Usai pelatihan, para peserta pekad,instruktur, dan panitia foto bersama. Sebelah kiri suster Silitonga adalah Ringo (rambut putih )Penulis artikel ini
Jakarta, Mei, Liputan Nusantar (LN), Manajemen konflik adalah cara kita mengelola situasi yang penuh perselisihan agar semua pihak bisa mencapai solusi yang saling menguntungkan.
Di dalam organisasi atau tim kerja, prinsipnya sama. Manajemen konflik melibatkan keterampilan dalam memahami perbedaan, mendengarkan, dan mencari solusi yang memuaskan semua pihak.
Demikian lah Pelatihan & Kaderisasi (Pekad) gereja Kampung sawah Paroki Santo Servatius – Bekasi, melakukan Pelatihan dan Kaderisasi, bagi kandidat pelayan untuk melayani Umat gereja, sebagai bentuk pelayanan , sehingga di perlukan pembekalan untuk pelayan gereja membantu pastora dalam menyampaikan kabar gembira kepada umat.

Panitia memberi semangat kepada peseta dengan tepuk tangan Pramuka dengan versi dan makna yang betrbeda.

Aryo Baskora Ketua B.P3 sekaligus Dewan Paroki Harian, ( membelaksangi slide memberi pengantar sebelum mulai pekad.
Adapun Topik yang disampaikan oleh nara sumber seperti bapak Purwanto Hadityo adalah , Management konflik dan Team Building.

Purwanto Hadityo nara sumber sedang menyampaikan paparannya.
Mengapa konflik terjadi dalam Pelayanan ?Tanya Purwanto.
Menurut Purwanto Konflik itu wajar, yang menjadi masalah bukan konflik itu sendiri, tetapi bagaiman kita merespon nya ? ujar Purwanto.
Konflik itu normal : Setap kelompok yang dinamis akan mengalami perbedaan pendapat.
Yang dipendam tidak akan hilang : konflik yang tersembunyi semakin meracuni hubungan.
Kesehatan team ditentukan cara mengelolanya, : team sehat ialah team yang bisa
mengatasi konflik dengan baik.
Sumber konflik yang sering trjadi :
1. Perasaan yang tidak diungkap : mersasa tidak dihargai, tidak didengar atau diabaikan
2 Perbedaan cara pandang : setiap orang memiliki latar belakang dan cara berpikir yang
berbeda.
3. Komunikasi yang tidak tuntas : Asumsi , salah paham , setengah informasi sering
memperbesar masalah
konflik bukan selalu tentang hal yang besar, sering akar masalahnya kecil ,tetapi dibiarkan
Dampak konflik yang tidak dikelola : Hubungan retak, Pelayanan terganggu,suasana Jadi tidak sehat, team terpecah , hati menjadi berat bukan hanya melukai hubungan , tetapi juga menghambat tujuan pelayanan yang Tuhan percayakan.
LANGAKAH PRAKTIS MENGELOLA KONFLIK
Dengarkan : Pahami perspektif dan perasaan
Klarifikasi : Pastikan pemahamn yang tepat.
Respon : Cari solusi bersama : seringkali konflik mereda bukan karena masalahnya langsung selesai,tetapi karena cara kita mendengarkan dan merespon yang berubah setiap langkah sama pentingnya tidak ada yang boleh dilewati.
Sikap hati yang membantu;
Rendah hati : siap menggakui kesalahan dan belajar
Empati: berusaha memahami perasaan orang lain.
Adil : tidak memihak , melihat masalah secara objektif.
Pengampuaan : melepasluka agar hati tetap bebas
Kasih : menempatkan hubungan lebih tinggi daripada ego.
Sikap hati yang benar, membuka ruang bagi solusi yang damai.
Contoh Situasi dan cara merepon
Anggota tidak aktif ditegur dan tersinggung:Dengarkan perasaannya,klarifikai maksud teguran respon dan ajakan ( bukan menghakimi)
Perbedaan keputusan dalam kegiatan : Dengarkan semua pendapat,Klarifikasi tujuan bersama,respoin dengan solusi menggabungkan
Dominasi dalam rapat : Dengarkan pihak yang tidak didengar,klarifikasi aturan rapat, respon dengan memberi ruang partiisipasi adil.
Repleksi diri sambung Puwanto Hadityo lagi : jawablah dengan jujur dalam hati,atau tulis di buku catatan anda
1. Bagaimana saya menghadapi Konflik
2. Apa yang membuat saya tertipu ?
3. Perubahan kecil apa yang bisa saya lakukan mulai hari ini ?
“Kesimpulan Damai bukan berarti tidak ada konflik,tetapi, kita memilih penyelesainnya dengan kasih”
Topik kedua : Team Building disampaikan juga oleh Purwanto Hadityo
Team building adalah serangkaian aktivitas atau proses berkelanjutan yang dirancang untuk meningkatkan hubungan, kepercayaan, dan kolaborasi antar anggota kelompok. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan lingkungan kerja yang positif dan harmonis untuk mencapai tujuan bersama
Dalam paparannya Purwanto Hadityo menjelaskan : Team Building Membentuk dan Menguatkan Tim Pelayanan
Satu Tujuan , Jelas Peran dan kuat Bersama
Gereja Katolik St. Servatius Kampung Sawah
“Tim Impian”
Pertanyaan 1, Pernahkah Anda diminta membentuk tim atau menjadi pengurus? Apa yang Anda rasakan saat itu?
Pertanyaan 2, Pernahkah Anda menolak saat diajak menjadi pengurus? Apa alasannya?
Tantangan Nyata: Membentuk Tim dalam Pelayanan : Mengapa membentuk tim itu begitu sulit? Apa yang sesungguhnya menghalangi kita?
Tiga Akar Masalah Mengapa membentuk tim dalam pelayanan begitu sulit? Kenali tiga hambatan utama yang paling sering muncul.
01 — Jabatan = Beban Contoh: Orang mendengar “sekretaris” dan langsung membayangkan tumpukan tugas yang berat dan tanpa batas.
02 — Tidak Ada Tangga Lompatan dari “anggota biasa” ke “pengurus resmi” terlalu jauh dan menakutkan tidak ada jenjang bertahap.
03 — Menanggung Sendiri : Ketua mengerjakan semuanya sendirian, menciptakan efek jera bagi yang lain
yang menyaksikannya.
AKAR MASALAH 1 Jabatan Dipersepsikan Sebagai Beban
1 Mendengar “sekretaris” atau “bendahara” dan langsung membayangkan tumpukan tugas tanpa akhir.
2 Pengalaman melihat pengurus lama yang kelelahan menjadi efek jera yang kuat.
3 Tidak ada gambaran jelas tentang apa yang sebenarnya akan dikerjakan dan berapa lama.
4 Persepsi: menjadi pengurus = kehilangan waktu pribadi tanpa batas.
“Mereka bukan tidak mau melayani. Mereka takut dengan beban yang mereka bayangkan.”
AKAR MASALAH 2 Tidak Ada Tangga Keterlibatan:
Cara Lama: Lompatan Terlalu Jauh 1) Pilihan yang ditawarkan terlalu biner: jadi pengurus atau tidak sama sekali.2) Tidak ada jenjang bertahap yang membangun kepercayaan diri secara organik. 3) Baru 6 bulan aktif, sudah diminta jadi wakil ketua — tentu ragu! Bukan tidak mau, tapi merasa belum siap.
AKAR MASALAH 3 Pengurus Menanggung Terlalu Banyak Sendiri Lingkaran Setan “Orang lain melihat dan berpikir: Saya tidak mau seperti itu.” Makin sedikit yang mau bergabung → Makin berat beban ketua → Semakin menakutkan bagi yang melihat → Makin sedikit yang mau bergabung. Ketua Kerja Sendiri Kembali ke Ketua Beban Makin Berat ,Makin Sedikit Bergabung
Bukan tidak mau, tapi merasa belum siap.
SESI 3 . Seni Mengundang & Membangun Tim: Empat pendekatan kunci yang mengubah cara kita membentuk tim pelayanan – dari sekadar mengisi posisi, menjadi memanggil orang pada panggilan sejati mereka.
PENDEKATAN 1 Dari “Mengisi Jabatan” ke “Memanggil Berdasarkan Karunia”
Cara Lama “Bu Ani, mau jadi sekretaris seksi?” Langsung ke jabatan, tanpa konteks, tanpa afirmasi, tanpa batasan yang jelas.
Cara Baru “Saya lihat Ibu selalu teliti. Kami butuh seseorang yang pastikan semua tahu jadwal. Cukup WA seminggu sekali. Saya damping
1. Afirmasi Kekuatan
2. Undangan Spesifik
3. Batasan Jela
4. Jaminan Dukungan
PENDEKATAN 2 Tangga Keterlibatan:
Keterlibatan tidak harus langsung besar. Setiap anak tangga membangun kepercayaan diri dan rasa memiliki — dari hadir hingga memimpin.
1.Partisipan : Ikut kegiatan, hadir saat diundang Kontributor Proyek
2.‘Kontributor Proyek : Membantu di satu kegiatan tertentu
3.Pemimpin Kegiatan : Mengkoordinasi satu acara spesifik
4.Pengurus : Komitmen struktural dengan peran jelas
PENDEKATAN 3 Desain yang bermakna dan ringan : Membagi peran besar menjadi beberapaperan kecil membuat keterlibatan merasa ringan tanpa mengorbankan organisasi
Sebelum : – 1 Seklretarismenanggung semua hal sendiri : Notulen rapat,Surat meyurat,daftar hadir, kordinsi jadwal dan Laporan kegiatan.
Sesudah : _ tiga orang masing-masing ringan :grup kirim pengingat di WA, Pencatat Pertemuan :notulen singkat tiap rapat; Pengurus kehadiran , daftar hadir dan kordinasi.
Fumgsi terpenuhi tapi tak satupun yang menangung semuanya.
PENDEKATAN KE 4 Kontrak Keterlibatan
– Batas Waktu “Berapa lama?” — Misalnya: 2 tahun, dengan evaluasi setiap 6 bulan. Komitmen yang terukur lebih mudah dijaga.
– Batas Tugas “Apa saja?” — Daftar tugas yang jelas dan spesifik, bukan “semua hal”. Ruang lingkup yang tegas mencegah kelelahan.
– Jaminan Dukungan “Siapa yang mendampingi?” — Ada mentor, ada tempat bertanya. Tidak ada yang berjalan sendirian.
Paradoks: Orang yang terlibat dengan batas yang jelas justru sering bersedia memperpanjang — karena mereka merasa dihargai, bukan dieksploitasi.
Praktik Mengundang : Skenario: Anda adalah ketua lingkungan/seksi. Ada seorang warga yang punya potensi tapi selalu menolak diajak menjadi pengurus. Gunakan 4 pendekatan yang baru dipelajari untuk mengajaknya.
SESI 4 Menguatkan Tim: Kunci, Prinsip, dan Siklus : Setelah tim terbentuk,
Dalan sesi ke 4 ini, Purwanto menjelaskan bagaimana merawat dan menguatkannya? Sesi ini mengajak kita melihat fondasi tim pelayanan yang sehat dan berkelanjutan.
Tiga Kunci Tim Pelayanan yang Sehat
Kunci 1 — Arah yang Sama : Semua memahami tujuan bersama dan bergerak ke arah itu. Visi yang sama
menyatukan langkah dan mencegah konflik arah.
Kunci 2 — Peran yang Jelas : Setiap orang tahu tanggung jawabnya dan saling melengkapi. Tidak ada
tumpang tindih, tidak ada kekosongan peran.
Kunci 3 — Rasa Memiliki : Setiap orang merasa “ini bagian saya.” Keberhasilan tim menjadi kebanggaan
bersama yang mendorong keterlibatan lebih dalam.
4 Prinsip Dasar team Building Lebihlanjut Purwanto menjelaskan n 4 Prinsip dasar n team Building yaitu :
1. Komunikasi Terbuka : Berbagi dengan jujur, mendengar dengan sungguh. Ruang yang aman untuk bersuara adalah fondasi tim yang kuat.
2. Saling Percaya : Memberi kepercayaan dan menjaga kepercayaan. Tanpa kepercayaan,
kolaborasi hanya basa-basi.
3. Mendukung Satu Sama lain : Tumbuh bersama, bukan bersaing. Kekuatan tim lahir dari
kesediaan saling menopang, terutama saat sulit.
4. Menghargai perbedaan : Setiap orang unik dan dibutuhkan.perbedaan latar belakang dan cara berpikir adalah aset, bukan hambatan.
Ciri-ciri team Yang sehat :Komunikasi lancar, Tujuan jelas,tanggung jawab nyata,masalah dibicarakan, saling mendukung dan merayakan
.Dua sisi refleksi sebagai pembentuk team dan sebagai anggota team : Apakah saya sudah adil membagi perandenga adil ? , apakah ada anggota yang terbebani atau tdk dilibatkan ?
Sebagai anggota team : Apakah saya sdh menjalankan peran saya dengan sepenuh hati? Dimana saya bisa tumbuh lebih lagi ?
Action Plan :satu langkah kongkrit yang akan saya ambil dalam 7 hari kedepan untuk memperkuat keterlibatan dalam komunitas saya
“ Kita tidak dipanggil utk bekerja sendiri ,tetapi menjadi satu tubuh ‘Satu tujuan,( 1 Korintus 12 : 27
Satu tujuan Jelas peran , kuat bersama (Ring-o).
[19.54, 12/5/2026] Ringo: Dokumen Pekad
















