dihiasi gemerlap bintang atau kabut tipis polusi yang kini mulai memudar, Surabaya berubah menjadi ruang intim.
Suara klakson yang tajam berganti dengan alunan musik dangdut koplo yang mengalun lembut dari pengeras suara jalanan, bercampur dengan tawa renyah sekeluarga yang sedang menikmati hidangan di trotoar.
Inilah denyut nadi kehidupan yang sesungguhnya; sederhana, jujur, dan penuh rasa.
Dan bicara soal malam di Surabaya, mustahil rasanya jika lidah tidak segera bergetar membayangkan kuliner yang menjadi saksi bisu ribuan cerita.
Di malam hari, cita rasa bebek goreng dengan sambal ijo atau sambal terasinya terasa lebih “nendang”. Pedasnya bukan pedas yang menyiksa, melainkan pedas yang membangunkan semangat, seolah mengingatkan kita bahwa orang Surabaya itu tangguh namun tetap punya selera humor yang tinggi.
Mereka yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan bambu runcing, kini berganti wujud menjadi para penjual kuliner yang berjuang menghidupi keluarga dengan ketelatenan.
Semangat juang itu tidak hilang, ia bertransformasi menjadi semangat melayani dan menjaga warisan rasa. Setiap hidangan yang disajikan dengan senyum ramah oleh para penjual tua adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur kota ini.(Ring-o)
[10.09, 30/7/2026] Ringo: Dokumen Hotel JW.Mariott Surabaya.
















