Sekolah lansia Servatius berfoto dulu sebelum kuliah umum dimulai dari seluruh paroki dekenat Bekasi di Unkris Jatiwaringin
Jakarta, Mei, Liputan Nusantara (LN),Sekolah Lansia merupakan pendidikan non formal sebagai bagian dari upaya Long Life Education (pendidikann sepanjang hayat).Penulis merupakan salah seorang peserta sekolah lansia berasal dari gereja Kampung sawah paroki Santo Servatius, yang Setiap kali, mengikuti sekolah lansia selalu publikasikan ke media Liputan Nusantara, termasuk Kuliah umum hari ini (Selasa 5 Mei ) yang digabung dari tiga Kecamatan : kecamatan Pondok Gede, Pondok Melati dan Jatisampurna di Kampus Unkris Jatiwaringin-Bekasi,Selasa 5 Mei 26 kemarin.

Kuliah umum ini mengambil topik “Menua bersama atau berpisah ditengah jalan”? yang nara sumbernya ialah Wiwiek Margono ,istri Walikota Bekasi.
Dalam paparannya, Wiwiek mengatakan Memahami fenomena Grey Divorce ( perceraian abu-abu ) dan membangun kembali pernikahan diusia senja.
Menurut wiwiek Margono yang ketua TP.PKK kota Bekasi ini menjelaskan bahwa perceraian yang terjadi pada pasangan usia lanjut (50 tahun keatas ) setelah menjalani pernikahan dalam jangka lama umur duapuluh tahun atau lebih.

Peserta dari Santo Servatius.duduk paling depan pegang tas kuning penulis artikel di Liputan Nusantara
Seiring meningkatnya usia harapan hidup individu,memandang usia 50 – 60 tahun bukan sebagai akhir melainkan kesempatan kedua untuk mencari kebahagian jika fundasi pernikahan sudah tidak lagi sehat, ujar Wiwiek Hargono yang juga Ketua Dekranasda Kota Bekasi Periode 2025-2030 ini.
Menurutnya ada 88985 kasus perceraian tercatat di Jawa Barat pada tahun 2024 (data BPS 2024/2025), mempertahankannya sebagai provinsi dengan angka tertinggi. Pengadilan agama Bekasi mencatat faktor ekonomi dan perselisihan terus menerus sebagai pemicu dominan yang meruntuhkan struktur pernikahan local ujar Wiwiek.
Mengapa Grey Divorcece berbeda ?( Perceraian abu-abu)tanyanya.
Menurut Wiwiek yang menjadi Ketua TP. PKK Kota Bekasi Periode 2025-2030 ini, mengatakan ada Dua wajah Perceraian
Perceraian usia produktif (20-35 Tahun ) Grey Divorces (50 tahun keatas)
Perceraian usia produktif (20-35 Tahun ) Grey Divorces (50 tahun keatas)
Pemicu utama Membangun Fondasi hidup awal (Karir dan rumah) Identitas yang memudar dan perbedaan visi sisa hidup
Peran anak Fokus pada hak asuh & pertumbuhan Sindrom sarang kosong
Ancaman Psikologis Kegagalan ekspektasi awal Rasa kesepian diakhir hayat
Selanjutnya Wiwiek Margono menjelaskan terkait
Arsitektur Keretakan : ada empat pemicu utama ujar Wiwiek Margono yang juga menjadi Ketua PUSPAGA(Pusat Pembelajaran Keluarga) Kota Bekasi, yaitu :
1. Sindrom Sarang Kosong :Menyadari bahwa anak adalah perekat hubungan selama ini.
2. Perbedaan Visi Pensiun : Gerakan harian satu pihak yang ingin aktif berkegiatan sosial versus pihak yang ingin istirahat total
3. Perbedaan visi pensiun : Istri kini memiliki aset atau dukungan anak memberikan mereka daya untuk meninggalkan pernikahan yang tidak bahagia.
4. Kebosanan akut : Akumulah dari kurangnya komunikasi selama puluhan tahun yang meledak saat usia senja.
Disisi lain Wiwiek mengatakan Merenovasi Fondasi : Dari Ancaman menjadi Peluang
ANCAMAN PELUANG
Sarang Kosong Ruang untuk Rekoneksi intim waktu berdua yang selama ini hilang kini tersedia penuh.
Gesekan visi Pensiun Merancang babak kedua bersama kompromi untuk menggabungkan waktu istirahat & aktivitas sosisl
Kemandirian Finansial Kemitraan yang setara bukan alasan utk berpisah melainkan kekuatan utk hidup mandiri tanpa beban Finasial.
Cetak Biru Pencegahan Puspaga ( Pusat Pembelajaran Keluarga) Kota Bekasi
Pusat Pem belajaran Keluarga diawali dari Konseling pra-pensiun, dilanjutkan dengN Rekoneksi pasangan dan Mediasi berbasis kearifan lokal
Konseling Pra-Pensiun :membangun kesiapan mental dan menyelaraskan ekspektasi sebelum menghadapi usai berhenti bekerja.
Rekoneksi pasangan: Program edukasi terarah Untuk menghidupkan kembali komunikasi intim dan empati pada pasangan senior.
Mediasi Berbasis Kearifan Lokal : Intervensi struktural yang mengedepankan musyawarah /mufakat keluarga sebagai garda yerahir sebelum menempuh jalur pengadilan
topic “Persiapan Psikososial dan Kesehatan Terkait dengan Datangnya Masa LANSIA & Pensiun”
Pembicara kedua adalah , Dra. Tika Bisono, MPsiT, psi dengan topic “Persiapan Psikososial dan Kesehatan Terkait dengan Datangnya Masa LANSIA & Pensiun”
Dalam paparannya, Tika Bisono menjelaskan bahwa Perkembangan Psikososial (Erik Erikson) sebagai berikut :
Lebih lanjut Tika mengatakan Situasi Saat Ini Lupa mempersiapkan diri tatkala sudah masuk usia lansia
Lupa siapkan diri ketika tidak lagi menjadi karyawan, sehingga muncullah kekhawatiran seseorang menjelang usia pensiun dan lansia
Khawatir akan tidak ada lagi pemasukan untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan masa depan yang tidak menentu
Turunnya sikap mental positif lanjut Tika , merasa tidak lagi memiliki jabatan dan penghasilan tetap sehingga menurunnya penghormatan dan kepercayaan diri, serta kesehatan yang memburuk sehingga mengakibatkan stress
Banyak orang usia MPP dan lansia sambungnya lagi, mulai mengalami stres.
Seberapapun mampunya seseorang dalam menghadapi kondisi naik turunnya kehidupan, pada saat mencapai titik tertentu, maka akan masuk kedalam situasi stres dan bahkan krisis emosional.
Lebih lanjut Tika mengatakan Situasi Saat Ini Lupa mempersiapkan diri tatkala sudah masuk usia lansia
Lupa siapkan diri ketika tidak lagi menjadi karyawan, sehingga muncullah kekhawatiran seseorang menjelang usia pensiun dan lansia
Khawatir akan tidak ada lagi pemasukan untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan masa depan yang tidak menentu
Turunnya sikap mental positif lanjut Tika , merasa tidak lagi memiliki jabatan dan penghasilan tetap sehingga menurunnya penghormatan dan kepercayaan diri, serta kesehatan yang memburuk
sehingga mengakibatkan stress
Di dunia pekerjaan, penyebab timbulnya stres:
– banyaknya beban pekerjaan, – hubungan atasan bawahan, – hubungan antar karyawan, – peraturan perusahaan, – persoalan pribadi/keluarga, – hubungan dengan pihak luar, – hadirnya orang baru, – ketidaksesuaian penempatan kerja- memasuki PENSIUN dan masih banyak lagi.
Lebih lanjut Tika Bisono menjelaskan The Storm of Life( badai kehidupan )
Tapi badai yang datang sambungnya lagi, kemungkinan bisa dapat diramal, atau memberikan gambaran berupa peringatan, agar tidak mengganggu rencana dan gaya hidup. Badai dapat dihadapi dan disiasati
Kurang/tidak terjaganya keseimbangan fisik dan emosional dalam perjalanan hidup, yang selalu mengalami berbagai perubahan.
Perubahan yang normal adalah baik bagi kita untuk membuat agar hidup itu termotivasi dan menarik.
Namun bila menjadi sangat besar, maka kapasitas kita dalam mengadaptasi perubahan juga harus menjadi lebih besar juga.
KRISIS ……tidak (selalu) buruk
Krisis atau stres dapat menjadi titik balik dalam hidup untuk keadaan yang lebih baik
Memberikan kekuatan dan inspirasi Harus dihadapi dengan : – keberanian, – kesantunan, – keanggunan, – kekreatifan, – keyakinan dan – kearifan
Refleksi Rasa Takut
Sebenarnya, rasa kuatir, galau dan keresahan kata Tika Bisono adalah refleksi ,sebagian dari perasaan kita, yang dibayangi oleh satu hal yaitu : Rasa takut.Rasa takut itu lanjut Tika ,timbul dari Tekanan untuk berhasil/berprestasi, Dikritik, Kesendirian/kesepian, Proteksi yang berlebihan/over protection
Waspada Post Power Syndrome atau kondisi psikologis berupa krisis identitas
Suatu keadaan dimana seseorang hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karir, kecantikan/ketampanan, kecerdasan dll) dan seakan akan tidak dapat memandang realita yang ada pada saat ini
Adapun Gejala Post Power Syndrome, dapat berupa Kurang bersemangat, Mudah marah terhadap hal-hal sepele, Semakin tidak suka dibantah, Apabila bercanda tertawanya berlebihan, Pemurung dan mudah bersedih hati, Lebih pendiam, Suka memamerkan kehebatan dan penghargaan atas yang ia dapatkan di masa lalunya secara berulang-ulang. Hindari Post Power Syndrome
Bagaimana menghindari Post Power Syndrome ?menurut Tika Tanamkan bahwa pensiun adalah sesuatu yang wajar dimana orangtua pada saatnya harus memberikan kepercayaan kepada yang lebih muda.
Persiapkan tabungan dengan matang dan sebaik-baiknya, dan memikirkan rencana investasi jangka panjang dengan resiko yang kecil, karena pada prinsipnya suatu investasi pasti memiliki resiko.
Selain itu lanjutnya lagi, Selalu berkomunikasi dan berhubungan baik dengan siapa saja tanpa memandang apakah itu atasan maupun bawahan. Sehingga ketika kita pensiun, masih banyak teman.
Jangan pernah membanggakan pekerjaan maupun jabatan yang pernah dipegang secara berlebihan.
Perencanaan Kehidupan Lansia Setelah Pensiun
1. Pekerjaan : Rencanakan dan persiapkan masa depan kita apa yang akan dilakukan setelah pensiun (sebelum MPP), pertimbangkan peran apa yang ingin dimainkan nantinya, misalnya kerja paruh waktu, menjadi konsultan, atau mencoba karir baru.
Mendapatkan pendapatan yang rutin, juga dapat membantu kita tetap merasa berguna bagi sesame
2. Warisan : Warisan yang dimaksud tidak hanya bagi keturunan saja tetapi juga bagi masyarakat.
Tanyakan kepada diri sendiri, “Bagaimana saya dapat berkontribusi untuk menjadikan Bumi ini tempat yang lebih baik bagi sesama?”
Banyak studi telah menunjukkan bahwa orang-orang paling bahagia di dunia adalah mereka yang berkomitmen untuk membantu orang lain.
Pertimbangkan kerja sebagai relawan, misalnya mengajar di sekolah atau menghibur pasien di rumah sakit.
Bagikan tenaga, waktu, pengetahuan, kebijaksanaan, dan semangat hidup kita secara cuma-cuma kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita.
3. Tempat Tinggal : Pertimbangkan untuk pindah ke rumah yang lebih kecil atau membangun rumah impian kita.
Pertimbangkan rumah yang aman bagi kesehatan kita di masa depan, yang dapat mengakomodasi keterbatasan fisik jika kita jatuh sakit nantinya
Ada baiknya tinggal di rumah satu lantai yang lega alih-alih tinggal di rumah dua lantai dengan banyak perabot).
Pertimbangkan juga untuk tinggal dekat dengan anak-anak kita. Selain memudahkan hubungan silahturahmi tetap terjaga, kita juga akan memudahkan akses bagi anak-anak untuk merawat kita sekiranya jatuh sakit kelak.
4. Waktu Luang : Rencanakan untuk menggunakan waktu luang kita dengan hobi dan minat yang selama ini dilakukan atau yang sama sekali baru.
Orang yang kekurangan hobi dan minat ketika pensiun sering kali akan menjadi cepat bosan dan depresi.
Sangat penting untuk tetap aktif, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental
5. Kesehatan : Buat gol jangka pendek, menengah, dan panjang tentang kesehatan kita.
Cobalah berhenti merokok dan mengurangi minum minuman tidak sehat
Berolahraga sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuh kita
Cobalah melakukan General Check Up dan konsultasikan kepada dokter untuk meminta masukan tentang hidup sehat mulai dari kondisi saat ini.
Penelitian : bahwa otak manusia merupakan pusat kontrol segala seuatu yang terjadi dalam diri kita, untuk itu perlu tetap mengasah
6. Perencanaan Keuangan : Cobalah rencanakan keuangan untuk mewujudkan masa pensiun impian kita sehingga menjadi lebih mudah dan terarah.
Pertimbangkan untuk menyewa jasa perencana keuangan untuk mengembangkan rencana keuangan jangka panjang.
Pastikan kita memiliki asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, dan asuransi properti.
Pastikan pula kita memiliki pemasukan yang stabil dan berkelanjutan, misalnya dengan menyewakan properti, berinvestasi, atau memiliki saham di perusahaan terpercaya
Selanjutnya cara-cara untuk menghindari caracara Stres,
Jangan menghindar dari interaksi sosial
Bila sedang marah, upayakan agar marah tersebut konstruktif dan mengacu pada solusi
Menekankan pada pikiran pada hal-hal yang positif
Jujurlah pada perasaan yang dirasakan
Upaya untuk mengerem diri dari berbagai beban pekerjaan yang berlebihan.
Pelatihan pernafasan (sport, yoga),Berikanlah waktu untuk diri beristirahatBuatlah waktu khusus untuk cuti, Upayakanlah untuk tidur dengan baik dan benar
Sedangkan Cara-cara untuk menyelesaikan Stres adalah : Terapi aroma,Terapi pijat,Minum atau makan vitamin sesuai dengan porsinya, Udara segarBernafas dalam / diafragmatik,Meditasi (centering, yoga, t’aichi, Dan juga Berdoa dan spiritualitas,Berbicara dengan orang yang menyamankan,Humor,Visualisasi masa depan atau keberhasilan dimana otak kita akan mengingat kembali hal-hal yang menyenangkan
Guided imagery dan Berbicara sendiri baik yang bernada positif maupun negative
Tetap etis dalam menghadapi dan menyelesaikan krisis
Bahwa munculnya sebuah krisis disebabkan oleh perilaku manusia Solusi jauh lebih penting daripada krisis itu sendiri
Jangan terjebak dalam pembahasan Akibat, tapi Penyebab
Berlatih untuk menjadi Pemaaf (Ring-o)
There’s always a Second Chance ( selalu ada kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik)
Pensiun?…..Lansia? “Siapa takut?”….
If I Think( jika menurut saya ) I Can, I Can…..!
















