Pemberian Rompi KRIS oleh bapak Adharta Ketum KRIS (baju batik) kepada Bapak Dahlan Iskan ex Menteri BUMN (kiri) sebagai simbol dukungan dalam Program Stunting
Jakarta, Februari, Liputan Nusantra (LN), Kota Surabay bukan sekadar titik di peta. Ia adalah simpul kenangan, tempat waktu seolah berhenti lalu bergerak lagi, membawa wajah-wajah lama, aroma makanan, dan percakapan yang tak pernah benar-benar usai.
Adharta mengawali kisah perjalananya ke Surabaya: Roda pesawat Airbus A320 Batik Air menyentuh landasan Bandara Juanda, Sidoarjo, pukul 09.31.


Monumen Tugu Pahlawan Surabaya.
Penerbangan ID 6584 terlambat dua puluh menit. Hujan deras membuat waktu terbang molor
sembilan puluh menit, padahal biasanya tujuh puluh.
Namun bagi saya,kata Adharta yang ketua umum KRIS ini, keterlambatan itu justru memberi ruang: ruang untuk mengingat kenangan manis. Sudah lama saya tidak ke Surabaya.
Surabay memiliki historis yang pajang :
Setiap bangsa memiliki kota yang menjadi simbol perjuangan dan semangat kemerdekaan. Bagi Indonesia, gelar itu disematkan kepada Surabaya, yang dikenal sebagai Kota Pahlawan. Julukan ini bukan sekadar kebanggaan, tetapi pengakuan atas sejarah heroik rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan pada Pertempuran 10 November 1945.

Jelajah Kota Pahlawan, Spot Foto Terkeren di Surabaya
Hingga kini, Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota besar dan pusat ekonomi Jawa Timur, tetapi juga sebagai lambang keberanian dan semangat juang rakyat Indonesia.
Julukan Kota Pahlawan berasal dari peristiwa heroik Pertempuran Surabaya yang terjadi pada 10 November 1945.
Pertempuran itu melibatkan rakyat Surabaya melawan pasukan Sekutu yang ingin mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan
Dengan senjata sederhana, rakyat Surabaya yang dipimpin oleh tokoh seperti Bung Tomo, KH. Hasyim Asy’ari, dan para ulama Nahdlatul Ulama berjuang habis-habisan mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih.
Pertempuran Surabaya dimulai ketika pasukan Sekutu yang dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby datang untuk melucuti senjata Jepang. Namun, mereka justru menuntut rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya, yang dianggap sebagai bentuk penjajahan baru.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan rakyatnya, banyak monumen dan tempat bersejarah di Surabaya yang menjadi saksi bisu semangat kepahlawanan, antara lain: Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, Hotel Majapahit (dulu Hotel Yamato), Kampung Peneleh dan Pabrik Rokok Sampoerna, Museum TNI AL dan Monumen Kapal Selam (Monkasel).
Kembali ke kisah perjalanan Adharta ke Surabaya. Kali ini saya datang ujar nya, karena undangan istimewa. Dr. Juli Njoto Seorang Dokter pakar Kecantikan DuniaYang mengundang saya menghadiri unduh mantu. Jason su Ganteng akan menikah malam ini. Undangan itu seperti penarik halus yang mengajak saya kembali membuka lembar lama hidup saya di Surabaya.
Pagi-pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar naik, saya sudah menghubungi Dr. Inna Widjajanti.
“Ayo tebak, apa yang kami bicarakan?” Jawabannya pasti satu: makanan.
Pesan Pecel Pandegiling.Bu Djojo. Pecel legendaris Surabaya. Begitulah saya. Setiap kali menginjak Surabaya, ingatan saya selalu berjalan lebih dulu mencari rasa kenangnya.
Saya lahir jauh dari sini, di Kalabahi, Pulau Alor, NTT.
Tahun 1962 kami pindah ke Kupang, Timor. Lalu pada 1967, hidup membawa kami ke Surabaya.
Kami 10 kakak adik tinggal di Jalan Rangkah Gang VII Nomor 26 kompleks perumahan PELNI.
Di situlah cerita panjang itu benar-benar dimulai. Ayah saya adalah karyawan PELNI. Dari Kepala Cabang PELNI Kalabahi, naik menjadi pengawas inspektorat, hingga akhirnya Kepala Cabang PELNI Surabaya. Ayah bukan orang besar. Ia bukan pejabat negara. Tapi ia adalah bagian dari sebuah institusi besar yang memberi makna mendalam bagi hidup kami: PT Pelayaran Nasional Indonesia—PELNI.
PELNI lahir pada 28 April 1952. Ia dibentuk untuk mengambil alih aset pelayaran Belanda, khususnya Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). perusahaan pelayaran terbesar dan terkaya di dunia pada masanya. KPM adalah simbol kekuatan maritim kolonial. Ketika Indonesia mengambil alih, itu bukan sekadar bisnis; itu pernyataan kedaulatan.
Kami bisa sekolah sampai selesai. Karena PELNI, saya dan saudara saudara saya bisa bermimpi. Saya bersekolah di SD Kalianyar II, Jalan Kusuma Bangsa dekat THR Saya satu almamater dengan Bapak Try Sutrisno dan bapak JP Soetadi Lalu SMP Negeri IX jalan Kapas KrampungPutro Agung. SMA Katolik Frateran Kepanjen.
Surabaya mengajarkan saya sambung Adharta, tentang pertemanan. Tentang keberagaman, Tentang hidup bersama dalam perbedaan. Dari gang sempit hingga aula sekolah, dari lapangan hingga kantin, semua menyisakan jejak yang tak terhapus.Ada pepatah yang mengatakan: Hidup dengan satu sahabat ibarat emas. Hidup dengan dua sahabat ibarat berlian. Lalu bagaimana dengan hidup bersama lebih dari seratus sahabat? Itulah tahta berlian permata.
Surabaya memberi saya Persahabatan yang tidak selalu dekat secara jarak, tapi hangat secara batin. Persahabatan yang tetap hidup meski waktu memisahkan, meski rambut memutih dan langkah melambat. Kini saya kembali. Kota ini berubah. Gedung menjulang, jalan melebar, ritme makin cepat.
Surabaya tidak pernah benar-benar saya tinggalkan. Surabaya tinggal di dalam diri dan hati saya, tenang, setia, dan selalu siap menyambut pulang tutup Adharta. (Ring-o)














