Menu

Mode Gelap
Lapas Jember Gelar Pelatihan Jasa Konstruksi Bagi WBP Dukung PHTC, Ditjenpas Bagikan 500 Paket Makanan Gratis di Jumat Berkah* Subdit Renakta Polda Banten Selamatkan 3 Orang Calon TKW Korban TPPO* Diduga Jual Obat Keras Tanpa izin Edar, di wilayah kalideres dan semanan Warung Kamuflase yang disinyalir menjual obat keras tanpa izin edar Polresta Tangerang Gagalkan Peredaran 22 Gram Sabu, Satu Pengedar Ditangkap* Petugas Lapas Banyuwangi Dapatkan Penguatan Tugas Polsus dari Polda Jatim

Jakarta

” Pentingkah Pendidikan Lingkungan Hidup Sejak Usia Dini” ?

badge-check


					” Pentingkah Pendidikan Lingkungan Hidup Sejak Usia Dini” ? Perbesar

Ekosentrime dan upaya menanggapi krisis lingkungan

Jakarta, Agustus , Liputan Nusantara (LN), Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lingkungan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan unsur hidup dan tak hidup serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia . Sementara semua unsur hidup atau biotik meliputi hewan, tumbuhan, hutan, perikanan, dan burung, unsur tak hidup atau abiotik meliputi air, tanah, sinar matahari, batuan, dan udara.

Menurut KBBI, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memengaruhi kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Secara lebih sederhana, lingkungan hidup mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik alam maupun ciptaan manusia, yang memengaruhi perkembangan kehidupan’

Dari Antroposentrisme ke Ekosentrisme: Membangun Etika Lingkungan dalam Pendidikan Indonesia

Macam-macam lingkungann hidup menurut Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang :

  1. Lingkungan Hidup Alami adalah adalah lingkungan yang terdiri atas unsur abiotik, unsur biotik, organisme kecil, dan segala kondisi yang bekerja secara dinamis tanpa ada campur tangan manusia. Lingkungan ini terbentuk karena proses alam.
  2. Lingkungan Hidup Buatan ialah : lingkungan yang sengaja dibentuk oleh manusia dengan menggunakan teknologi, baik teknologi sederhana maupun teknologi modern, untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dari WAG LSAP sektor pendidikan (Edwin Celemens) 21/8/25, menuliskan Dari Antroposentrisme ke   Ekosentrisme: Membangun Etika Lingkungan dalam Pendidikan Indonesia

Antroposentrisme adalah pandangan filosofis dan etis yang menempatkan manusia sebagai pusat dan paling penting di alam semesta, dan menganggap semua makhluk dan alam lainnya hanya sebagai sarana untuk melayani kepentingan dan kebutuhan manusia. dikutihttps://www.google.com/search )

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ekosentrisme (ˌɛkoʊˈsɛntrɪzəm], dari bahasa Yunani: οἶκος, oikos, “house”; dan κέντρον, kentron, “center”.) adalah istilah yang digunakan dalam filsafat politik ekologi untuk menunjukkan sifat-berpusat, sebagai lawan dari manusia-terpusat, sistem nilai.

Sedangkan Ekosentrisme adalah pandangan dunia filosofis yang menempatkan ekosistem dan seluruh komponennya (baik hidup maupun tidak) sebagai pusat nilai moral, menganggap bahwa semua elemen alam memiliki nilai intrinsik dan setara secara inheren, dan mendorong tindakan yang menjaga integritas serta keseimbangan ekologi secara keseluruhan, bukan hanya kepentingan manusia.

Beberapqa fungsi Lingkungan Hidup antara lain, (1) Sebagai Tempat untuk Mendapatkan Makan,(2) Sebagai Tempat untuk Beraktivitas,(3) Sebagai Tempat untuk Tinggal

Mengutip, zonasi ,id, Pendidikan Indonesia harus bertransformasi menuju paradigma ekosentris untuk membangun etika lingkungan yang berkelanjutan.

Seperti dijelaskan diatas bahwa Antroposentrisme adalah pandangan filosofis dan etis yang menempatkan manusia sebagai pusat dan paling penting di alam semesta, dan menganggap semua makhluk dan alam lainnya hanya sebagai sarana untuk melayani kepentingan dan kebutuhan manusia.

Pendidikan lingkungan sejak usia dini sangat penting

untuk menanamkan kepedulian, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sejak dini, sehingga membentuk karakter yang peduli lingkungan hingga dewasa. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan generasi masa depan yang memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk menghadapi tantangan lingkungan global seperti perubahan iklim dan polusi, serta menumbuhkan etika untuk menjaga kelestarian alam demi masa depan yang berkelanjutan.

Berbicara tentang perubahan iklim, sebagaimana penulis beritakan di media ini, edisi  12/12/’24  dibawah judul   ”Komitmen Global dan Aksi Lokal Iklim Indonesia”secara substansial penulis utarakan bahwa, Indonesia mendapat predikat sebagai negara super power dalam pengendalian perubahan iklim. Hal itu diungkap oleh Alok Sharma Presiden Konferensi Perubahan Iklim Dunia (COP) ke 26 di Glasgow Inggris akhir tahun 2021. Predikat ini menjadi semangat Indonesia untuk terus meningkatkan aksi-aksi iklim demi menjaga suhu bumi tidak meningkat lebih dari 2 derajat.Dikutip dari siaran  PERS Nomor: SP.363/HUMAS/PPIP/HMS.3/12/2022.

Disiswi lain, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Laksmi Dhewanti menyebutkan di tahun 2022 telah terbit dokumen IPCC yang baru Assesment Report (AR6) yang menjelaskan bahwa dampak terhadap lingkungan dan ekosistem akibat kenaikan suhu 2 derajat celcius itu jauh sekali melampaui yang diprediksikan.

Menilik kondisi Global di tahun 2022 tantangan pengendalian perubahan iklim menjadi cukup berat karena terpengaruh berbagai krisis akibat konflik Geopolitik Global. Di tengah kondisi yang kurang baik tersebut. Indonesia tetap dapat menunjukkan komitmen globalnya melalui contoh-contoh nyata (leading by examples) dalam mengatasi perubahan iklim dengan meningkatkan ambisi iklim.

Selanjutnya Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Laksmi Dhewanti mengatakan “ kami akan selalu mengembangkan, memperbaharui, dan memperkuat aksi-aksi iklim melalui seluruh sistem pendukung pengendalian perubahan iklim yang ada di Indonesia melalui koordinasi yang dikepalai oleh Menteri LHK,”

Kembali topick diatas mengapa pendidikan lingkungan hidup penting bagi anak usia dini?

Pendidikan lingkungan jika diterapkan dengan baik maka akan membentuk pembelajar sadar dan peduli pada lingkungan baik disemua usia. Kesadaran, sikap, keterampilan dan partisipasi menjadi poin penting bagi penerapan pendidikan lingkungan.

Apa contoh lingkungan dalam pendidikan anak usia dini?

Lingkungan belajar adalah ruang pengasuhan yang mendukung perkembangan semua anak usia dini. Ruang-ruang tersebut meliputi ruang kelas, ruang bermain, area untuk rutinitas pengasuhan, dan area luar ruangan. Lingkungan belajar adalah lingkungan yang tertata dan terkelola dengan baik

Manfaat Pendidikan Lingkungan

  1. Meningkatkan Kesadaran dan Pengetahuan:
  2. Membantu masyarakat memahami penyebab, dampak, dan solusi dari krisis lingkungan seperti perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
  3. Membentuk Perilaku Berkelanjutan:
  4. Mendorong terbentuknya kebiasaan dan gaya hidup yang ramah lingkungan, seperti menghemat energi dan air, mengurangi sampah, dan mendaur ulang.
  5. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab:
  6. Mengajarkan individu dan komunitas untuk menyadari peran dan tanggung jawab mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pendidikan lingkungan membekali anak-anak dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi masalah lingkungan yang kompleks di masa depan.

Mendorong Etika Lingkungan:

Melalui konsep sederhana seperti daur ulang dan penghematan energi, anak-anak belajar bahwa tindakan sekecil apapun dapat berdampak besar pada lingkungan.

Pendidikan Lingkungan Sejak Usia Dini dalam Perspektif Teologi Pemerdekaan Y.B Mangunwijaya

Di tengah berbagai persoalan kerusakan lingkungan yang sangat masif, tanggung jawab untuk merawat lingkungan perlu ditanamkan melalui pendidikan lingkungan hidup sejak usia dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pendidikan lingkungan hidup di Taman Kanak-kanak Eksperimental Mangunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara untuk mengumpulkan data. Kerangka analisis data menggunakan gagasan Y.B. Mangunwijaya tentang teologi pemerdekaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan hidup melalui praktik merawat lingkungan dan membantu orang-orang miskin merupakan merupakan sarana efektif untuk pengembangan anak-anak secara integral sejak usia dini.

sejalan dengan gagasan Y.B. Mangunwijaya tentang teologi pemerdekaan sebagai gerakan pemekaran diri secara integral. Praktik pembelajaran lingkungan hidup membantu para siswa mengalami relasi kasih persaudaraan dengan sesama, alam, dan Tuhan. Pembelajaran ini mengembangkan karakter peduli, bela rasa dan empati.(ring-o)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Artifisial Inteligens (AI)  di  Mata Para Siswa SMA”

25 Agustus 2025 - 08:31 WIB

“Semarak HUT ke 80 Upacara 17 08 2025 Di Istana Negara”            

21 Agustus 2025 - 01:57 WIB

“Peluncuran dan Lokakarya Panduan Ajaran Agama Serta Buku Rumah Ibadah IRI Indonesia”

20 Agustus 2025 - 08:07 WIB

” HUT Kemerdekaan RI yang ke  d80iselengarakan Oleh Komunitas Lansia Gereja Kampung Sawah   Paroki  Servatius,Jumat 15 Agustus 2025″,

17 Agustus 2025 - 06:38 WIB

” Keep Healthy, Be Happy, and Stay Green (tetap sehat, bahagia,dan tetap lah hijau )

14 Agustus 2025 - 01:55 WIB

Trending di Jakarta