Jakarta, Januari , Liputan Nusantara (LN), Dalam Gereja Katolik, Yubileum atau Tahun Suci adalah tahun khusus pengampunan dan rekonsiliasi, di mana orang-orang diundang untuk kembali menjalin hubungan yang benar dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan.
Mengenal Tahun Yubileum : “Peziarah Pengharapan” Tahun Yubileum 2025 Dimulai pada tanggal 24 Desember 2024 dan berakhir pada 6 Januari 2026, memiliki tema “Peziarahan Pengharapan”.


Prosesi Misa tutup tahun Yubileum diawali, dengan arak-arakan oleh Umat mewakili wilayah masing-masing berkumpul di Panti Asuhan Pondok Damai dan di SD Strada Kampung Sawah. Koordinator Wilayah berdiri di depan kelompok wilayahnya dengan memegang salib besar. Hari ini ujar Lektor yang sudah ditunjuk secara khusus mengatakan , Gereja Santo Servatius merayakan Misa Tutup Tahun Yubileum, satu masa dimana rahmat yang mengajak kita semua pada tobat, berdamai, sama membaharui iman. Kita mengucap syukur buat semua rahmat yang sudah kita terima dan mohon kekuatan biar semangat Yubileum terus bisa kita hidupkan. Ayo kita ikutin perayaan Misa ini pakai arti yang terbuka dan penuh iman, biar kita benar-benar diperbaharui dan siap untuk diutus jadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

Romo Wartaya SJ, yang memimpin misa tutup Tahun Yubilem ini, Sementara perarakan berlangsung dilagukan nyanyian perarakan.
Setiba di area gereja, imam berdiri berjajar di depan pintu utama gereja, di dampingi para petugas liturgi untuk menyambut umat wilayah yang akan memasuki pintu porta sancta (Pintu Suci) Sesuai urutan yang telah ditentukan, tiap-tiap kelompok wilayah memasuki dalam gereja melalui pintu Porta Sancta dan langsung menuju tempat duduk yang sudah ditentukan. Pada saat seluruh umat sudah melewati pintu Porta Sancta, Imam dan misdinar pembawa wiruk( alat pedupaan untuk mendupai ,altar) dan pendupaan, menuju pintu Porta Sancta.
Setelah tutup Pintu Suci
Romo Wartaya menyampaikan bahwa pada akhir Tahun Yubileum ini, kita ingin menyatukan suara kita dalam nyanyian, bareng-bareng sama seluruh Gereja, yang saat ini menaikkan syukur kepada Allah atas anugerah pengampunan. Lewat sakramen-sakramen, ziarah, doa, sama amal kasih, lanjut romo kita sudah mengalami pengalaman yang dalam sama belas kasih ilahi: Tuhan sudah menghapus dosa- dosa kita dan memulihkan kita sama rahmat-Nya. Selama setahun ini, kita sudah berbagi dalam iman, pengharapan,sama kasih, lewat seluruh misteri Kristus yang selama putaran waktu masa liturgi.
Sekarang, dikuatkan sama pengalaman tobat ini, ayo kita balik lagi ke dalam pola gerak kehidupan kita sehari-hari.
Kotbah romo diambil dari Injil Matius : Pada jaman pemerintahan Raja Herodes, sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea, datanglah orang-orang Majus dari Timur Ke Yerusalem.
Mereka tanya-tanya, “Dimanakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami sudah melihat bintang Nya di sebelah Timur, dan kami datang untuk menyembah Dia.”mendengar hal itu, kagetlah Raja Herodes sama seluruh Yerusalem. Lantas dikumpulkannya semua imam kepala sama ahli Taurat Bangsa Yahudi,
terus dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan itu. Mereka bilang padanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, seperti ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem di tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukan yang paling kecil diantara mereka yang memerintah Yehuda sebab dari padamu akan bangkit seorang pemimpin yang akan mengembalaikan umat-Ku Israel.” Lantas, dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu, dan dengan teliti menanya pada mereka kapan bintang itu keliatan. Lantas ia menyuruh mereka ke Betlehem, pesannya, “Pergilah, dan selidikilah dengan teliti tentang Anak itu! Dan segera sesudah kamu ketemu Dia, kabari saya biar saya juga datang menyembah Dia. Setelah mendengar kata kata Raja Herodes, pergilah para Majus itu. Dan lihatlah, bintang nyeng mereka lihat di Timur itu mendahuluiduluin mereka sampai dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada. Melihat bintang itu, girang bangat mereka. Lantas masuklah mereka ke dalem rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu Nya. Lantas mereka sujud menyembah Dia. Mereka juga membuka tempat harta benda mereka dan ngasih sesembahan pada Anak itu, yaitu emas, kemenyaan, dan mur. Lantas karena diingatkan lewat mimpi biar jangan balik lagi pada Herodes, mereka pulang ke negerinya lewat jalan lain.
Usai homili , dilanjutkan dengan memberkati Kapur EFIFANI. (Kapur Efifani adalah kapur yang diberkati oleh Imam dalam misa Hari Raya Epifani yang digunakan untuk menandai pintu rumah sebagai bagian dari tradisi gereja Katolik).
Dalam pemberkatan Kapur Epifani ini, romo Wartaya mengatakan “Ya, Tuhan berkatin kapur tulis ini biar bisa dipake sebagai sarana keselamatan buat umat-Mu. Seoga-moga liwat pertolongan nama-Mu yang kudus, Kristus, memberkati rumah umat-Mu yang dengan penuh iman menandakan pintu rumah nya pake kapur ini. Kiranya lewat perantaraan orang kudus-Mu, Caspar, Melchior, sama Balthasar, umat-Mu dapat perlindungan, kesehatan, sama kesejahteraan jiwa sama raga mereka. Dengan pengataraan Kristus Tuhan kami. Amin (Ring-o)














