Humbahas,Liputannusantara.id-Masyarakat meminta Dinas PertanianTurun langsung memeriksa Dan Mengawasi.
Harapan besar masyarakat Desa Parsingguran I, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Selasa (6/10/2026).
terhadap proyek irigasi perpompaan yang dibiayai anggaran negara senilai Rp153 juta kini berubah menjadi kekhawatiran mendalam. Alih-alih melihat pembangunan yang rapi, kokoh, dan berkualitas, warga justru mendapati pengerjaan yang dinilai terburu-buru, tidak terencana dengan baik, serta berisiko membahayakan struktur bangunan itu sendiri.
Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang jelas di lokasi, kegiatan ini resmi tercatat sebagai berikut:
Kegiatan: Pekerjaan Konstruksi Irigasi Perpompaan
Nomor Kontrak: 40/IRPOM/SPK/PPK/IV/2026
Lokasi: Desa Parsingguran I, Kecamatan Pollung
Nilai Pekerjaan: Rp153.000.000,00 (Seratus lima puluh tiga juta rupiah)
Pelaksana: UPK Kelompok Tani Saoloan
Pimpinan Pelaksana: (Ketua Kelompok Tani Saoloan)
Metode Pelaksanaan: Swakelola
Sumber Dana: APBN TP-DITJEN LAHAN DAN IRIGASI TA.2026.
Waktu Pelaksanaan: April s.d. Desember 2026
Angka yang tidak sedikit ini diharapkan mampu membangun fasilitas irigasi yang tahan lama, efisien, dan dapat menopang kebutuhan air ribuan hektar lahan pertanian warga. Namun, peninjauan langsung di lapangan pada awal 6 Oktober 2026 memperlihatkan realitas yang jauh dari harapan.

Kualitas Pekerjaan Dipertanyakan, Struktur Bangunan Terancam
Dari hasil pantauan langsung, sejumlah temuan mencolok menjadi kekhawatiran bersama:
Pertama, pemasangan pipa utama air yang menembus lantai beton bangunan utama dilakukan tanpa perencanaan teknis yang baik. Lubang yang dibuat terlihat kasar, tepian beton hancur dan retak, serta tidak dirapikan maupun ditutup rapat kembali. Hal ini tidak hanya merusak kekokohan struktur bangunan, tetapi juga membuka celah bagi air hujan maupun air tanah untuk merembes masuk ke dalam bangunan, yang lama-kelamaan dapat menggerus fondasi dan menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
Kedua, bangunan bak penampung dan ruang pompa di bagian bawah dikerjakan dengan sangat tidak rapi. Susunan batu bata terlihat berantakan, tidak tertata rapat, dan lapisan semen penutup belum dihaluskan sama sekali. Di dalam area galian masih terlihat tumpukan sisa bahan bangunan, kain perca, dan sampah yang ditinggalkan begitu saja. Hal ini menimbulkan keraguan: apakah konstruksi ini sudah cukup kuat menahan tekanan air yang akan disimpan?
Ketiga, sistem perpipaan dan katup yang dipasang belum terlihat kokoh. Beberapa sambungan pipa tampak miring dan belum tertanam atau terpasang dengan kuat. Warga khawatir, begitu sistem ini dijalankan dan air mengalir dengan tekanan penuh, sambungan-sambungan tersebut dapat mudah lepas, bocor, atau bahkan rusak, sehingga mengganggu pasokan air ke sawah-sawah warga.
Masyarakat Berharap Dinas Terkait Turun Langsung Memantau
“Kami sangat menginginkan proyek ini berhasil dan bermanfaat bagi kami semua. Kami sudah menunggu lama adanya fasilitas irigasi ini. Namun melihat pengerjaannya seperti ini, kami sungguh cemas. Anggarannya ratusan juta rupiah, yang berasal dari uang rakyat yang dibayarkan melalui pajak, tetapi hasilnya terlihat tidak terencana dan asal jadi,” ujar salah satu warga yang memantau perkembangan proyek setiap harinya.
Masyarakat secara khusus mengharapkan agar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Humbang Hasundutan tidak hanya sekadar menerima laporan tertulis dari pelaksana, melainkan turun langsung ke lokasi untuk memantau, memeriksa, dan mengawasi pembangunan bangunan tersebut secara langsung.
Pengawasan langsung dari pihak dinas dinilai sangat penting agar:
– Seluruh bagian bangunan yang cacat, kurang rapi, atau tidak memenuhi standar segera diperbaiki;
– Pemasangan pipa dan struktur beton diperkuat dan dirapikan agar tidak membahayakan keselamatan serta keawetan bangunan;
– Setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan benar-benar terpakai secara tepat untuk kualitas yang dijanjikan.
Tonny.S
















