Menu

Mode Gelap
Wakapolresta Serang Kota Pimpin Upacara Penganugerahan Tanda Kehormatan Satyalencana Pengabdian  “Sekolah untuk Hidup,atau Hidup untuk Sekolah” ? (pembelajaran Kontekstual ) Polda Banten Gelar KRYD Terpadu, Laga Adhyaksa FC vs Sriwijaya FC Berjalan Kondusif* Beberapa Ruas Jalan Kota Tangerang Ditutup Sementara, Berikut Skema Rekayasa dan Alternatifnya Kapolda dan Kabid Humas, Respon Agus Flores, Agenda Awal Tahun di Polda Jabar BPPKB Banten Tangerang Kota Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir, Demi Rasa Kepedulian Sesama.

Jakarta

 “Sekolah untuk Hidup,atau Hidup untuk Sekolah” ? (pembelajaran Kontekstual )

badge-check


					 “Sekolah untuk Hidup,atau Hidup untuk Sekolah” ? (pembelajaran Kontekstual ) Perbesar

Winarni Siswa Kelas V SD Kanisius Bayat, berbincang dengan seorang petani.

Jakarta, Januari, Liputan Nusantara (LN), Pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak kekurangan, terutama dalam hal keaktifan siswa selama proses belajar-mengajar. Seringkali, guru lebih mendominasi di kelas, baik itu dalam berbicara, memberikan pendapat, atau memberikan ide. Situasi ini dapat menghambat partisipasi aktif siswa dan membuat siswa merasa kurang terlibat dalam pembelajaran.
Masalah ini bisa diatasi dengan menerapkan Contextual Teaching and Learning atau pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi akademik dengan situasi dunia nyata siswa, mendorong mereka membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah proses pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berpusat pada siswa, di mana guru berperan sebagai fasilitator.

Para murid kelas 5 SD Kanisius Bayat melakukan pembelajaran di alam

KUNJUNGAN COLRUYT GROUP BELGIA Saturday, 24 Jan 2026

karakteristik dan komponen utama dari pembelajaran kontekstual adalah,
# Mengaitkan dengan Dunia Nyata: Guru menghubungkan teori pelajaran dengan konteks
pengalaman nyata siswa sehari-hari.
# Aktif dan Kolaboratif: Siswa belajar secara aktif, seringkali dalam kelompok (masyarakat belajar)
untuk saling berbagi ide dan memecahkan masalah bersama.
Pengertian Pembelajaran Kontekstual Menurut Para Ahli (dilansir dari detikedu0
1. Sri Utaminingsih & Naela Khusna Faela Shufa : Pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang menawarkan cara belajar yang menekankan pada makna dan pemahaman yang dalam.

Pembelajaran Kontekstual

Contoh Pembelajaran Kontekstual di SD,

2. Elaine B. Johnson : Pembelajaran kontekstual adalah proses pendidikan yang digunakan untuk menolong anak didik dalam melihat makna suatu pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya. Cara yang dipakai adalah dengan menghubungkan subjek-subjek akademik untuk dipelajari dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Wina Sanjaya : Pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan anak didik secara penuh. Untuk menemukan materi yang dipelajari sehingga mendorong anak didik menerapkan dalam kehidupan nyata.
Winanti murid kelas 5 SD Kanisius Bayat, pada Hari Kamis, 22 Januari 2026. Aku (Winanti) bersiap ke sekolah dengan seragam olahraga, aku berangkat sekolah. Bersama pak guru dan teman – teman, pelajaran olah raga hari ini diisi dengan berjalan santai ke lapangan desa Bogem. Kami berjalan sekitar 2 Km. Sesampai di lapangan, kami senam bersama dan kemudian berlari.
Setelah berolahraga, pak guru mengajak kami melihat-lihat sekitar lapangan. Tampaklah sawah hijau membentang luas; tumbuh tananam padi yang subur. Aku pun melihat pak tani yang sedang mencangkul di sawah. Aku menghampiri dan berbincang sejenak dengan beliau. Dengan ramah beliau pun bercerita bahwa saat ini sedang merawat padi yang baru selesai diberi pupuk dan beliau bercerita tentang banyaknya rumput, gulma penggangu padi yang tumbuh di sawah. Beliau ini adalah mbah Harto Pawiro, dengan nama kecilnya Sagiyo. panggilan akrabnya mbah Giyo. Walau panas terik, beliau tetap semangat merawat tananam padinya. Aku terkesan. Walaupun sudah tua, beliausudah tua, tetap semangat dan sehat ujar Winanti. Tidak mudah bertani di daerah Bogem itu karena sawah di desa Bogem ini termasuk sawah tadah hujan. Jadi mengandalkan hujan untuk pengairannya. Bila butuh air banyak, petani menyedot (ambil) air dari sungai dialirkan dengan selang besar ke sawah dengan bantuan mesin pompa air. Pasti butuh biaya banyak. Maka tak heran bila lewat jalan di sekitar sawah di desa Bogem banyak selang-selang air sepanjang jalan dari sungai ke sawah sambung Winanti lagi.. Sungguh usaha yang tidak mudah dan tidak murah tapi para petani itu tetap semangat dan sabar mengolah sawah demi hasil panen berlimpah. Kenang Winanti,
Usai dari sawah dilanjutkan mengunjungi kebun melon di dekat lapangan. Kebun ini milik “bumdes” (Badan usaha milik desa) di desa Bogem. Kulihat tananam melon tertata rapi dan bersih kata Winanti. Ada 4 lokasi kebun yang ditanami melon, tapi hanya ada 1 kebun yang siap dipanen. Kulihat tananam melon yang tumbuh subur, berbuah besar. Ada yang berwarna hijau dan berwarna kuning. Senang hatiku melihatnya.
Istimewanya Kebun melon ini memakai teknik hidroponik dan pupuk organik. Terbayang rasa manis dan segarnya buah melon ini. Buah melon di sini harganya memang lebih mahal dari yang dijual di pasar karena pupuk organik membuat melon lebih sehat, lebih manis dan segar. Dan perawatan yang lebih teliti diperlukan, maka wajar saja jika harganya mahal.
Selesai kunjungan tersebut, kami pulang ke sekolah dan tak lupa menikmati buah melon yang pak guru beli. Manis dan segar rasanya. Perjalanan hari ini memberikan pelajaran merawat alam berarti merawat.
Penulis teringat waktu aktif mengjar di SMP Santo Lukas,( 1981 – 2010) pernah menerapkan pembelajaran Kontekstual. Cuma saya menyebutnya Study lapangan.karena belajar itu tidak hanya berada di ruang kelas, tapi bisa juga dluar kelas ( lapangan) yang waktu itu Sudy lapangan ke berbagai instansi, misalnya ke Kantor DPR dengan menyesuaikan dengan pokon bahasan yang sedang diajarkan disekolah. Misalnya, pokok bahasan terkait dengan tugas dan fungsi DPR, demikian juga ke lembanga Pemilihan umum (KPU) dengan pokok bahasan Pemilu, Jadi para siswa dengan nara sumber, terjadi komunikasi dua arah (interaktif). Para siswapun senang ikut ke lembga pemerintah dah dapat berinteraksi dengn nara sumber.Demikian ke lembag lainnya, ( kurang lebih ada 7 Instansi Pemerintah) tempat mengadakan study lapangan.
Selamat buat SD Kanisius Bayat telah mendapat bimbimgan pembelajaran Kontekstual, sekaligus menjadi kaderisasi anak bangsa. (Ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

 “Launcing Sekolah Lansia Kasih Untuk Negeri (KUN) Sabtu ,24 Januari 2026 di Balai Patriot Bekas

26 Januari 2026 - 12:42 WIB

“Pemerintah Pusat Mencabut 28 Perusahaan yang diduga mengakibatkan, banjir bandang dan longsor di Sumatera pada bulan November 2025 melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam Konferensi Pers di Istana Kepresidenan

22 Januari 2026 - 08:03 WIB

Buka Usaha Atau Bangun rumah Kluster /minimalis ?

21 Januari 2026 - 10:51 WIB

“Bona Taon Pomparan Op. Guru Bandailing Siringoringo Se-Jabodetabek Semakin memperkuat Persatuan berdasarkan Kasih, Minggu 18 Januari 2026 Di Gedung Sejahtera Jakarta Timur”

20 Januari 2026 - 12:12 WIB

” Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memahami Konten Pembelajaran dan Cara Mengajarkan Literasi Di SDN 01 Kartini

16 Januari 2026 - 00:13 WIB

Trending di Jakarta