Menu

Mode Gelap
Lomba Paduan Suara Tingkat SMP Oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung “Kisah Greta Thunberg, Remaja yang menantangPemimpin Dunia di Konferensi Perubahan Iklim     COP’ 25” Komplotan Pencuri Motor Roda Tiga Digulung Resmob Polres Metro Tangerang Kota PEMBANGUNAN PAPINK BLOK DI DUGA ASAL-ASALAN TANPA DI LENGKAPI SURAT-SURAT YANG SAH DARI PEMILIK TANAH YANG KENA DAMPAK PEMBANGUNAN TERSEBUT Tim Reskrim Cipondoh Tangkap Dua Spesialis Curanmor Bersenjata Kunci T Dua Pemetik Motor asal Lampung Berhasil Ditangkap, Sudah Ratusan Kali Beraksi

Jakarta

“Kisah Greta Thunberg, Remaja yang menantangPemimpin Dunia di Konferensi Perubahan Iklim     COP’ 25”

badge-check


					“Kisah Greta Thunberg, Remaja yang menantangPemimpin Dunia di Konferensi Perubahan Iklim     COP’ 25” Perbesar

GRETA THURNBERG BERJUMPA PAUS FRANSISKUS

Jakarrta, November, Liputan Nusantara (LN), Iklim adalah rata-rata kondisi cuaca suatu wilayah dalam jangka panjang (sekitar 30 tahun atau lebih). COP merupakan Conference of Parties” (Konferensi Para Pihak); dalam hal ini, para pihak datang dari seluruh dunia, setiap tahun, untuk bertemu langsung dan, membahas berbagai hal. Sebagai analogi, COP bagaikan terumbu karang bagi komunitas iklim. Di sinilah (dan kapan) masyarakat sipil, pemerintah, organisasi internasional, bisnis, bankir, dan banyak pihak lain yang bekerja di bidang kebijakan dan sains iklim berkumpul untuk membahas solusi.

Thunberg ditangkap polisi, 19 Juni 2023, karena menolak akan lokasi unjuk rasa di sebuah pelabuhan di Malmö, Swedia.
Greta menyerukan pada pemimpin Uni Eropa untuk melupakan Brexit dan berkonsentrasi pada perubahan iklim.

 

Indonesia, sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia, berada di garis depan perjuangan penurunan suhu bumi. Indonesia secara aktif mengintegrasikan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), sebagai pilar utama untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC). “Mekanisme NEK menawarkan peluang luar biasa untuk mengalirkan investasi hijau dari sektor swasta global  yang dibutuhkan untuk mitigasi dan adaptasi. (Sebagaimana penulis publikasikan di media Liputan Nusantara (LN) ini, edisi November’24 dibawah judul “DI BALIK PELUANG PENDANAAN IKLIM DAN KEJAHATAN KARBON” ) yang memberitakan bahwa Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 melalui upayanya sendiri dan sebesar 41% dengan dukungan kerja sama internasional.

Greta telah dianugerahi berbagai macam penghargaan dan menjadi salah satu kandidat termuda untuk menerima Nobel Peace Prize.

 

Siapakah sebenarnya Greta hunberg itu ? sebagaimana penulis angkat dalam sebuah artikel di media ini  berjudul “GRETA THURNBERG BERJUMPA PAUS FRANSISKUS”.Greta Thunberg telah menjadi ikon global dalam gerakan melawan perubahan iklim. Aktivismenya yang dimulai dari aksi mogok sekolah di depan gedung parlemen Swedia telah menarik perhatian dunia dan memobilisasi jutaan orang untuk peduli terhadap krisis iklim. Artikel ini meringkas pemikiran, aktivitas, dan dampak yang telah dihasilkan oleh Greta Thunberg,  perjumpaannya dengan Paus Fransiskus.

Perjumpaan dengan Paus Fransiskus

Salah satu momen penting dalam perjalanan aktivisme Greta Thunberg adalah perjumpaannya dengan Paus Fransiskus. Pada April 2019, Greta bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Perjumpaan ini mempertemukan dua tokoh yang sangat peduli terhadap isu lingkungan, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.

Paus Fransiskus sendiri dikenal sebagai seorang pemimpin agama yang sangat vokal dalam isu-isu lingkungan, terutama setelah menerbitkan ensiklik Laudato Si’ pada tahun 2015, yang membahas tentang perlindungan terhadap bumi sebagai “rumah bersama”.

Dalam pertemuan tersebut, Paus Fransiskus memberikan dukungannya terhadap gerakan yang dipimpin oleh Greta. Ia memuji upayanya dalam meningkatkan kesadaran global tentang perubahan iklim dan menekankan pentingnya terus berjuang untuk lingkungan. Greta, di sisi lain, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan tersebut dan memberikan hadiah simbolis berupa poster bertuliskan “Join the Climate Strike,” yang menunjukkan ajakan kepada semua orang, termasuk tokoh agama, untuk terlibat dalam perjuangan melawan perubahan iklim.

Perjumpaan ini tidak hanya penting karena mendatangkan dukungan moral dari salah satu pemimpin agama paling berpengaruh di dunia, tetapi juga karena menunjukkan bagaimana isu perubahan iklim melampaui batas-batas agama, budaya, dan politik. Dukungan dari Paus Fransiskus membantu melegitimasi gerakan yang dipimpin oleh Greta di mata berbagai kalangan, termasuk komunitas-komunitas yang mungkin sebelumnya tidak terlibat aktif dalam diskusi lingkungan.

Dampak dari aktivitas Greta sangat signifikan. Ia telah berhasil membawa isu perubahan iklim ke garis depan diskusi publik dan mempengaruhi kebijakan iklim global. Beberapa negara telah memperbarui komitmen mereka untuk mengurangi emisi karbon dan mempercepat transisi energi. Namun, Greta juga menghadapi kontroversi dan kritik. Beberapa pihak menganggap pendekatannya terlalu simplistis dan emosional, sementara yang lain merasa bahwa ia terlalu fokus pada negara-negara maju, mengabaikan isu-isu lingkungan lain yang juga penting.

Proklim (Program  Kampung Iklim) adalah Program Yang dirancang  untuk mengurangi emisi gas.

Proklim menciptakan pendekatan inovatif melalui kemitraan publik-swasta dalam upaya pengendalian perubahan iklim.Sebagaimana penulis beritakan di  meda ini edisi  November 24 dibawah judul “”DI BALIK PELUANG PENDANA yang sama, edisi  12 Desember 2024 dibawah  judul  ”Komitmen Global dan Aksi Lokal Iklim Indonesia”

Kembali ke judul diatas, Pada 20 Agustus 2018, Greta mengunggah foto dirinya sedang duduk di luar gedung parlemen Swedia, the Riksdag.

Di sampingnya tampak poster berisi kritik dan dorongan bagi otoritas untuk mengambil tindakan terkait perubahan iklim.

Greta Thunberg lahir pada 3 Januari 2003, di Stockholm, Swedia, dari keluarga yang berkecimpung dalam dunia seni dan hiburan. Meski tumbuh dalam keluarga yang terkenal, Greta menghadapi tantangan pribadi, terutama dengan diagnosis sindrom Asperger pada usia 11 tahun. Meskipun kondisi ini sering dianggap sebagai hambatan, Greta menganggapnya sebagai “hadiah” yang memungkinkannya fokus pada isu perubahan iklim dengan cara yang berbeda. Pada usia 15 tahun, Greta memutuskan untuk memulai aksi mogok sekolah sebagai bentuk protes terhadap kurangnya tindakan serius dari pemerintah Swedia terkait perubahan iklim. Aksi ini, yang dikenal dengan “Skolstrejk för klimatet” atau Mogok Sekolah untuk Iklim, segera menarik perhatian global, dan dalam beberapa minggu, gerakan Fridays for Future pun lahir.(Segaimana penulis beritakan di media ini  edisi Agustus “24 dibawah judul, “GRETA THURNBERG BERJUMPA PAUS FRANSISKUS”

Penulis telah menjelaskan  bahwa, Pemikiran Greta Thunberg tentang perubahan iklim berakar pada konsep keadilan iklim dan tanggung jawab moral. Ia sering menekankan bahwa generasi muda akan menanggung beban terbesar dari dampak perubahan iklim, sementara generasi saat ini yang paling banyak berkontribusi terhadap krisis ini, belum mengambil tindakan yang memadai.

Ini menciptakan kesenjangan antar generasi yang mendalam, di mana tanggung jawab dan akibat dari tindakan atau ketidakberdayaan saat ini jatuh pada mereka yang tidak memiliki andil dalam menciptakan masalah tersebut.

Empat hari sebelumnya, ia mengunggah foto diri menggunakan kaos bergambar pesawat dicoret sebagai pernyataan bahwa ia tidak akan menggunakan moda penerbangan demi mengurangi jejak karbonnya. Ia juga merupakan seorang vegan dan meyakinkan orangtuanya untuk berhenti mengonsumsi daging. Di sampingnya tampak poster berisi kritik dan dorongan bagi otoritas untuk mengambil tindakan terkait perubahan iklim.

Baru setahun lalu Greta Thunberg memulai gerakan membolos sekolah demi lingkungan atau ‘School Strike for Climate’.

Dia baru berusia 15 tahun kala itu, tapi sudah memutuskan untuk membolos dan berdemo di depan Parlemen Swedia. Ia menuntut para politisi dunia untuk melakukan lebih banyak hal untuk lingkungan.

Panggung kampanye lingkungan berikutnya adalah Konferensi Perubahan Iklim COP25 di Madrid, Spanyol. Hampir 200 negara berpartisipasi dalam konferensi yang berlangsung selama 12 hari dan bertujuan untuk mencari cara meredam dampak perubahan iklim.

Aktivis lingkungan berharap banyak pada gerakan yang dimulai Greta, yang mereka pikir dapat memberikan daya dorong bagi konferensi yang masih berlangsung itu.

Bagaimana Greta bertranformasi dari remaja aktivis di Swedia menjadi ikon global kampanye perubahan lingkungan?

Pada 20 Agustus 2018, Greta mengunggah foto dirinya sedang duduk di luar gedung parlemen Swedia, the Riksdag.

Di sampingnya tampak poster berisi kritik dan dorongan bagi otoritas untuk mengambil tindakan terkait perubahan iklim. Pada Maret lalu, Greta menjadi salah satu kandidat termuda untuk menerima penghargaan perdamaian Nobel Peace Prize

Greta kemudian bergabung dengan kelompok aktivis Extinction Rebellion di London dan mendorong para aktivis muda lainnya untuk melanjutkan kampanye mereka, perubahan iklim Sumber gambar,AFP

Keterangan gambar,Greta menyerukan pada pemimpin Uni Eropa untuk melupakan Brexit dan berkonsentrasi pada perubahan iklim.

Pada September, ia berseru di konferensi perubahan iklim yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di New York, AS: “Kalian telah mencuri mimpi-mimpi dan masa mudaku dengan janji kosong kalian.”Ini salah. Seharusnya saya tidak berada di sini, Ujar Greta. Seharusnya saya sedang berada di sekolah di belahan dunia lainnya, tapi kalian malah mengandalkan anak muda untuk menjual harapan. Berani-beraninya kalian!” “Kami akan mengawasi kalian,” seru Greta di depan para pemimpin dunia.

Saat Greta dan Trump berpapasan Greta Thunberg Sumber gambar,Reuters

Keterangan gambar,Ekspresi Greta saat berpapasan dengan Trump terekam kamera dan menjadi viral.

Sekitar 60 pemimpin dunia menghadiri pertemuan yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.(Ringo)[

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“HUT Persatuan Guru Republik Indonesia  (PGRI)”

25 November 2025 - 09:10 WIB

” Guru Hebat, Indonesia Kuat”

21 November 2025 - 13:47 WIB

Romo Wartaya, Berkunjung ke T.D.Portogal.

21 November 2025 - 02:09 WIB

“Merawat Rumah Kita Bersama salah satu topik masuk agenda pada SAGKI 2025 di Hotel Mercure Convention Center, Ancol 3-7 November”.

12 November 2025 - 08:34 WIB

Gunungan di  SD Kanisius Bayat, Selasa 4 November 2025

11 November 2025 - 22:44 WIB

Trending di Jakarta