Menu

Mode Gelap
Natal Bersama Polda Banten 2025, Kapolda Tekankan Semangat Pelayanan Presisi dan Dukungan Program Ketahanan Pangan* “Peluncuran Modul Pendidikan Laudatosi” Disporabudpar Kab. Tangerang Musrenbangdes Desa Tanggunggunung membahas dan Menyepakati Rancangan RKP Desa dan RKPD Kabupaten Tulungagung Tahun Anggaran 2027″ Rembug Stunting Pencegahan dan Penanganan Stunting Desa Jenglungharjo tahun 2026 Dandim 0510/Tigaraksa Bersama Bupati Tinjau Warga Terdampak Banjir di Kosambi

Jakarta

“Peluncuran Modul Pendidikan Laudatosi”

badge-check


					“Peluncuran Modul Pendidikan Laudatosi” Perbesar

Peluncuran dilakukan oleh Uskup Bogor sekaligus Sekretaris KWI, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, bersama Uskup Tanjung Karang, Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.

Jakarta, Januari, Liputan Nusantara (LN), Modul Pendidikan Laudato Si adalah bahan ajar yang diluncurkan Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) untuk membentuk karakter ekologis peserta didik dengan mengintegrasikan ekologi integral (hubungan manusia, alam, dan Tuhan) ke dalam pendidikan, mencakup aspek kognitif, moral, spiritual, dan relasional, dengan tujuan membina sikap peduli, empati, dan tanggung jawab lingkungan melalui contoh praktik nyata seperti hemat energi, menanam pohon, dan proyek lingkungan, berdasarkan semangat ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Gerakan Laudato Si’ Indonesia dan Lembaga Pendidikan Katolik Luncurkan Modul Pendidikan Laudato Si”. Menandai langkah penting Gereja di Indonesia dalam menjawab krisis ekologis melalui pendidikan.

Para animator Laudato Si’ dari 11 Keuskupan berforto bersama usai Perayaan Ekaristi merayakan HUT 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’, 800 tahun Gita Sang Surya dan Minggu Kitab Suci Nasional di Graha Bina Humaniora, Sentul City, Bogor (Minggu, 7/9/2025).

Uskup Keuskupan Sufragan Bogor Mgr. Paskalis melakukan penanaman pohon di depan Graha
Bina Humaniora, Sentul City, Kabupaten

Modul Pendidikan Laudato Si diterbitkan dan diluncurkan pada 7 September 2025 di Sentul City, Bogor, oleh Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) bersama Lembaga Pendidikan Katolik (MNPK) sebagai bahan ajar untuk membentuk karakter ekologis siswa sejak dini, bertepatan dengan perayaan 10 tahun Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus. Modul ini bertujuan mendorong pertobatan ekologis melalui pendidikan karakter, mencintai Tuhan, sesama, dan alam ciptaan.
Dilansir dari katolikana, Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) bersama Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) meluncurkan Modul Pendidikan Laudato Si’ di Sentul City, Bogor, pada Minggu (7/9/2025), bertepatan dengan perayaan 10 tahun ensiklik Laudato Si’.

Setelah diberkati, buku modul pendidikan Laudato Si kemudian diserahkan oleh tim penyusun kepada Komisi Pendidikan KWI dan perwakilan lembaga pendidikan Katolik.Terbitnya modul Pendidikan laudatosi bertepatan dengan momen 10 tahun ensiklik laudatosi karena dua alasan mendesak
Pertama : Krisis Ekologi yang semakin parah, membutuhkan tanggapan kita semua.
Berbicara tentang Krisis Ekologi, Krisis ekologi adalah kondisi ketidakstabilan serius pada sistem alam akibat ketidakseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan, ditandai kerusakan ekosistem, polusi, dan penipisan sumber daya, sering kali diperburuk oleh konsumerisme serta pandangan antroposentrisme yang menganggap manusia pusat dan berhak eksploitasi alam. Dampaknya mencakup bencana alam, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga krisis pangan dan air, yang menuntut perubahan etika, spiritualitas, serta kebijakan untuk membangun hubungan harmonis dan berkelanjutan dengan alam.
Pola Pikir Antroposentrisme: Manusia merasa superior dan berhak mengeksploitasi alam tanpa batas, mengabaikan nilai intrinsik alam.
Konsumerisme dan Kapitalisme: Sistem ekonomi yang mendorong konsumsi berlebihan dan eksploitasi sumber daya demi keuntungan ekonomi.
Aktivitas Manusia: Deforestasi (penggundulan hutan), polusi (udara, air, tanah), pertambangan, dan pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan.
Keterputusan Spiritual: Alam dipandang sebagai objek, bukan entitas sakral yang perlu dihormati.
Kerusakan Lingkungan: Erosi, banjir, kekeringan, pencemaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Krisis Sosial: Ancaman terhadap ketahanan pangan, air, dan ruang hidup, serta konflik terkait sumber daya.
Kedua : gereja Katolik memiliki tanggung jawab moral dan teologis yg kuat untuk melindungi ciptaan.
Gereja Katolik memang memegang tanggung jawab moral dan teologis yang mendalam dalam melindungi ciptaan, sebuah keyakinan yang berakar kuat dalam Kitab Suci dan tradisi sucinya. Dasar-dasar kunci dari posisi ini meliputi: (https://www.google.com/search?q)
1. Panggilan untuk Mengelola (Stewardship): Sejak awal Kitab Kejadian, umat manusia diberikan tugas untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi, yang menunjukkan peran sebagai pengelola, bukan pemilik mutlak, atas ciptaan Tuhan.
2. Martabat Ciptaan: Gereja mengajarkan bahwa seluruh ciptaan, sebagai karya Tuhan, memiliki nilai intrinsik dan mencerminkan kemuliaan-Nya.
3. Ajaran Sosial Katolik: Prinsip-prinsip ini, yang mencakup kebaikan bersama dan pilihan prioritas bagi kaum miskin dan rentan, menyoroti bagaimana kerusakan lingkungan sering kali paling berdampak buruk bagi mereka yang berada di pinggiran masyarakat.
4. Ensiklik Paus Fransiskus, Laudato si’: Dokumen penting ini merangkum dan memperluas ajaran Gereja mengenai kepedulian terhadap “rumah kita bersama”. Paus Fransiskus menyerukan konversi ekologis yang komprehensif, menekankan hubungan erat antara krisis sosial dan lingkungan, dan mengusulkan pendekatan ekologi integral untuk menangani tantangan-tantangan ini.

Melalui ajaran-ajaran ini, Gereja menginspirasi umat Katolik untuk terlibat dalam tindakan nyata, doa, dan advokasi demi keberlanjutan lingkungan.

Mengapa umat Katolik memiliki tanggung jawab untuk melindungi ciptaan Tuhan?

Allah menciptakan langit dan bumi, dan itu baik. Manusia diperintahkan untuk merawat ciptaan Allah. Tanah itu sendiri harus diberi istirahat dan tidak disalahgunakan. Seluruh langit dan bumi adalah milik Tuhan.

Apa sebutan untuk tanggung jawab umat manusia untuk menjaga ciptaan?

Pengelolaan . Istilah pengelolaan berarti menjaga dunia untuk Tuhan. Tuhan telah menciptakan dunia di mana manusia memiliki peran khusus sebagai pengelola ciptaan. Ini berarti mereka harus menjaga kepentingan planet dan semua kehidupan di dalamnya.

Ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus tahun 2015 menekankan pentingnya pertobatan ekologis. Pendidikan dinilai sebagai pintu masuk yang paling strategis.

“Sekolah adalah ruang pembentukan karakter setelah keluarga. Kalau sejak awal anak-anak dibiasakan peduli bumi, mereka akan tumbuh menjaga ciptaan,” kata Sr. Vincentia HK, koordinator penyusunan modul.

Berikut adalah poin-poin utama tanggung jawab moral dan teologis Gereja terhadap ciptaan:
1. Dasar Teologis: Stewardship (Penatalayanan)
Dalam teologi Katolik, manusia bukanlah pemilik alam semesta, melainkan pengelola atau penatalayan (steward) yang dipercayai oleh Tuhan Berdasarkan Kitab Kejadian, mandat untuk “menguasai” bumi dipahami sebagai tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga ( tilling and keeping), bukan mengeksploitasi secara sewenang-wenang

2. Ensiklik Laudato Si’ (2015)
Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ memperkenalkan konsep Ekologi Integral. Dokumen ini menegaskan bahwa:
. Segala sesuatu saling terhubung: Krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari krisis
sosial(kemiskinan)
. Mendengar Jeritan Bumi dan Jeritan Orang Miskin: Kerusakan alam paling berdampak buruk pada kaum miskin yang paling tidak berdaya
3. Martabat Manusia dan Kebaikan Bersama
. Tanggung jawab moral ini berkaitan dengan prinsip Kebaikan Bersama (Common Good). Lingkungan hidup adalah warisan bersama umat manusia, dan merusaknya berarti melanggar hak orang lain, termasuk generasi mendatang, untuk hidup

4. Pertobatan Ekologis
Gereja menyerukan “Pertobatan Ekologis”, yaitu perubahan hati yang mendalam di mana umat mengakui dosa-dosa mereka terhadap ciptaan dan berkomitmen untuk hidup lebih sederhana serta berkelanjutan
5. Tindakan Nyata dan Advokasi
Secara praktis, Gereja melalui berbagai lembaga seperti Caritas Internationalis dan gerakan lokal di Indonesia (seperti Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan – KPKC)

Dengan demikian, bagi Gereja Katolik, menjaga alam adalah bentuk ibadah dan perwujudan kasih kepada Tuhan sang Pencipta.(Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

” Natal Komunitas Lansia Servatius ,Jumat, 9 Januari 2026 di Aula Gereja Santo Servatius Kampung sawah Bekasi”

12 Januari 2026 - 03:16 WIB

“Prosesi Misa Tutup Tahun Yubileum , Minggu 4 Januari 2026 ,Gereja Katolik Kampung Sawah Santo Servatius”.

6 Januari 2026 - 23:31 WIB

Natal dan Cerita di Tengah Hujan dan Badai

29 Desember 2025 - 13:07 WIB

“Universitas Pakuan Gelar PKM Internasional Bersama Universiti Sains Islam Malaysia: Bahas Pengembangan Kurikulum Deep Learning untuk Pendidikan Masa Depan”

16 Desember 2025 - 23:31 WIB

 “Ekoteologi ; Mengamalkan Iman, Melestarikan Lingkungan”

9 Desember 2025 - 12:30 WIB

Trending di Jakarta